Untuk Anak Perempuanku, Tumbuhlah Menjadi Pribadi yang Percaya Diri - Mommies Daily

Untuk Anak Perempuanku, Tumbuhlah Menjadi Pribadi yang Percaya Diri

Pesan mama, jangan biarkan orang lain yang menentukan seberapa berharga kamu sebagai seorang perempuan, sebagai seorang manusia!

Membesarkan anak perempuan zaman sekarang itu menurut saya lumayan tricky. Di satu sisi, kesetaraan gender, women empowering women dan jumlah perempuan yang semakin berkibar namanya di dunia bisnis maupun politik memang semakin banyak dan kencang digaungkan.

Namun, di sisi lain, hidup di negara yang masih banyak penganut paham patriarkinya membuat ruang gerak perempuan cukup terbatas. Belum lagi tradisi-tradisi di daerah-daerah yang membuat perempuan seolah tak memiliki suara atau sah-sah saja dilecehkan. Rumit. Semacam ada dua standar ganda, ya nggak sih?

Ditambah tekanan di ranah social media yang menuntut kita untuk tampil dan menjalani hidup sesuai tuntutan netizen.

Saya jadi merasa satu hal yang wajib dimiliki oleh anak perempuan saya adalah rasa PERCAYA DIRI. Karena dengan percaya diri, saya berharap anak perempuan saya kelak bisa tahan hidup di dunia yang makin nggak jelas ini, hahaha. Dengan beberapa cara a la saya berikut ini:

Untuk Anak Perempuanku, Tumbuhlah Menjadi Pribadi yang Percaya Diri - Mommies Daily

1. Bantu anak memilih tokoh junjungannya
Di sosial media terutama Instagram, ada jutaan orang yang bisa dijadikan role model oleh si sulung yang sudah masuk remaja. Saya nggak bisa menutup mata akan hal ini. Bahwa saya bukan satu-satunya yang dijadikan role model oleh si sulung, akan ada artis, selebgram, vlogger, youtuber, influencer, dan apalah sebutan lainnya bagi mereka-mereka yang dicintai oleh para netizen. Tugas saya adalah membantu anak saya memilih role model yang tepat.

2. Bantu dia mengerti kalau kadang dia bisa saja diabaikan
Dunia anak remaja itu lumayan sadis. Ada geng-geng-an, ada yang bitchy. Saya pun menyiapkan anak saya menghadapi kekejaman yang mungkin terjadi. Bahwa tidak semua akan menyukai dia. Tidak semua akan mengundang dia ke party, mengajak dia hangout atau bermain bersama. Dan jika itu terjadi, nggak perlu diambil pusing. Karena dia bisa mencari orang lain untuk diajak bersenang-senang. Kalau ada anak perempuan lain being bitchy, yang bermasalah ya anak itu, bukan anak saya. That’s all.

3. Kasih contoh, jangan bisanya hanya merintah atau nyuruh doang
Saya bukan perempuan dengan tubuh bak model atau wajah nyaris sempurna seperti Nadya Hutagalung :D. Saya kecil, pendek, kurus banget, dada rata, rambut kriwil, sudahlah, pokoknya image yang berbeda dengan apa yang ditampilkan oleh iklan-iklan di media. Tapi saya bersyukur, karena ini membuat saya lebih mudah untuk menunjukkan bahwa saya percaya diri dengan apa yang saya miliki saat ini. Saya nggak pernah pusing mau naikin berat badan, membesarkan payudara, atau berandai-andai kalau saja badan saya sekian belas sentimeter lebih tinggi. Setidaknya anak saya yang remaja melihat, bahwa apa yang saya ‘khotbahkan’ sesuai dengan apa yang saya lakukan.

4. Mengajak anak untuk menghargai ketidaksempurnaan yang dimilikinya
Dan nggak pernah bosan mengingatkannya untuk fokus kepada kelebihannya. Anak sulung saya itu blas nggak ada jiwa seninya, beda dengan si adik. Tapi dia jago banget urusan olahraga. Jadi daripada mumet mau hebat di olahraga dan seni, saya minta dia untuk fokus aja di olahraga. Biar seni menjadi tanggung jawab si adik. Kalau semua orang di dunia semua pintar main musik atau nari, nggak kebayang kan betapa membosankannya dunia ini!

5. Bahwa berbuat salah itu adalah hal yang wajar
Perempuan identik dengan stempel “A good girl,” ketika dia melakukan hal yang benar. Jadi, begitu dia melakukan kesalahan, timbul kesan kalau she is not good enough. Show our daughter that mistakes are a normal part of life. Saya sering menceritakan mengenai kesalahan-kesalahan yang pernah saya lakukan dulu, bagaimana kesalahan itu membuat saya belajar dan kemudian menjadikan saya manusia yang lebih hebat. The process of learning through trial and error will build her confidence.”

6. Siapkan dia menghadapi sexism
Dari zaman kuda gigit besi sampai sekarang manusia bisa punya gigi besi, masih ada kok anggapan-anggapan menyedihkan mengenai hal-hal yang katanya laki-laki bisa melakukannya dengan lebih baik dibanding jika perempuan yang melakukannya. Saya tidak pernah bosan menjelaskan hal ini ke anak perempuan saya, bahwa selalu ada diskriminasi terhadap seseorang yang bergantung pada jenis kelamin.


Post Comment