Siapa Bilang Ibu-ibu Nggak Bisa Investasi Saham?

Sekarang ibu-ibu juga bisa mulai belajar main saham. Kalau masih takut bagaimana caranya. Coba deh ikutin beberapa caranya berikut ini.

Memasuki tahun 2018, saya mau mengubah beberapa strategi investasi keluarga. Ada yang berpikir hal yang sama dengan saya? Hihihi. Salah satu pertimbangannya, investasi reksadana di di Bank pilihan saya, sepertinya tidak mendatangkan keuntungan yang signifikan. Soalnya kalau ingat biaya pendidikan yang selangit mahalnya, duuuh, dag dig dug nggak sih, kepikiran “Nanti si kecil bisa sekolah di sekolah yang sesuai dengan cita-cita awal, nggak ya?.”

Siapa Bilang Ibu-ibu Nggak Bisa Investasi Saham? - Mommies Daily

Beruntung, baru-baru ini berkenalan dengan IPOTNEWS.com, website yang menyajikan berita, data, analisis dan grafis di bidang ekonomi. Sesuai sama tagline-nya, “Kompas Para Inestor,” pas saya ulik, kanal yang tersaji di IPOTNEWS sangat beragam. Nah, mommies yang merasa sebagai pemain pemula dan dunia investasi. Silakan klik kanal “Edukasi”, di dalamnya, terdapat kategori: saham, reksadana dan perencanaan keuangan.

Untuk tahap awal, menurut A. Kukuh Karsadi, selaku Pemimpin Redaski IPOTNEWS, menyarankan untuk mengambil jenis investasi reksadana, “Risikonya maupun pilihan produk investasinya kita serahkan kepada manajer investasi. Yang kita anggap pengetahuan dan pengalaman, dan dedikasi yang cukup untuk mengelola dana kita.”

Sekadar informasi, mungkin di antara mommies ada yang masih awam dengan reksadana. Jadi reksadana itu menurut Wikipedia, wadah dan pola pengelolaan dana/modal bagi sekumpulan investor untuk berinvestasi dalam instrumen-instrumen investasi yang tersedia di Pasar dengan cara membeli unit penyertaan reksadana. Dana ini kemudian dikelola oleh Manajer Investasi (MI) ke dalam portofolio investasi, baik berupa saham, obligasi, pasar uang ataupun efek/sekuriti lainnya.

Selanjutnya yang perlu diingat, menurut Pak Kukuh, ibu-ibu yang notabener sebagian berpredikat sebagai investasi pemula jangan terlalu polos. Menyerahkan uang kita bergitu saja, dan pasrah dengan hasilnya. Fasilitas IPOTNEWS, untuk mereka investasi pemula, kita bisa belajar membandingan. Antara reksadana yang satu, dengan reksadana yang lainnya, bagaimana hasil perbulan, 3, 6, setahun dan seterusnya.

Tak terbatas informasi reksadana saja. Kita juga membandingkan reksadan dengan saham, emas, valuta asing. Mana, sih, selama setahun, lima, atau 10 tahun ini yang pergerakan paling bagus memberikan keuntungan ke kita. Ibu yang diidentikan sebagai manajer keluarga, dan tak sedikit pula yang bertindak sebagai pembuat keputusan, penting banget untuk punya kemampuan literasi keuangan keluarga.

Yang lebih keren menurut saya, kita bisa membandingkan on the spot, artinya secara jangka panjang dan pendek. Misalnya kita sudah menentukan saham A, nanti akan muncul berita apa saja yang membahas saham A. Dan kita tertarik untuk selalu memantau berita tentang saham A. Kita bisa menyortir berita, berita tentang saham A itu, bisa kita lihat hanya dengan satu klik. Kita membuat kanal untuk diri kita sendiri. Informasi seperti apa yang ingin kita dapatkan.

Dari pengalaman itu, kata Pak Kukuh, investor pemula bisa mendapatkan pengalaman virtual yang bisa dicoba. “Saya sarankan coba yang tidak terlalu tinggi, tapi juga jangan terlalu rendah. Karena nanti kita bisa kecewa,” lanjut Pak Kukuh.

“Apalagi usia yang masih muda, 20/30 kalau gagal masih punya waktu yang cukup panjang untuk mengembalikan sesuatu jika gagal. Tapi kalau usianya sudah 40-an, coba ambil yang menengah, tapi juga diperhatikan fluktuasinya. Jangan takut dengan fluktuasi, karena justru menurut para pakar saham, peluang kita justru ada di fluktuasi itu,” Pak Kukuh mengingatkan.

Nah, yang sekarang saya lakukan, membandingkan berbagai jenis reksadana, nih, mommies yang sesuai dengan budget bulanan. Tapi kali ini, saya ingin sedikit ambil ambil risiko.

Kalau mommies sendiri, tahun ini mau melakukan perubahan investasi keluarga seperti apa? Mungkin sudah waktunya, memberanikan diri bermain saham di reksadana? Atau yang melakukan, beralih ke jenis reksadana dengan risiko yang lebih tinggi, tapi bisa mendapatkan keuntungan berlipat :)


Post Comment