Ups, Kenapa Anakku Mulai Suka Bohong?

Anak ketahuan bohong? Eits, jangan ngomel dulu. Lebih baik telusuri alasan di balik anak berbohong. Jangan sampai karena sikap kita yang salah bikin anak jera untuk belajar jujur dan keterusan suka bohong.

“Bumi hari ini nonton TV berapa jam?”

“Umh… aku ingat-ingat dulu, ya, Bu. Seingat aku sih, aku itu nonton TV baru sebentar. Waktu pulang sekolah, terus habis sholat magrib. Belum lama kan, bu?”

“Oh… gitu, nggak lebih dari dua jam ya? Soalnya ibu dengar cerita dari enin kalau Bumi itu nonton TV lama banget.”

anak mulai suka bohong - mommiesdaily

***

Makin anak besar, pasti anak makin pintar cari alasan. Termasuk pintar bohong. Kesal? Jelas saja. Mana ada, sih, orang yang suka dibohongi? Lagian, sama dengan orangtua lainnya, saya juga ingin punya anak yang memiliki integritas diri. Jujur dengan apa yang dikatakannya.

Tapi tunggu dulu… kalau ngomongin soal bohong, bukankah semua orang pernah berbohong? Maaf saja, ya…. saya justru nggak percaya kalau ada orang yang nggak tidak pernah bohong sekalipun. Toh, kalau dipikir-pikir bohong bisa dilakukan karena berbagai alasan, untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, untuk menyelamatkan diri atau cari aman, untuk menghindari konflik, atau malah bohong untuk  kebaikan?

Ya, apapun alasannya, bohong memang tetap bohong. Dan hal ini memang value yang sebenarnya tidak perlu diajarkan pada anak. Ngomongin soal anak yang bohong, saya jadi ingat obrolan beberapa waktu lalu dengan Mbak Nina Teguh. Psikolog anak, remaja dan keluarga ini bilang, ada baiknya kita sebagai orangtua jangan melihat sisi negatifnya saja. Soalnya, nih, ketika anak memasuki usia 4 tahun dan seterusnya, anak-anak sudah bisa belajar menilai, mana yang baik dan mana yang buruk.

“Kalau anak sudah bohong, sebenarnya itu adalah indikator anak sudah memiliki pemahaman mana yang bena dan salah. Jelaskan apa itu bohong, yaiti saat anak tahu jawaban yang benar tapi malah berusaha untuk menutupinya,”.  Artinya, saat anak berbohong sebenarnya bisa jadi salah satu indikator perkembangan kognitif dan emosional. Jadi normal saja, kok, dilakukan anak balita.

Mbak Vera Itabiliana juga menerangkan kalau bagi anak usia pra sekolah, berbohong sangat dekat dengan kehidupan mereka. “Di usia mereka ini, anak belum bisa membedakan mana yang realita dan mana yang fantasi. Selain itu, kebanyakan dari mereka juga belum paham kalau berbohong itu salah. Anak pra sekolah suka sekali melebih-lebihkan suatu cerita yang tentang diri mereka yang terdengar sebagai kebohongan. Ingat, mereka melakukan ini bukan berniat membohongi. Ini bedanya bohong anak dengan bohong yang dilakukan anak yang lebih besar atau orang dewasa,” paparya.

Mbak Vera menambahkan, kebohongan yang dimaksud misalnya, ”Aku pernah terbang dong ke Bali pakai sayap Supermanku…” Nah, kalau kebohongan yang dimaksud seperti ini, cukup dengarkan saja atau malah berikan input sedikit yang ’mengembalikan’ anak ke realita. “Seperti begini, ‘Iya, kamu terbang naik pesawat sama papa dan mama.”

Ada lagi anak yang berbohong dengan tujuan untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan atau menghindari yang dia tidak suka. Contoh, anak yang tidak mau menghabiskan makanannya karena ingin cepat-cepat makan es krim. Kata Mbak Vera, kalau memang kondisinya seperti ini sebenarnya ini kesempatan untuk mengajarkan pada anak bahwa berbohong itu salah. Tekankan pada anak bahwa berkata jujur adalah yang lebih diharapkan.

Nggak perlu, deh, memberikan reaksi yang berlebihan semacam ngomel atau menghukum anak. Dari sini, anak malah jadi semakin takut untuk bercerita dan mengungkapkan hal yang sebenarnya terjadi.

Sebuah studi malah membuktikan kalau hukuman justru membuat anak tidak mau mengatakan kebenaran. Malah ada juga, lho, anak yang malah memilih berbohong lantaran, merasa perlakuan orangtua yang menghukumnya meskipun ia  sudah jujur.

Hal yang perlu dipahami dan terus saya pelajari hingga detik ini adalah bagaimana menciptakan iklim komunikasi  yang baik dengan anak. Komunikasi yang bisa berjalan dua arah. Dan tentu saja memberikan kesempatan pada anak untuk didengarkan. Harapannya, dari sini anak justru bisa leluasa mengutarakan apa yang sebenarnya terjadi tanpa perlu takut.

Satu hal yang paling mendasar, kalau memang nggak mau anak belajar bohong, ya, kita sebagai orangtua jangan bohong. Setidaknya, nggak perlu berjanji untuk sesuatu yang memang belum pasti bisa kita lakukan. Jika memang salah dan bohong, akui saja. Nggak perlu malu atau gengsi untuk meminta maaf lebih dulu pada anak.

Mbak Vera mengingatkan, orangtua harus montohkan kejujuran. Mulailah dari diri sendiri, misalnya hindari membohongi anak karena harus pulang telat dari kantor atau berbohong pada orang lain sementara anak berada di samping kita.

Selain itu, tentukan sanksi yang disepakati bersama sebagai konsekuensi  dari kebohongan anak. Bedakan konsekuensi yang diterima oleh anak, antara untuk kesalahan yang ia lakukan dan kebohongannya. Kita bisa tentukan aturan jika anak berkata jujur, maka konsekuensi yang ia terima akan lebih ringan dibanding jika ia berbohong  menutupi kesalahannya. Tunjukkan bahwa Anda sangat menghargai kejujurannya.

“Jangan lupa jaga reaksi Anda ketika anak berusaha berkata jujur. Kebenaran kadang menyakitkan atau membuat emosi orangtua naik. Tapi ingat, anak sedang belajar untuk jujur. Jangan sampai anak malah
jera berkata jujur”.

Nah, tuh! *tunjuk idung sendiri*

 

 

 


Post Comment