bilang tidak ke anak -mommiesdaily

Kapan Saat yang Tepat Bilang Tidak ke Anak?

Banyak yang bilang, orangtua itu nggak boleh kebanyakan bilang ‘tidak’ ke anak. Apa iya? Menurut saya, selain bentuk penegasan, mengatakan kata ‘tidak’ ke anak justru mengajarkan banyak hal, kok. Jadi, kapan saat yang tepat bilang tidak ke anak?

“Umh… ibu, lego ini bagus banget, ya…  boleh nggak aku dibeliin?

“Ibu, boleh tolong ambilin minum aku nggak?”

“Ibu, temen-temen aku ini boleh makan permen dan coklat setiap hari. Kenapa, sih, aku nggak boleh? Boleh, ya?

“Ibu, handuk aku lupa dibawa ke kamar mandi, tolong ambilin, ya?”

Ooo… ooo… kalau mendengar permintaan anak saya model begini, sih, jelas saya akan menjawab tidak. Iya, tidak! Buat saya dan suami, mengedepankan kompromi dalam mendidik anak jelas wajib dilakukukan. Tapi, untuk sesuatu yang sebenarnya sudah kami sepakati bersama, termasuk hal-hal yang sifatnya prinsip? Jelas nggak perlu ada toleransi.

Terus terang saja, anak saya itu jago banget urusan ngajak kompromi, apa-apa ditawar. Kadang, kalau lagi ‘lemah’, bawaannya sih, pengen ikutin apa yang ia inginkan. Apalagi kalau anak saya sudah pasang muka melas…. Duh….

Urusan menetapkan batasan dengan anak-anak memang jadi tantangan tersendiri buat orangtua. Untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, mungkin mereka bisa melakukan segala cara. Mengemis, menawar, menangis, menuduh, atau menuntut tanpa henti dengan cara yang apa pun juga, you name it –lah

Beberapa oran tua mungkin menyerah hanya untuk menghindari ‘pertempuran’ dengan anaknya.  Sebagian lainnya merasa bersalah karena mengecewakan anak-anak mereka. Sementara saya? Tentu saja pernah merasakan keduanya. Tapi saya sadar, kalau selalu dituruti  malah lebih berbahaya!

Setidaknya, ada beberapa situasi di mana saya perlu bilang tidak ke anak saya.

bilang tidak ke anak -mommiesdaily

1) Tidak jika tindakan mereka bisa menyakiti dirinya sendiri atau orang lain termasuk menghancurkan sesuatu

Wah, ini sih jelas tidak mungkin diberi izin oleh semua orangtua, ya? Setiap orangtua tentu perlu mengatakan tidak untuk mencegah suatu hal yang berbahaya. Hal ini tentu saja berlaku ketika anak sedang mengajak bercanda. Ingat, becanda pun ada etikanya. Memberikan batasan mana yang berbahaya dan mana yang tidak tentu saja diperlukan agar anak bisa belajar berpikir ke depan.

Sebagai orangtua tentu kita perlu menawarkan alternatif dapat mengarahkan anak-anak menuju aktivitas yang lebih aman. Sebagai contoh: “Kamu itu tidak boleh melompat ke sofa. Kalau kena ujung sofa yang tajam, bagaimana? Lebih baik kita main ke luar saja, yuk”.

2) Tidak jika anak meminta bantuan padahal bisa melakukannya sendiri

Terkadang anak meminta orangtua melakukan sesuatu untuk mereka, padahal hal tersebuh bisa mereka lakukan sendiri.Saya ingat, Mbak Vera Itabiliana selaku Psikolog Anak dan Remaja mengingakan kalau anak butuh pembiasaan yang dilatih secara terus menerus.  Selain itu, anak pun perlu contoh yang konkret, artinya anak perlu melihat bahwa orangtua pun mampu melakukan sesuatunya sendiri. Jangan gampang minta tolong ke Asisten Rumah Tangga, ahahaha. Untuk melatih kemandirian, anak juga perlu diberikan tanggung jawab.

3) Katakan tidak anak meminta berdasarkan keinginan, bukan kebutuhan

Umh, sebenarnya urusan yang satu ini saya pun masih terus belajar. Belajar menahan godaan untuk membeli tas baru, padahal nggak butuh, ahahahaha. Kemampuan memilah antara keinginan dan kebutuhan tentu saja perlu dilatih sejak dini. Kalau dibiarkan boros, dan mengiyakan apa yang anak minta, bisa berabe. Contohnya, urusan membeli mainan. Di keluarga saya, sih, sudah sepakat kalau urusan beli mainan baru hanya boleh dilakukan 3 bulan sekali. Lagi-lagi, di sini saya dan suami tentu saja perlu konsisten. Jika belum waktunya anak minta mainan baru, ya nggak perlu dibelikan. Toh, anak juga perlu belajar kecewa.

4) Katakan tidak bila rencana berubah

Life happens. Apapun bisa terjadi meski kita sudahmerencanakan dengan matang. Termasuk saat kita sudah niat dan merencanakan kegiatan menyenangkan yang dilakukan bersam-sama, namun ada kondisi yang akhirnya menghalangi rencana tersebut. Supaya bisa menghadapi hal semacam ini, anak tentu saja perlu latih soal kesabaran dan fleksibilitas.

Untuk mengobati kekecewaan, kita tentu saja perlu membuat rencana baru yang spesifik. Sebagai contoh,  “Tidak,  kita tidak bisa melakukannya hari ini. Ibu juga berharap berharap jalan-jalan dengan kamu, tapi ternyata ada keluarga yang datang ke rumah. Lebih baik kita lakukan besok saja, ya. Atau kamu punya rencana yang lebih seru?”.

5) Katakan tidak bila itu bertentangan dengan prinsip hidup

Sebagai orangtua, kita tentu saja selalu mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang penting dalam hidup, nilai integritas dalam hidup. Ada kalanya, anak akan merasa kesal, protes dengan keputusan yang kita buat. Ujung-ujungnya menganggap kalau kita adalah orangtua yang menyebalkan.  Sesekali dianggap jadi orangtua yang menyebalkan nggak kenapa-kenapa, kok. Tapi kitapun perlu menjelaskan alasan mengapa keputusan tersebut diambil. Menurut saya, sih, hal ini perlu dilakukan sehingga anak-anak juga bisa belajar tentang prioritas dan menumbuhkan nilai integritas.

Meskipun nggak mudah, tapi saya percatya kalau gaya pengasuhan itu perlu seimbang, melibatkan kombinasi kehangatan orangtua dan juga memiliki batasan yang jelas. Jadi, nggak perlu takut untuk bilang tidak pada anak.


Post Comment