Anak Mengikuti Banyak Ekstrakurikuler, Dibatasi atau Didukung?

Kalau anak mau mengikuti beragam ekstrakurikuler di sekolah, apa yang akan mommies lakukan? Dukung atau membatasi dengan alasan khawatir waktu anak akan banyak tersita dan membuatnya mudah lelah?

“Bumi, istirahat. Jangan lari-larian terus. Nanti kecapean akhirnya malah sakit…”

“Bumi baru kelas dua kok pulangnya sore banget sih, Dis? Nggak takut anaknya kecapean?”

Kalimat ini kerap dilontarkan mama saya kalau melihat anak saya, Bumi, yang nggak bisa diam. Bahkan, mama saya sering mengistilahkan anak saya seperti gangsing. Tahu dong, gangsing?  Mainan yang terus berputar pada satu poros.

Hahaha, ya… Namanya juga anak laki-laki, ya? Masa nggak boleh bergerak bebas? Masa nggak boleh lari-larian? Apalagi mengingat usia sekolah seperti sekarang. Setelah belajar, lanjut mengikuti ekstrakurikuler.

 Anak Mengikuti Banyak Ekstrakurikuler Dibatasi atau Didukung - mommiesdaily

Ngomongin ekstrakurikuler, saya sih percaya kalau aktivitas ini banyak manfaatnya. Selain bikin anak aktif bergerak melepaskan energinya dan menyalurkan kreativitasnya, ekstrakurikuler juga membantu anak bagaimana cara bekerja sama dengan tim, termasuk mengajarkan anak untuk belajar manajemen waktu.

Saya cukup paham mengapa mama saya khawatir kalau aktivitas Bumi terlalu banyak, takut cucunya malah jatuh sakit.  Biasanya sih, kalau mendengar mama saya mulai khawatir seperti itu, saya berusaha meyakinkan kalau cucunya akan baik-baik saja. Justru kalau anak nggak aktif bergerak, maunya cuma main gadget saja, malah menimbulkan pertanyaan bukan. Toh, selama ini saya selalu melakukan beberapa hal untuk membantunya agar tetap aktif, sehat, dan tentu saja ceria.

1. Memastikan waktu istirahat dan nutrisi tubuhnya tercukupi

Anak sekolah seusia Bumi memang sedang aktif-aktifnya. Meskipun pulang sekolah sudah jam satu siang lalu lanjut ekstrakurikuler, tak lantas membuat mereka jadi loyo saat di rumah. Meskipun begitu, saya selalu meyakinkan anak saya bahwa bermain di rumah ataupun luar rumah tentu saja boleh, tapi jangan sampai lupa untuk istirahat. Biar mudah, saya sering mengibaratkannya seperti handphone yang lama kelamaan baterainya akan habis. Manusia pun begitu, kalau tidak istirahat akan mudah lelah.

Hal penting lain tentu saja memastikan kebutuhan nutrisi anak saya tercukupi. Sehari hari, asupan gizi seimbang seperti karbohidrat, protein, vitamin, mineral, dan zat baik lainnya harus dipenuhi. Selain makan sayur, ikan, dan buah-buahan, saya pun memberikan susu UHT. Lebih tepatnya, sih, susu UHT ini saya berikan setelah anak saya berusia dua tahun.

Kenapa UHT? Sederhana saja, kok. Sebagai ibu, saya benar-benar dimudahkan dengan adanya susu UHT ini karena nggak perlu repot untuk membuatnya. Praktis! Yang jelas, proses pengolahan susu dengan Teknik UHT (Ultra High Temperature) merupakan teknologi sterilisasi yang membunuh bakteri jahat dalam susu tanpa merusak gizi dan nutrisi baik yang terkandung di dalam susu tersebut. Setelah itu susu dimasukan ke dalam kemasan karton aseptik Tetra Pak yang memiliki enam lapisan pelindung yang melindungi susu dari kelembapan, udara luar, bakteri, cahaya, dan zat lainnya serta membuat susu tahan 9 sampai 12 bulan tanpa perlu pengawet. Dari segi kualitas gizi dan mutu tentu saja lebih terjamin. Susu UHT mudah dikonsumsi kapan saja dan dimana saja, bahkan saat anak sedang beraktivitas di luar rumah. Varian rasa susu UHT yang bermacam-macam tentunya lebih disukai oleh anak, sehingga anak cenderung mudah menghabiskan susunya.

Sebagai orangtua tentu saja kita ingin memberikan asupan nutrisi yang terbaik dan seimbang untuk anaknya. Tapi, apa sudah yakin kalau kebutuhan nutrisinya sudah mencukupi yang dibutuhkan oleh anak dalam masa pertumbuhan? Seperti yang kita ketahui kalau kebutuhan gizi setiap orang akan berbeda-beda, karena itulah pemilihan susu perlu disesuaikan menurut kebutuhan dan tahapan usia.

Para pakar mulai dari dokter spesialis anak dan ahli gizi seperti Emilia E Achmadi MS., RDN juga menegaskan kalau susu bermanfaat untuk menyempurnakan gizi. Termasuk untuk mengganti sel-sel yang rusak serta menjaga kepadatan dan pertumbuhan tulang. Idealnya, anak-anak berusia 2-5 tahun membutuhkan 400–600 cc susu segar sehari, setara dengan 2-3 gelas susu untuk dapat melengkapi nutrisi harian di luar makanan padat lainnya.

2. Sesuaikan aktivitas anak dengan usianya

Sebagai orangtua, saya memang dituntut untuk lebih jeli dalam mendukung aktivitas anak termasuk memilih kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Menurut saya sih, kegiatan ini memang perlu dilakukan untuk mendukung bakatnya dan mendorong rasa percaya diri anak. Bahkan, saya pernah membaca ada sebuah penelitian yang dilakukan Thomas Fritsch, PhD dari Parkinson Research Institute di Aurora Sinai Medical Center Milwaukee yang mengatakan bahwa kegiatan ekstrakurikuler mempengaruhi kemampuan kognitif seorang anak di masa mendatang.

Anak-anak yang terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler justru bisa mendapatkan nilai yang baik termasuk meningkatkan rasa percaya diri. Cuma itu? Tentu saja tidak, malah berdasarkan penelitian tersebut anak yang aktif di kegiatan ekstrakurikuler cenderung menghindari alkohol dan narkoba. Yang perlu digarisbawahi, dalam memilih aktivitas ekstrakurikuler tentu saja harus melibatkan anak. Biar bagaimanapun anak berhak memilih kegiatannya sendiri. Jangan sampai merasa terpaksa atau malah menjadi beban. Bukankah melakukan sebuah permainan harus terasa menyenangkan?

3. Membuatnya lupa menonton TV dan bermain gadget

Di era teknologi seperti sekarang ini nggak mungkin ya, melarang anak untuk tidak ‘berkenalan’ dengan gadget? Tapi tetap saja dong, saya nggak mau sampai anak keasikan main gadget dan nonton TV sepanjang hari.  Akibatnya tentu saja bisa memengaruhi fisik dan psikis anak. Nah, dengan mengikuti banyak kegiatan ekstrakurikuler, otomatis akan membuat anak lupa dengan acara TV termasuk bermain gadget.


Post Comment