6 Hal yang Hanya Dipahami Oleh Orangtua dengan Anak Tunggal

Inilah gambaran perasaan para orangtua dengan anak tunggal, 6 hal yang sepertinya hanya mereka pahami dan perlu kita ketahui.

Masih soal anak tunggal, tapi kali ini saya mencoba belajar dari mereka, para ibu yang akhirnya memutuskan untuk memiliki anak tunggal, bahwa, menjadi orangtua dengan anak tunggal itu juga tidak mudah. Apalagi mengingat dengan stigma masyarakat yang masih sering kali memandang secara negatif.

orangtua dengan anak tunggal - mommiesdaily

Berdasarkan obrolan dengan kedua kakak saya, termasuk teman-teman yang memutuskan untuk memiliki satu orang anak, ternyata ada beberapa hal yang mereka sering rasakan. Dan sepertinya tidak dirakan oleh orangtua yang memiliki anak lebih dari satu. Apa saja?

1. Menjadi orangtua tunggal bukan karena saya egois, malas ngurus anak dan ingin punya waktu lebih banyak untuk berkarier sekadar punya me time.

Hey…tahu nggak, sih, ternyata memutuskan untuk punya anak satu itu nggak segampang yang dipikirkan banyak orang? Maksudnya, seseorang memutuskan hanya untuk punya anak satu itu banyak sekali pertimbangnnya. Persis, seperti yang sudah digambarkan oleh Thatha dalam artikel ….

Sementara, tidak sedikit juga pasangan suami istri yang ‘terpaksa’ memiliki anak tunggal. Contohnya kedua kakak saya. Saya tahu persis bahwa kedua kakak saya ini sebenarnya memiliki keinginan untuk punya anak lebih dari satu. Kakak pertama saya, yang biasa saya panggil dengan sebutuh teteh, sudah berusaha punya anak ke-dua sampai mengikuti program inseminasi berulang kali, namun pada satu tidak ia dan suaminya pasrah, dan bersyukur karena sudah memiliki satu orang anak.

Kalau merujuk pendapatnya Susan Newman, PhD, psikolog sosial dan pakar pengasuhan anak yang juga penulis buku The Case for the Only Child: Your Essential Guide, ia mengatakan bahwa salah satu kecendrungan orangtua memiliki satu anak juga disebabkan karena fakta pentin yaitu adanya masalah ketidaksuburan, di mana banyak orangtua yang menunggu lebih lama untuk hamil (lagi).

2. Menjadi orangtua dengan anak tunggal menjadikan saya tidak punya kesempatan untuk membandingkan anak yang satu dengan yang lainnya.

Di lingkungan pertemanan saya, tidak sedikit teman yang memutuskan hanya memiliki satu orang anak. Salah satunya adalah Maulita Iqtianti, atau yang lebih dikenal dengan sapaan Neng Lita. Sebenarnya, ada beberapa alasan yang membuat Lita, membulatkan niatnya untuk punya satu anak. Salah satunya membuat dirinya nggak punya kesempatan untuk membandingkan anak yang satu dengan anak yang lain. Sementara kita sangat paham bagaimana tidak nyamannya kalau ada orang yang membanding-banding kan kita dengan orang lain. Sementara, menurut Mbak Ayank Irma sebagai psikolog anak dan keluarga, bahwa tanpa disadari orangtua memang punya kecendrungan mempunyai anak yang lebih difavoritkan, kondisi inilah yang bisa memicu terjadinya sibling rivalry.

3. Menjadi orangtua dengan anak tunggal tidak menjadikan saya orangtua yang overprotective

Kondisi ini diakui oleh kakak pertama saya, bahwa meskipun hanya punya anak satau, bukan berarti membuatnya jadi overprotektive, apa-apa anaknya ingin ‘diketeki’ dan diberi batasan. Buktinya, nih, keponakan saya juga diizinkan untuk kuliah di luar kota, sesuai dengan minatnya.

4. Iya, punya anak satu memang sering merasa kesepian tapi hal ini pun bisa dirasakan oleh orangtua yang punya anak selusin

Saya ingat, suatu kali pernah bertanya pada kakak saya, apa benar menjadi orangtua dengan anak tunggal membuatnya merasa kesepian? Apalagi mengingat keponakan saya sudah besar dan sudah punya dunia sendiri. Jawaban kakak saya waktu itu, “Iya, pernah kesepian. Tapi kondisi ini juga bisa dirasakan oleh orangtua yang punya anak banyak. Semakin bertambah usia anak, semakin anak dewasa, maka ia bisa menentukan langkahnya sendiri. Mulai sibuk dengan dunianya sendiri sehingga memang semua orangtua harus bisa belajar untuk ‘melepas’ anak,”.

5. Memberikan kehidupan yang lebih layak untuk anak

Sebentar…. sebentar, poin ini bukan berarti orangua yang punya anak lebih dari satu, atau punya anak banyak itu nggak memberikan kehidupan yang layak untuk anaknya. lho, ya. Lagian orangtua mana, sih, yang nggak mau kasih yang terbaik buat anaknya? Mulai dari nutrisi hingga pendidikan yang layak. Namun, saat ini banyak orangtua yang memutuskan untuk memiliki anak satu sebenarnya tidak terlepas karena ingin memberikan kehidupan yang lebih baik.

Seorang teman yang memutuskan untuk memiliki anak tunggal pernah bilang ke saya, “Rasanya gue anak jadi orangtua yang egois kalau nggak realistis. Pangen punya anak banyak, lebih dari satu padahal mereka tahu bahwa mereka dalam kondisi belum mapan. Buat bayarin anak satu untuk sekolah saja sudah ngos-ngosan, gimana mau punya banyak anak?”.

6. Memutuskan jadi orangtua tua dengan anak tunggal  mengajarkan untuk nggak gampang baper. Masuk kuping kiri, keluat kuping kanan.

“Anaknya cuma satu?”

“Kok, belum nambah anak, sih?”

“Enak lho, punya anak dua . Biar sepasang,”

“Nggak kasihan tuh, sama anaknya. Sendirian, nggak punya saudara.”

Pertanyaan atau komentar seperti di atas tentu akan jadi ‘makanan’ sehari-hari bagi orangtua yang punya anak satu. Akan ada puluhan orang, baik saudara, teman, atau tetangga yang ‘menyuruh’ untuk tambah anak lagi.  Nggak bisa dipungkiri, sih, saat ini memang masih banyak yang lupa kalau urusan nambah anak, urusan memutuskan punya anak satu atau sebelas itu sangat personal.  Intinya, sih, kita memang harus lebih banyak belajar untuk punya pemikiran, “What other people thinks is none of your business,”.

Intinya, sih, sebagai sesama ibu, nggak ada salahnya, ya, kita saling menghargai keputusan masing-masing orang. Nggak perlu banyak kepo atau malah jadi menyudutkan, toh, kita memang nggak pernah tahu di balik keputusan tersebut bukan? So, don’t judge a situation you’ve never been in.

 


Post Comment