Potty Training di Beberapa Negara, Seperti Apa?

Kalau di Indonesia  potty training mulai dikenalkan ke anak sejak usia 2 sampai 3 tahun, bagaimana dengan tradisi potty training di beberapa Negara lainnya? Yuk, kita ‘intip’ lebih dulu, siapa tahu ada yang bisa kita dipelajari.

Ngomongin potty training, mau nggak mau saya jadi flashback saat mengajarkan anak saya, Bumi, untuk melepas pospaknya saat ia usia 2 tahun. Beruntung, masa pengenalan untuk buang air kecil ataupun air besar langsung ke toilet nggak memakan waktu yang lama. Bahkan saya nggak sampai repot membeli perlengkapan perang untuk potty training,  hanya membeli soft potty seat.

Dari pada mikirin perlengkapan apa saja yang perlu dibeli, saya justru lebih fokus melihat kesiapan fisik dan kognitif anak lebih dulu, termasuk kesiapan saya sendiri sebagai orangtua. Sudah bisa fokus melatih anak atau belum? Proses melatih anak melakukan potty training ini kan jelas membutuhkan kesabaran dan konsentrasi yang baik dari orangtua. Kalau orangtua belum siap ( baca: malas), proses potty training ini bisa berlarut-larut bahkan bisa gagal. Dijamin!

potty training- mommiesdaily

Meskipun begitu, tetap saja sih beberapa kali ada saya mengalami ‘tragedi’ di mana anak saya akhirnya ngompol di beberapa area lantaran memang telat memberitahukan saya. Terutama saat malam hari! Padahal saya sudah patuh dengan jadwal yang saya buat untuk mengajak anak ke toilet. Tapi, tetap saja suka ‘bocor’.

Setahu saya, sih, apa yang saya lakukan ini memang kerap kali dilakukan oleh orangtua lainnya. Setidaknya, lingkungan pertemanan saya melakukan hal serupa saat memulai proses potty training pada anaknya. Lalu,  bagaimana dengan tradisi dan kultur di Negara lain dalam mengenalkan potty training pada anaknya?

Kenya

Mommies tahu nggak, ternyata di Kenya para orangtua lebih cepat mengenalkan proses potty training pada anaknya. Bahkan, mereka tidak terbiasa membelikan dan memakaikan pospak pada anaknya. Dalam sebuah jurnal kesehatan yang diterbitkan tahun 1977 di Msambweni, Kenya, setelah anak makan atau tidur siang, para ibu sudah memantau anaknya dengan melihat tanda-tanda kapan anaknya akan buang air kecil ataupun buang air besar. Jika seorang ibu menduga bahwa bayinya harus buang air kecil, dia akan duduk dengan kedua kakinya lurus di depannya dan meletakkan bayi di antara kedua kakinya, di dekat lututnya, dengan bayi yang menghadap jauh dari sang ibu. Selanjutnya Ibu akan membuat suara “shuus” atau desis saat bayi kencing. Dengan melakukan motedi pelatihan seperti ini, harapannya anak sudah bisa buang air kecil di posisinya setidaknya 4 sampai 5 bulan. Weeeew…. cepat sekali, ya!

Vietnam

Berdasarkan Jurnal of Pediatric Urolody tahun 2012 termasuk hasil interview 47 ibu di Vietnam, menyatakan kalau mereka sangat jarang menggunakan pospak untuk anak-anaknya. Mereka justru lebih memercayakan pada ekspresi anak. Jadi, sejak anaknya lahir, orangtua khususnya para ibu sudah belajar dan memerhatikan  ekspresi anak, bagaimana anak menendang dan menangis saat anak ingin buang air kecil ataupun air besar. Ketika orangtua melihat tanda-tandanya, mereka akan memegangi anak mereka di atas toilet dan mengeluarkan suara bersiul saat bayi mulai buang air kecil atau buang air besar. Sekitar 9 bulan, para ibu merencanakan agar anak mereka buang air kecil pada waktu-waktu tertentu. Jika mereka ingin bayi mereka melakukannya setelah diberi makan atau tidur siang, mereka menggunakan suara bersiul iuntuk memulai dan semacam isyarat agar anaknya buang airkecil atau buang air besar.  Para ibu melaporkan bahwa mereka terus mempraktikkan metode bersiul ini sampai mereka tidak lagi harus mengingatkan anak-anak mereka untuk menggunakan kamar mandi. Menurut laporan, setelah proses latihan aini, anak-anak ‘lulus’ latihan potty training saat mereka berusia 2 tahun.

Amerika Serikat

Berdasarkan surat kabar yang diterbitkan di Amerika Serikat termasuk beberapa studies mengenai potty training yang dilakukan tahun 1960 sampai tahun 2007 menuliskan beberapa data. Salah satunya pada tahun 19947, 60% anak mulai dikenalkan potty training sejak usia  18 bulan, namun ada perubahan di tahun 1974 di mana 60% anak mulai dilatih sejak usia 33 bulan. Namun sejak tahun 1980, proses mengenalkan anak pada potty training pun semakin bervariasi.

American Academy of Pediatrics akhirnya mencatat bahwa tidak ada batasan usia di mana pelatihan toilet harus dimulai,  karena memang tergantung pada kesiapan masing-masing anak. Kebanyakan anak-anak siap secara fisiologis untuk latihan toilet sekitar 18 bulan, namun mungkin mereka tidak siap secara kognitif.

Baru-baru ini, sebuah metode yang disebut komunikasi eliminasi, yang serupa dengan praktik pelatihan toilet yang terlihat di Kenya dan Vietnam, telah menjadi tren di kalangan ibu di Amerika Utara. Di mana motedi ini lebih memerhatikan ekspresi anak. Saat melihat ekspresi wajah yang sesuai dengan tanda-tanya anak mengungkapkan ‘Saya sepertinya mau buang air kecil,’ makan orangtua akan membawa anaknya ke toilet.

Turkey

Berbeda dengan Turkey, ternyata pelatihan potty training ini berkaitan erat dengan berapa banyak uang yang dimiliki keluarga. Hal ini diungkapkan lewat penelitian yang diterbitkan The Turkish Journal of Pediatrics tahun  2015. Penelitian ini melibatkan 1.476 anak di Turki, dan ditemukan bahwa rata-rata usia pelatihan anak dimulai sejak anak berusia 16 bulan sampai 28 bulan. Namun semua bergantung pada tingkat pendidikan dan pendapatan yang dimiliki keluarga.  Makin rendah tingkat pendidikan dan pendapatan orangtua, maka pelatihan potty training juga akan semakin lama.

 

 

 


Post Comment