Saya Memang Bukan Ibu yang Sempurna, Terus Kenapa?

Saya bukan tipe ibu yang selalu penuh senyum dan punya segudang sabar tiada habis. Saya sering marah, sering malas, sering ngabur sejenak dari tanggung jawab saya sebagai ibu. Karena saya memang bukan ibu yang sempurna.

Setiap malam menjelang tidur, setelah merebahkan badan di tempat tidur, seringkali (nyaris setiap malam) saya flashback apa yang telah saya lakukan sepanjang hari itu, dari pagi hingga malam.

“Duh, tadi kok saya membentak si kakak ya…”

“Tadi adik ngomong apa ya? Kenapa sih saya nggak stop sebentar main gadgetnya, jadi bisa fokus sama apa yang dia omongin?”

“Ya ampun Fiaaaa, apa susahnya nemenin anak-anak main kasti, malah milih tidur?”

Dan sejuta penyesalan-penyesalan yang kelihatannya sepele tapi begitu dikumpulin sukses membuat saya merasa lagi-lagi saya gagal menjadi ibu ‘sempurna’ untuk anak-anak saya.

Kemudian ditutup dengan tekad bulat agar saya tidak akan mengulangi kembali kesalahan-kesalahan itu keesokan harinya. Dan hari berganti, malam kembali datang dan saya tetap dengan penyesalan-penyesalan yang sama.

Rumit deh hidup lo Fi!!!

Nggak ada yang bilang jadi ibu itu gampang. Kalau gampang, nggak bakalan ada kasus ibu menelantarkan anak, ibu menyiksa anak, dan berbagai macam drama antara anak dan ibu. Kalau gampang, mungkin laki-laki lebih milih ngurus anak di rumah daripada macet-macetan kerja di luar :p.

Saya Memang Bukan Ibu yang Sempurna, Terus Kenapa? - Mommies Daily

Menjadi ibu yang nggak sempurna kadang-kadang membuat saya kehilangan kewarasan.

Menjadi ibu yang nggak sempurna nggak jarang membuat saya harus mengambil keputusan yang terkadang membuat anak-anak saya menangis.

Menjadi ibu yang nggak sempurna juga membuat saya kadang-kadang nggak selalu bisa bersikap adil kepada kakak dan adik.

Menjadi ibu yang nggak sempurna membuat saya sesekali berbohong kepada anak-anak demi memenuhi kepentingan diri saya sendiri.

Menjadi ibu yang nggak sempurna seringkali membuat saya kehilangan kesabaran lalu emosi.

Menjadi ibu yang nggak sempurna karena nggak bisa masak masakan sehat membuat saya memberikan makanan junk food kepada anak-anak di saat saya merasa lelah.

Tapi kata siapa sih itu semua dianggap nggak sempurna? Kata saya. Bukan kata anak-anak saya.

Kalau kemudian saya menganggap diri nggak sempurna kayaknya karena saya termakan dengan image ibu sempurna di masyarakat umum.

Masyarakat yang sering menuntut seorang ibu harus mampu mengerjakan semuanya. Bekerja, mengurus anak di rumah, mengurus anak di sekolah, aktif dalam WAG komite, tetap bisa menjaga bentuk tubuh, tetap bisa melakukan perawatan wajah, menjaga hubungan tetap harmonis dengan pasangan dan masih tetap mampu tersenyum pada dunia.

Sayangnya saya nggak mampu tersenyum sepanjang masa. Saya bukan boneka Barbie yang penuh senyum palsu. Saya juga bukan smartphone yang memiliki tombol emoji senyum dan bisa ditekan kapan saja saya ingin. Saya Lebih senang menjadi ibu yang nggak sempurna tapi saya bahagia dan jujur dengan perasaan diri sendiri.

Kalau kata anak-anak saya, saya adalah ibu yang galak tapi tetap menjadi orang yang mereka cari ketika saya belum pulang dari kantor. Ibu yang cerewet tapi tetap menjadi orang yang mereka cari ketika mereka sakit. Ibu yang nggak sempurna di mata saya sendiri tapi ternyata sempurna di mata mereka.

“Kalian mau nggak ganti mama?” iseng saya pernah bertanya.

“Nggaaaaaaaaaaak mau.” Jawab mereka kompak.

Sekian dan terima kasih.


Post Comment