Kalau Saya Mau Punya Anak Hanya Satu, Terus Kenapa? - Mommies Daily

Kalau Saya Mau Punya Anak Hanya Satu, Terus Kenapa?

Karena punya anak, bukan sekadar “punya.” Pertama, kedua dan seterusnya. Apalagi zaman sekarang, konsekuensi yang dihadapi berkali lipat lebih besar. Sejauh ini, hati saya mantap punya anak hanya satu, ini dia pertimbangannya.

Kalau Saya Mau Punya Anak Hanya Satu, Terus Kenapa? - Mommies Daily

“Nita, mau punya anak berapa?”

“Sejauh ini, sih, maksimal dua saja, tante. Tapi ada kemungkinan, mau satu saja.”

“Lho, kenapa? Kasihan Jordy, sendiri. Dua atau empat, lah, biar rame!”

Hati saya langsung nyesss, rasanya. Bukan lantaran terharu karena perhatian si ibu tadi di kehidupan rumah tangga saya. Melainkan, kok enteng banget bicara seperti itu? Kalau bicara ramai, Jordy punya banyak teman di sekitar rumahnya yang sebaya, dan ada kakak sepupunya yang tinggal dekat rumah. Belum lagi, kalau datang kakak sepupunya dari luar negeri yang kembar tiga. Rumah bukan lagi ramai. Chaos! Tapi seruuuu banget, saat empat balita dan satu anak numplek jadi satu dalam satu ruangan, menurut mommies gimana, tuh? :D

Ngerti banget kok, bagaimana rasanya jadi anak tunggal. Karena papa saya juga menyandang predikat tersebut. Namun, Tuhan itu Maha Adil. Di balik perannya sebagai anak tunggal, papa saya tumbuh menjadi yang tahan banting. Yang paling menonjol, jiwa fighting-nya hampir nggak pernah redup. Maker decision, yang bisa diandalkan, disiplin waktunya sudah seperti tentara, padahal dia pensiunan Pegawai Negeri Sipil. Semua ini lantaran, beliau ditempa oleh orangtua dan kondisi yang menghendakinya seperti itu.

Dari pengalaman papa dan beberapa teman saya yang punya keputusan serupa. Saya punya beberapa pertimbangan, kenapa sampai saat ini, hati saya masih mantap ingin punya anak hanya satu.

1. Mengukur kemampuan saya dan suami

Karena saya dan suami sadar diri, terlahir bukan dari keturunan keluarga bangsawan dan sejenisnya, yang hartanya nggak habis 7 turunan lebih. Makanya kami cukup tahu diri. Meski kata kebanyakan orang, “Setiap anak itu, punya rezekinya masing-masing.” Yesss, saya juga percaya. Tapi kalau kita nggak memperjuangkan, yaaa, anak nggak ada mendapatkan rezeki itu. Memangnya mau turun dari langit? Dan rezeki dengan kualitas seperti apa? Karena kriteria minimal orang itu berbeda-beda. Kriteria minimal saya dan suami, cukup tinggi (sesuai dengan kemampuan tapi, ya). Terutama soal, kesehatannya dan pendidikan.

Dari segi support system (di kasus) saya, akan banyak sekali pertimbangan di sana sini. Salah satunya, WAJIB tambah pengasuh. Nggak mungkin mengandalkan papa dan mama saya, dari segi usia dan kesehatan, tubuh mereka sudah tak lagi mumpuni untuk turut membantu menjaga dan mengurus anak saya. Tugas mereka sekarang, hanya menikmati masa tua, melihat cucu-cucunya tumbuh sehat.

Saya menyebutnya, akan ada efek domino. Tambah pengasuh, ARTINYA…, ada penyesuaian dalam cash flow keluarga kecil kami. Nambah sekian juta, untuk gaji pengasuh. Belum lagi, soal biaya pendidikan *__*. Kalau penghasilan kami masih ada di angka yang sama. Tambah anak, masih belum berbanding lurus sama logika sehat kami saat ini.

2. Sadar dengan kadar emosi

Kabar baiknya untuk poin ini, suami saya jauh lebih sabar dari saya. Tapi pasti adakalanya, suami juga tersulut emosinya saat menghadapi tingkah si lanang, yang berusia 3,5. Di beberapa kasus, saya belajar, tingkat kematangan emosi sebagai orangtua benar-benar diuji di berbagai tahap perkembangan anak. Ketika menghadapi satu anak saja, kami sempat tersulut emosi, bagaimana kalau ada dua anak di kehidupan kami? Oh, tentu kami tidak adil jika menghadirkan anak kedua, hanya karena tuntutan norma sosial, atau ingin menyetarakan status sebagai orangtua dengan dua anak, seperti teman atau saudara saya yang lain.

3. Isu kesehatan & tumbuh kembang anak

Kasus campak dan difteri yang kembali merebak, di 2017. Hanya dua dari sekian banyak isu kesehatan yang nyata harus dihadapi si kecil. Bukannya jadi parno, sih. Jordy jadi nggak boleh keluar rumah. Lebih saksama memastikan kebersihan asupan makanan dan fisiknya. Dan memberikan vaksin tambahan. Saat isu semacam ini sedang merebak, di saat bersamaan saya dan suami masih harus berjibaku dengan urusan lainnya dan level urgency-nya juga sama. Kalau terus-terusan, stres dengan urusan seperti ini, lama-lama energi positif kami bisa habis. Dan malah punya efek nggak bagus ke Jordy.

Untuk kesehatan si kecil, orangtua manapun nggak boleh setengah-setengah, kan?. Setidaknya sudah mengambil porsi 50% dari fokus kami. Sejauh ini, biarlah kami fokus dulu dengan Jordy. Melindungi dirinya dari mereka yang menganggap enteng dampak dari anti vaksin.

Semoga kelak, saya dan suami bisa mempersiapkan mental Jordy  seperti papa. Secara quantity, iya, dia hanya sendiri. Tapi dari segi kualitas pengalaman hidup, dan ketahanan mental, Jordy bisa diandalkan untuk dirinya sendiri, maupun lingkungannya.

Last but not least, sekadar pengingat. Saya suka banget dengan quote dari Bapak Aditya Putra berikut ini:

“Setiap anak yang dilahirkan di dunia sebaiknya memang diinginkan dan direncanakan.” – Aditya Putra, DKT Indonesia.

Pada akhirnya, semua terpulang lagi dengan nilai-nilai yang mommies dan pasangan anut. Apa yang saya kemukakan, murni hasil pemikiran saya dan pasangan. Mau punya anak satu, dua dan seterusnya, yang penting kita saling dukung dan menghormati saja, kan?


2 Comments - Write a Comment

Post Comment