Letter to Dearest New Moms

Letter to dearest new moms. Pesan ini saya sampaikan untuk sesama ibu,  di Hari Ibu. Bahwa menjadi seorang ibu seharusnya tidak membuat kita lupa dengan identitas sendiri. 
Hi Dear,
How’s today? 

‘Gimana tidur seminggu ini?
Sudah sempat mandi hari ini…, eh tiga hari ini?
Saya tidak akan bertanya how’s the baby karena dia pasti sedang tidur pulas, beratnya naik lebih dari 600 gram sejak bulan lalu, pipinya tembem bersemu, perutnya kenyang, baju dan popoknya bersih baru diganti.
Dear, hang on there a bit, ya.

Some hassle will be over soon. Well
, yaa, kira-kira dua-tiga tahunan, gitu. But some stays on for our whole life. Karena, kita seorang Ibu.A Letters to dearest new moms - Mommiesdaily

Dulu waktu masih ngASI, saya kesal karena nggak bisa lagi tidur nyenyak seperti sebelum ada bayi. Disabarin aja, deh. Toh, nanti saat mereka sudah nggak ASI saya bisa tidur sepuasnya tanpa terganggu suara ‘ngek‘ bayi lapar.

Lewat masa ASI ternyata saya masih gampang terbangun saat si balita merengek lirih karena kebelet pipis tapi masih setengah tidur, atau tiba-tiba demam. Sekarang, pun, ternyata saya masih juga terbangun saat terdengar suara dari dapur, si pre-teen lapar tengah malam. Dan saya akhirnya mengerti mengapa ibu saya ikut bangun saat newborn ketiga saya rewel menjelang subuh…

Dulu kita bisa makan-makan sampai habis setengah gaji cuma buat cobain tempat-tempat makan terhits zaman now yang ternyata pas dicoba gitu-gitu aja.

Begitu hamil anak pertama, janin harus disuplai penuh gizi, dong, ya. Habis lagi setengah gaji untuk makanan bergizi salmon bento, steak, caesar salads, termasuk stok bahan yang sama buat dimasak di rumah yang entah kapan sempatnya masak disela-sela ngantor dan all day sickness.
Pas anak sudah lahir, mulai MPASI, mulai jugalah kita stok bahan bernutrisi tinggi yang tadinya we don’t even know such thing existed. Zuchini, kabocha, EVOO dan ELOO, lalu keukeuh sumekeuh telur di rumah harus ganti yang ber-Omega. Dari situ saya baru paham, meski dulu ibu selalu bilang nggak punya uang, kami makan di luar hanya untuk semangkuk mi ayam pangsit, bahkan saya pun hanya dapat uang saku sekali seminggu, 50 perak saja…tapi di rumah rutin ada menu daging.

Saya masih ingat 13 tahun lalu saat punya bayi pertama. Saya ingat perasaan bahwa ada mahluk lain yang hidupnya bergantung pada saya, sejalan dengan beban dan konsekuensinya.

Bayi saya. Milik saya.
Perasaan ini menggoda identitas saya banget untuk jadi Mamanya Darris ketimbang Kirana. Ingin rasanya menyiarkan ke dunia kalau saya sekarang bukan Kirana tapi Mamanya Darris. Untungnya saya sudah bersosial media jauh sebelum punya anak, dan kadung punya ID yang nggak ada sangkut pautnya dengan anak. Plus setahun kemudian saya hamil lagi lalu selain jadi Mamanya Darris saya kemudian juga Mamanya Dellynn. Fiiiuhh, untung belum bikin akun MamaDarris.com, nanti diprotes adiknya.. .haha.
Tadinya saya nggak ngeh periode ini, sampai teman-teman di sekitar saya berubah semua saat punya anak pertama, jadi Mama A, Bunda B, atau Ummi C, jauh sebelum mulai masuk grup sekolah. Saya tercenung.

Haruskah menjadi ibu menghilangkan siapa kita?

Tidak bisakah saya tetap jadi Kirana walau saya juga Mamanya Darris?

Tidak berhakkah saya tetap melakukan apa yang menjadikan saya Kirana ketimbang Mamanya Darris?

Mommies zaman now punya banyak sekali pilihan aktifitas yang bisa sejalan dengan peran sebagai ibu tanpa harus kehilangan identitas. Tetap sisihkan waktu dan daya untuk diri sendiri berproses, selain sebagai ibu.

Dulu pun kita pelajar dan tetap jadi kita.
Kita yang mahasiswi, kita yang pekerja kantor, kita yang penikmat film, kita yang pembaca buku, kita yang suka menjelajah tempat makan baru, dan yang lain-lain tidak perlu berubah hanya karena ada anak yang sebetulnya ‘cuma’ titipan sekitar 18 tahun sebelum terbang mengisi jati dirinya sendiri.
Selamat Hari Ibu.
Saya seorang Ibu, tapi saya tetap Kirana

Post Comment