Benarkah Ada Tanda Khusus, Suami Belum Siap Menjadi Ayah?

Meski tidak ada ukuran baku, apakah seorang laki-laki siap atau tidak menjadi ayah. Namun, para istri, bisa banget membuat mereka siap menjadi ayah. Mau tahu caranya?

Saya sempat terkagum-kagum saat mendengar cerita dari Dorinda (Account Executive Female Daily Network), bagaimana suaminya, Angga, begitu lihai memandikan, mengganti diapers, dan menghangatkan ASI untuk putra pertama mereka, Lantang, yang kini berusia 4 bulan. Pokoknya, sudah siap banget, deh jadi ayah :)

Benarkah Ada Tanda Khusus, Suami Belum Siap Menjadi Ayah? Mommies DailyImage: by Danielle MacInnes on Unsplash

Tapi apa itu satu-satunya indikator, seorang laki-laki dikatakan siap menjadi ayah? Soalnya ada juga, lho tipe suami yang memilih jalan lain, untuk menunjukkan kesiapannya menjadi ayah. Artinya mereka bukannya enggan melakukan apa yang Angga pernah lakukan. Kalau kata Nadya Pramesrani, M. Psi. ,Psikolog Keluarga, sekaligus Co-Founder Rumah Dandelion. Ini ada hubungannya dengan insecurity. “Secara evolusi mereka tahunya, dirinya kasar, dibandingkan dengan perempuan. Wajar banget kalau bayi baru keluar, mereka takut untuk menggendong, sehingga mengambil jalan, membantu hal lain. Misalnya kebutuhan istri yang lain dipenuhi, supaya istri bisa mengurus anak dengan maksimal,” jelas Mbak Nadya.

Dari sisi lain, Mbak Nadya memberikan pandangan. Father insting itu tidak sealami mother insting. Mari kita tarik ke belakang, kenapa soal insting ini bisa terjadi perbedaan. Mbak Nadya memberikan contoh kasus menarik, dan sangat logis. “Perempuan itu dari kecil, mainnya sudah rumah-rumahan, kasih makan boneka, masak-masakan, dan lain-lain. Jadi perempuan, trainingnya sudah dari kecil, sementara suami, baru banget pas istri hamil dan melahirkan.” Sampai di sini, ada yang merasa bersalah, kah? Karena sudah jutekin dan marah-marah sama pak suami, lantaran nggak mau gantiin si kecil diapers? :D

Nah, tapi…, para pak suami. Insting kebapaan yang kalian miliki baru ada setelah tercemplung, ketika si kecil lahir. Bukannnya malah jadi pembenaran, ya…., untuk nggak melakukan apa-apa ya (mommies boleh banget baca keras-keras bagian ini ke suami di samping anda, hahaha).

Sama halnya seperti team work dalam sebuah perusahaan, keluarga itu mutlak dibutuhkan kerja sama. Dari hamil atau bahkan bisa juga ketika program hamil, Mbak Nadya punya saran yang win win solution. Luangan waktu untuk diskusi, tanyakan pada suami. Nanti ketika si jabang bayi lahir, kira-kira bentuk bantuan seperti apa ya, yang bisa dan mampu dikasih pak suami?

“Karena yang sering terjadi, ibu-ibu merasa suaminya tidak membantu mengurus anak. Tapi setelah diulik lebih jauh, sebenarnya si suami juga bantu, tapi bentuknya berbeda. Misalnya, kan, istri capek, pokoknya pas saya pulang kantor segala urusan rumah sudah diberesin sama suami. Istri saya butuh makanan apa, disediakan oleh suami,” kata Mbak Nadya, mengingatkan para istri juga harus adil sama suami, hihihi.

Kalau sudah ketemu kesepakatan, baru deh tuh. Harus sama-sama aware. Artinya gini mommies. Saat suami sudah komitmen bisa memberikan bantuan A, B, C dan seterusnya. Pada praktinya, kita juga jangan terlalu banyak mengomentari, “Harus banyak ngerem mulut,” kata Mbak Nadya, sambil berseloroh :D. Sementara itu, suami sebaiknya terus meningkatkan kemampuannya. Jangan terus bermain di zona aman. Jangan terus-terusan bilang, “Aku mampunya cuma segini.!” Prinsipnya, Mbak Nadya mengingatkan, pasutri  harus sama-sama, push to the limit. Jadi kalau mampunya ada di titik tertentu,  artinya mulainya bisa dari sini. Tapi bukan berarti terus menerus di titik itu. Harus sama-sama meningkatkan kemampuan.

Meski nggak ada indikator yang saklek. Sebetulnya kesiapan laki-laki menjadi calon ayah, bisa dilihat ketika ia belum menikah. “Paling kalau mau dilihat dari, bagaimana seseorang ini menjalani tanggung jawabnya sebelum dia siap menjadi ayah. Karena kalau tanggung jawab terhadap diri sendiri saja masih dipertanyakan , tanggung jawab terhadap pasangannya saja masih dipertanyakan. Apalagi kalau dia harus tanggung jawab pada satu makhluk yang belum bisa ngapai-ngapain,” tutup Mbak Nadya.


Post Comment