5 Kalimat yang (Masih) Sering Terucap, Namun Menjatuhkan Mental Anak

Siapa yang masih sering tak sengaja mengucapkan 5 kalimat di bawah ini? Nyatanya, ada lho, kalimat-kalimat yang bisa menjatuhkan semangat si kecil.

Menjelang usia Jordy anak saya menginjak 3 tahun, ia mulai menunjukkan ingin melakukan sekian hal sendiri. Misalnya mandi dan turunan kegiatan lainnya, gosok gigi dan keramas. Di sisi lain, saya agak gemas sih, takut kalau nggak bersih, terlalu lama, dst, dst. Padahal dalam hati kecil saya bilang, ketakutan saya itu bukan untuk kebutuhan anak. Melainkan karena saya belum bisa memberikan kepercayaan ke Jordy.

5 Kalimat yang (Masih) Sering Terucap, Namun Menjatuhkan Mental Anak - Mommies Daily

Malah sempat merasa bersalah, saat ada kalimat yang tak sengaja terucap, dan malah bisa menurunkan semangat Jordy buat belajar mandiri. Menurut Psikolog anak keluarga, Irma Gustiana A, M.Psi, Psi sampai lima tahun, “Justru yang muncul adalah fase ke-aku-an karena ia tengah mengalami transisi ke fase usia sekolah. Selain merayu orangtuanya, umumnya akan lebih senang bertolak belakang dengan orangtuanya. Disinilah kesabaran orangtua menjadi teruji.”

Belajar dari pengalaman yang sudah berlalu, dan tanya-tanya sesama ibu. Ada 3 kalimat, yang sebaiknya kita tahan untuk diucapkan.

1. “Duh, kok lama banget sih. Sini Mama bantuin!”

Anak bukan versi orang dewasa dalam bentuk mini. Dan setiap perkembangan setiap anak itu, juga unik mommies. Tidak bisa disamakan, antara satu anak dengan yang lainnya. Kalau dalam kasus saya, Jordy mau mencoba gosok gigi dan mandi sendiri, ya biarkan saja. Seperti yang sempat saya singgung di atas si kecil di usia 3 tahunan mulai menunjukkan fase ke-aku-an-nya. Salah satunya dengan berusaha melakukan sesuatu sendiri. Biarkan si kecil belajar mandiri. Dukung dalam bentuk kalimat lain, “Mama yakin, Jordy pasti bisa. Ulangi lagi sikat giginya, sampai bersih.” Kata Psikolog Anak Ellly Risman, dengan kalimat seperti ini anak juga pasti akan tergerak melakukannya dengan sendirinya. Sebagai orangtua, kita perlu merangsang inisiatif anak dan jangan jadi orangtua yang tergesa-gesa.

2. “Nanti saja, ya! Mama lagi sibuk, nih.”

Siapa yang masih sering mengucapkan kalimat seperti di atas?. Sejujurnya, saya juga suka spontan bilang ini ke Jordy, hiks. Dalam artikel Adisty, “Belajar untuk Tidak Salah Kaprah Jadi Orangtua,” Menurut Psikolog anak, Efnie kalimat seperti ini termasuk tindakan mengacuhkan anak, lho. Padahal sebagai anak, tentu mereka sangat merindukan momen kebersamaan ketika kita pulang bekerja. Kebayang nggak perasaan si kecil saat mendapatkan penolakan dari kita, padahal dia lagi pingin main atau sesederhana menceritakan kegiatannya di sekolah. Takutnya jika ini berlangsung terlalu sering, si kecil menganggap kehadiran dia nggak berarti, dan untuk apa bicara sama orangtua? Mommies bisa ganti dengan kalimat, “Sebentar ya, sayang, 5 menit lagi kita main.”

3. “Gitu aja cengeng / Anak laki-laki nggak boleh nangis.”

Mbak Fia, Managing Editor Mommies Daily, dalam artikelnya “Para Ayah Boleh ya, Jangan Katakan Ini Kepada Anak Laki-laki Anda,” , mengatakan dengan menangis anak belajar untuk mengekspresikan dan mengidentifikasi perasaan. Selama menangis tidak dijadikan ‘senjata’ untuk menghindari tanggung jawab, sah-sah aja kok anak laki-laki menangis. Takutnya, karena terbiasa dilarang menangis, si kecil tumbuh menjadj pribadi yang tidak memahami emosinya sendiri dan menciptakan perilaku negatif.

Selain itu, Jennifer Kogan, terapis dari Washington DC punya pendapat senada. Menurutnya, ketika dari kecil anak laki-laki dibentuk untuk menekan emosinya, kelak dalam relationship, mereka tumbuh menjadi orang yang tidak punya empati terhadap pasangan dan tidak mampu menunjukkan emosi.Nah!

4. “Kamu itu, kalau mama bilangin selalu nggak pernah dengerin.”

Maksudnya mungkin kalimat itu keluarga karena rasa kecewa kita, ya. Tapi hati-hati, ini bisa sekaligus menjadi doa, mommies. Jika terus-terusan anak diperdengarkan sesuatu yang negatif, ada risiko dia tersugesti menjadi pribadi seperti yang kita ungkapkan. IMHO, kalimat seperti ini bisa diubah dengan kalimat, “Kakak?Adik, tolong dengarkan Mama/Ayah dulu bicara boleh, ya?.”

5. Kalimat yang menghalangi rasa ingin tahunya

Mommies tahu sendiri ya, untuk anak yang beranjak 5 tahun, rasa ingin tahunya tuh, sedang ON banget. Apa saja ditanyain. Jordy lagi sering mengorek fakta soal dinosaurus. Satu jenis dinosaurus bisa dia tanya berulang kali, setiap harinya, “Bunda kalau brontosaurus makannya apa?”. Kalau saya menuruti suasana hati, ya jujur saja, sudah bosan :D. Nggak bijak kayaknya kalau saya jawab “Kan kemarin, sudah bunda jawab Jordy.” Masalahnya anak ini sedang mengeksplore rasa ingin tahunya. Ibaratnya lagi senang main bola, saya minta stop, tanpa menjelaskan alasannya. Ini sama saja mematikan insting kreativitasnya. Dan bukannya jadi orangtua yang menstimulasi rasa ingin tahunya.


Post Comment