3 Nasihat Pernikahan yang Boleh Banget Diabaikan

Berdasarkan pengalaman saya setelah sekian tahun mencoba menerapkannya dan saya tetap gagal mempertahankan pernikahan.

Saya bukan konselor pernikahan, lha gimana mau jadi konselor pernikahan kalau pernikahan saya saja terpaksa berakhir di tengah-tengah perjalanan. Kalaupun pada akhirnya saya membuat tulisan ini, anggap saja saya hanya ingin sharing pengalaman. Tidak ada paksaan untuk mengikutinya. Karena yang tidak berhasil di saya, siapa tahu aja malah sukses diterapkan di pasangan lain!

3 Nasihat Pernikahan yang Boleh Banget Diabaikan - Mommies Daily

1. Jangan pergi tidur kalau kita masih dalam kondisi marah
Setelah saya pikir-pikir, ini saran yang paling nggak make sense. Kalau kedua belah pihak sudah sama-sama menemukan jalan buntu untuk berdamai, apa iya harus terus dipaksakan sampai subuh? Ngapain maksain diri begadang, mencari solusi, berusaha damai kalau memang masing-masing masih marah? Dalam kondisi lelah, pikiran juga nggak maksimal untuk berpikir jernih. Di saat akal lagi nggak bisa berpikir jernih, yang ada emosi menang. Pergi tidur di saat kita masih emosi, bukan berarti kita nggak mau menyelesaikan masalah, kok. Tapi ini cara kita untuk menenangkan diri, cooling down. Harapannya, setelah badan dan pikiran cukup istirahat, besoknya kita dan pasangan bisa bicara dengan lebih nyaman. Saran saya? Tidur aja kalau memang sudah lelah berantem. Masih ada hari esok untuk kita menyelesaikan masalah. Asal, jangan kelamaan juga.

2. Bertahan demi anak-anak
Bertahan dalam sebuah pernikahan yang kondisinya ibarat kata seperti kawah candradimuka in the name of demi anak-anak, juga nggak fair menurut saya. Somehow saya yakin, anak-anak bisa ngerasain kok kalau memang kedua orangtuanya nggak happy dan nggak harmonis. Dan bertumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis bisa menciptakan trauma dalam diri anak-anak saya.

Contohnya? Anak saya yang besar, begitu tahu saya dan ayahnya mau ngobrol (mau ngobrol kami baik-baik sekalipun), dia sudah siap-siap menutup kedua telinga karena takut mama dan ayahnya saling teriak. Anak saya yang kecil, sampai menyarankan kami untuk pisah aja. FYI, anak bungsu saya bari berusia 8 tahun saat itu. Di situlah saya sadar, bahwa bagi anak-anak, berada di antara dua orangtua yang sibuk berantem jauh lebih berbahaya dibanding melihat orangtuanya berpisah namun memiliki hubungan baik.

3. Dahulukan kepentingan anak-anak
Ini salah satu hal yang membuat koneksi antara saya dan suami semakin jauh. Memikirkan kepentingan anak-anak memang sudah wajib hukumnya bagi saya dan ayahnya. Bukan berarti kemudian kita malah mengabaikan kepentingan-kepentingan kita. Saat orangtua terlaluuuuuu fokus dengan anak-anak, they lose other points of connection (ini yang saya alami).

Ingat-ingat, kita menikahi pasangan kita dulu barulah anak-anak muncul. Jadi, jangan abai juga terhadap kebutuhan pasangan. Saat anak-anak melihat orangtuanya tetap memberi perhatian satu sama lain, mereka belajar bentuk cinta yang baru dan mereka akan bahagia berada di rumah.

Itu ketiga nasihat yang pernah saya terapkan, dan gagal. Mungkin bukan 100 persen salah si nasihat. Bisa jadi saya dan mantan suami yang salah mencoba. Semua kembali kepada diri kita dan pasangan. Good luck mom .


Post Comment