Tentang Fitrah Perempuan

Ditulis oleh: Amelia Virginia

Apakah kamu merayakan Hari Ibu? Sebetulnya apa yang kita rayakan pada saat hari Ibu?

Sejujurnya, saya hanya merayakan dua hari besar: Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha. Oh, saya juga merayakan hari-hari yang sifatnya personal. Seperti hari ulang tahun dan hari perayaan pernikahan.

Nggak ada alasan khusus dari itu semua. Alasannya hanya satu: karena sejak kecil saya nggak pernah dibiasakan mereyakan hari-hari besar, selain Idul Fitri, Idul Adha, dan hari ulang tahun. Kemudian, pada saat menikah saya dan suami sepakat untuk merayakan hari pernikahan kami. Untuk mensyukuri, merenungi, dan bersyukur tentang kebersamaan kami. Dan sejak tahun lalu, saya menambah satu lagi perayaan, yaitu: HARI IBU.

Ibu saya adalah seorang pekerja. Ia bekerja di instasi pemerintah, merawat gigi masyarakat. Jam kerja Ibu nggak padat. Sebagai seorang pegawai negeri, Ibu nggak pernah berada di rumah setelah jam empat sore. Bahkan, di hari-hari tertentu, Ibu bisa menemani saya makan siang, kemudian kami tidur siang bersama.

Beliau juga bukan Ibu yang menyeramkan. Beliau adalah favorit teman-teman saya karena humoris dan asyik! Ibu juga digemari oleh keluarga besar saya. Perkumpulan keluarga tanpa Ibu, rasanya nggak seru. Bahkan, Ibu-ibu tentangga juga kerap menantikan kehadiran Ibu saya di setiap acara arisan.

Namun, begitu saya beranjak dewasa, banyak hal yang bertentangan dengan beliau. Gaya hidup, cara berpikir, dan nilai-nilai yang kami anut, hampir semuanya bersebrangan! Nggak jarang, kami bertengkar untuk hal-hal yang sepele. Namun, itu semua nggak mengurangi rasa cinta saya kepada Ibu. Karena, Ibu adalah Ibu saya.

Itu dia! Ibu adalah Ibu.

Saya nggak pernah merayakan hari Ibu karena…, Ibu adalah Ibu. Karena, itu semua sudah menjadi pilihan dan tanggung jawab bagi seorang Ibu, bukan, Jadi, apalagi yang spesial dari seorang Ibu?

Kalian pasti ingin menggetok saya, kan? Saya sendiri juga ingin menggetok diri ini. Beruntung, saya menyadari bahwa PERAN IBU DI DALAM KEDHIDUPAN JAUH DARI ITU SEMUA. Saya nggak jadi menggetok diri sendiri, deh.

 Tentang Fitrah Perempuan - Mommies Daily

Sejak saya hamil, saya merasa bahwa menjadi Ibu dimulai ketika seorang perempuan menginginkan dirinya untuk hamil. Ia harus menjaga asupan makanan yang masuk ke dalam dirinya. Ia pun harus rela mengubah gaya hidupnya.

Nggak lagi makan sembarangan — Pada saat untuk memiliki momongan, ia harus menjaga kondisi tubuhnya dengan baik.

Meninggalkan Rokok — Seorang perempuan perokok, harus rela menjauhi rokok dan asapnya jauh-jauh hari sebelum ia memutuskan untuk hamil.

Beristirahat dan meninggalkan aktivitas berat — Saat hamil, Ibu harus rela mengurangi aktivitasnya untuk menjaga kesehatan kandungannya.

Tidur dan bangun lebih awal — Nah! Saya rasa ini penyakit kaum urban. Berangkat kerja pagi-pagi sekali, dan pulang larut malam. Kondisi seperti ini membuat kita kehilangan beauty sleep, bukan? Begitu akhir pekan, kita memilih untuk bangun menjelang siang atau bahkan sore hari.

Menghindari stress — Saya memilih mundur dari pekerjaan yang saya sukai. Kondisinya yang terlalu stressful bagi saya, membuat saya memutuskan untuk resign dan memilih menjadi pengajar.

Begitu anak saya lahir, saya memutuskan untuk berhenti dari semua aktivitas pekerjaan, selain mengajar di kampus. Memutuskan untuk nggak bekerja, sama dengan minta uang jajan kepada suami. Bagi perempuan pekerja seperti saya, itu semua BUKAN PERKARA MUDAH! Berhenti bekerja juga sama dengan berhenti memiliki rutintas kantoran. Dan, saya rindu aktivitas itu.

Sampai suatu hari, pada hari Ibu, seorang teman menuliskan ini di Path-nya: Selamat Hari Ibu. Terima kasih kepada para perempuan yang sudah ikhlas menjalankan fitrahnya—seorang laki-laki yang menulis ini!

Kalimat itu bergema di kepala saya. Kencang sekali….

Pada saat gemanya hendak hilang, muncul notification dari grup yang saya ikuti. Ternyata, teman saya, Ibu beranak dua, mengirimkan ucapan Hari Ibu. Pesannya kira-kira begini: Selamat hari ibu, ya, Guys! Meskipun kurang me-time, meskipun capek banget, tapi tetap semangat, yaaaaa….

Sekarang, saya punya dua pesan Hari Ibu, yang kontradiktif. Satu berhitung soal kekurangan dari peran menjadi Ibu, sementara yang satu mengajak untuk bersyukur.

Sebelum mendapatkan kedua pesan Hari Ibu ini, saya ada di barisan Ibu-ibu yang selalu mengeluh tentang peran menajadi Ibu. Saya selalu perhitungan kepada anak saya. Misalnya: Kamu tidur, dong! Ibu, kan, mau ini-itu. Atau, Kamu tahu nggak, sih, Ibu itu capek banget ngurus kamu! Padahal, bayi kecil itu nggak pernah berhitung soal kasih sayang yang saya berikan untuknya.

Apakah saya bersyukur, diberi Tuhan kesempatan menjadi Ibu?

Teman, Tuhan menciptakan manusia dengan fitrahnya. Sama halnya dengan Tuhan menciptkan semesta dan kehidupannya ini.

Fitrah seorang perempuan seudah tertulis sejak ia dilahirkan. Ia nggak akan memiliki penis, jakun, dan segala macam bentuk biologis laki-laki. Ia akan memiliki rahim yang mulai matang pada saat ia puber, ditandai dengan menstruasi. Ia akan memiliki payudara yang akan ia gunakan untuk memberi kehidupan bagi manusia mungil yang lahir dari rahimnya.

Fitrah itu nggak bisa kita tolak, teman. Mungkin, dengan teknologi masa kini, kita bisa merekayasa itu semua. Namun, merekayasa satu hal akan berbuntut pada rekayasa lainnya. Apakah kita nggak lelah melakukan itu semua?

Jadi, bersyukurlah, teman—Ibu—untuk fitrah yang Tuhan berikan kepadamu. Tanpamu, tidak ada kehidupan baru di muka bumi ini :).

Jadi, siap merayakan Hari Ibu nanti di tanggal 22 Desember?


Post Comment