Ouch anak senang sentuh payudara bagaimana- Mommies Daily

Ouch, Anak Senang Sentuh Payudara Ibunya, Bagaimana?

Iya, saya tahu kalau sentuhan ibu itu ‘sakti’. Punya segudang manfaat bahkan bisa berpengaruh pada kesehatan mental anak. Tapi bagaimana kalau anak senang sentuh area sensitif ibunya, seperti payudara?

Seingat saya, sepanjang jadi ibu hampir setiap malam anak saya selalu minta untuk dielus-elus telapak tangannya. Kalau nggak telapak tangan, ya, telapak kaki. Semula sih saya senang-senang saja, tapi lama kelamaan, ketika anak sudah besar seperti sekarang, kok, saya jadi khawatir, ya, takut kebiasaan ini terbawa terus sampai anak dewasa. Terlebih, kalau sampai memengaruhi kemandiriannya?

Kekhawatiran lain dirasakan teman saya yang lain. Ia merasa sangat terganggu ketika anaknya yang berusia 1.5 tahun sering kali memegang payudaranya. “Memang, sih, anak aku belum terlalu besar. Tapi tetap saja saya merasa risih,” ungkapnya.

Umh….bisa kebayang, sih, ya, kalau hal ini memang berlanjut sampai anak sudah besar? Pasti risihnya bukan main.

Ouch anak senang sentuh payudara bagaimana- Mommies Daily

Berkaitan dengan sentuhan ibu, belum lama ini saya datang ke acara Nivea yang meluncurkan campaign terbarunya, Sentuhan Ibu. Sebagai salah satu brand perawatan kulit, Nivea sadar sekali kalau sentuhan ibu sangat penting bagi pertumbuhan anak.

Di awal acara, Vera Itabiliana mengungkapkan kalau sentuhan ibu memiliki kekuatan yang luar biasa. Bahkan berpengaruh pada kesehatan mental dan sosial anak saat dewasa. “Sentuhan ibu memang sakti karena dapat memberikan berbagai manfaat secara emosional pada anak,” ungkap psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPTUI), Jakarta ini.

Tapi yang perlu digaris bawahi, sentuhan ini juga perlu memberikan kenyamanan untuk dua belah pihak. Baik bagi ibunya dan anaknya. Artinya, jika sentuhan tersebut tidak nyaman untuk salah satu pihak, baiknya alihkan pada area yang lain.

Untuk itu, jika memang si kecil terbiasa untuk menyentuh area sensitive seperti payudara, langsung saja alihkan pada area yang lainnya. “Sentuhan ini memang jangan di area sensitive, dengan  begitu kita juga bisa menyelipkan pendidikan seks pada anak. Mana area yang boleh disentuh, dan mana yang tidak,” tambah Mbak Vera.

Lebih lanjut, Mbak Vera menegaskan, jika anak memang terbiasa memegang area payudara, sebaiknya dihentikan berbarengan dengan stop ASI, dengan menjelaskan pada anak kalau itu area pribadi sehingga ibu tidak nyaman dipegang, lalu alihkan ke bagian lain seperti lengan.

“Jika dibiasakan terus menerus, akan berdampak pada kemandiriannya juga. Bilang saja, cari nenen itu kan ciri anak bayi. Anak itu juga belajar dari pembiasaa, kalau dia begitu ke ibunya, artinya nanti orang lain juga boleh diperlukan atau memperlakukan hal yang  sama.”

Walaupun begitu, bukan berarti sentuhan ibu ini jadi harus segera dihentikan lho ya. Seiring bertambahnya usia anak, sentuhan ibu tetap harus dilakukan. Misalnya, ketika ngobrol sama anak remaja, jangan lupa sambil sentuh pundaknya.

Perlu diketahui kalau sentuhan ibu ini bermanfaat untuk kedua belah pihak. Untuk Ibu, bisa menimbulkan perasaan bahagia juga. Karena jadi tahu kalau anak merasa nyaman dan menikmati kebersamaan dengannga. “Ini menimbulkan perasaan bahagia pada ibu bahwa dia sudah doing a good job as a mother,” kata Vera.

Sementara untuk anak-anak yang sering kali mendapat sentuhan ibu sejak kecil
bisa menimbulkan rasa lebih diterima dan dibutuhkan ketika mendapatkan sentuhan kasih sayang yang melimpah saat masih kecil. Pertahanan terhadap tekanan atau stres pada anak yang sering mendapatkan perhatian secara fisik juga cenderung lebih tangguh, lebih mudah percaya kepada orang lain, serta fleksibel atau mudah bergaul.


Post Comment