What Are Your Rules For Being Fabulous?

Saya lagi nggak bicara tentang beauty things….. saya bicara tentang sifat dan sikap, ingredients yang jauuuh lebih penting untuk kita bisa menjadi ‘fabulous.’

Tahun 2017 ini bisa dibilang tahun yang berat untuk saya. Banyak hal terjadi yang tidak sesuai dengan harapan saya. Paling berat? Perpisahan saya dengan ayah dari anak-anak saya, setelah belasan tahun kami menikah.
Di awal-awal perpisahan terjadi, jangan ditanya gimana perasaan saya :(

Apalagi saya tipikal orang yang tidak biasa berbagi masalah. Hanya segelintir teman-teman yang tahu dan paham kondisi saya saat itu (terima kasih buat kalian semua, yang rela nerima curhatan saya, nggak peduli itu pagi, siang, sore, malam hingga subuh. Mendengar dan melihat saya menangis. You know who you are :p

Sampai seorang teman kantor pernah sambil bercanda bilang, kalau wajah saya kayak kanebo kering. Nggak makeup, kaku, dan lecek, hehehe. Hari-hari di saat kerjaan saya hanya nangis, nangis dan nangis di kamar atau di mobil ketika sedang sendirian. Boro-boro mikir makeup dan dandan cantik, bisa berangkat ke kantor aja udah syukur Alhamdulillah :D.

FullSizeRender

Butuh waktu nyaris satu tahun untuk saya kemudian berani bicara lebih terbuka tentang kondisi dan status saya. Karena dengan terbuka membuat proses pemulihan emosi saya berjalan lebih baik.

Saya nggak pernah menyangka bisa di titik ini….. titik ketika saya bisa menulis mengenai perpisahan saya dan membiarkan orang-orang yang mungkin tidak saya kenal dengan baik mengetahui kondisi saya yang sebenar-benarnya. Titik ketika saya merasa bahwa siklus tergelap dalam hidup saya akhirnya mampu saya lewati. Titik ketika saya memiliki keinginan untuk bangkit, untuk kembali tersenyum, bukan hanya karena demi anak-anak, namun demi diri saya sendiri, karena saya menganggap diri saya layak untuk saya cintai dan hargai.

Menjadi janda dari dua anak, bukan status yang buruk untuk saya sandang. Bukan berarti saya nggak bisa menjalani hidup dengan ‘keren’ dan being fabulous, hahaha. So, what are your rules for being fabulous? Untuk saya pribadi, saya hanya perlu menguatkan tekad untuk terus melakukan hal-hal berikut ini:

Nggak lupa untuk tersenyum. 

Untuk yang sudah lama kenal saya pasti paham banget gimana setting-an wajah saya yang selalu kencang dan tanpa senyum. Jadi, mulai hari ini, saya mau mulai sering senyum dan tertawa, karena itu membuat saya merasa lebih cantik :D.

Menjadi pendengar yang baik

Listening will help you grow as a person. Menjadi pedengar yang baik mengajarkan saya melihat masalah dari perspektif orang lain, one that I’ve never contemplated before.

Belajar mengatakan hal-hal yang baik. 

Take the time to think before say something. Belajar dari pernikahan saya yang gagal, banyak hal menyakitkan yang disebabkan karena kami sama-sama nggak menyaring ucapan-ucapan kami. We can be honest without being hurtful.

Thing carefully before Act.

Nggak hanya urusan berpikir sebelum berbicara, hal yang sama mulai saya terapkan dalam bertindak. Pikir, pikir, pikir dulu Fiaaaaa!! Ini yang selalu saya bisikkan di dalam pikiran saya. Sesimple kalau mau belanja baju, mikir dulu, beneran perlu atau cuma gatal belanja :p.

 Find a way of keeping my emotions under control

Banyak cara untuk merealisasikannya. Banyak berdoa, berhitung sampai 10, 20 atau bahkan 100, mencoba melihat segala kondisi dari sisi negatif dan positif.

Jangan berhenti belajar

Selalu banyak ilmu baru yang bisa saya pelajari asalkan saya nggak nutup mata dan telinga. Tahun 2018, saya sudah punya beberapa list yang ingin saya pelajari :D.

LOVE MYSELF. ALWAYS!!!

Last but not least, saya belajar untuk mencintai diri saya lebih banyak dan lebih sering lagi. Kelihatannya mudah, tapi ternyata nggak semudah itu untuk dijalankan. Apalagi dengan pengalaman saya satu tahun terakhir ini yang sukses membuat saya merasa insecure, merasa sulit percaya sama orang, merasa nggak nyaman dengan sebuah hubungan dan nggak percaya dengan diri saya sendiri. Sampai seorang psikolog mengatakan kepada saya “Learn to accept praise and accommodate it!”

Jadi, anggaplah menerima pujian dari orang lain menjadi salah satu cara saya untuk mencintai diri sendiri. Dan, saya pun belajar untuk kembali melihat kelebihan-kelebihan yang saya miliki. Saya belajar untuk terkadang mendahului kepentingan dan keinginan saya dibanding anak-anak saya.

So, what are your rules for being fabulous?


Post Comment