Sophia Hage, Dokter Kesehatan Olahraga yang Peduli dengan Penyintas Kekerasan Seksual

Tak banyak yang memilih profesi sebagai dokter kesehatan olahraga. Sophia Hage, memilih jalur ini, karena sebuah alasan kuat. Tak hanya itu, ia juga mendirikan Yayasan Lentera Sintas Indonesia, menaungi para penyintas korban kekerasan seksual.

Ada yang pernah dengar nggak profesi dokter yang khusus mendalami kesehatan olahraga? Mungkin pernah, ya. Tapi kayaknya masih jarang ada yang mengambil spesialisasi ini. Salah satunya adalah Sophia Hage (33), lulusan Universitas Indonesia, jurusan Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga.

Sophia Hage - Mommies Daily

Beberapa tahun lalu, sebelum akhirnya dia mantap mengambil spesialisasi kesehatan olahraga. Kualitas kesehatan Sophia sempat tidak baik. Ia sering kali mengalami migrain, yang disebabkan oleh hormon. Tingkat keparahannya, sudah sampai tergantung pada obat.

Sampailah Sophia di satu titik, harus mengambil kontrol atas hidupnya 100%, bukan kebalikannya, ia dikontrol obat. “Saya merasa harusnya nggak seperti ini, seharusnya saya bisa ambil kontrol akan hidup saya sendiri. Akhirnya mulai mengubah gaya hidup, dimulainya dengan olahraga teratur. Harapannya bukan untuk lepas obat, lebih ke, jarang minum obat. Selain itu juga menerapkan pola makan sehat. Dari situ, akhirnya keluhan migrain saya berangsur berkurang drastis frekuensinya,” papar Sophia lebih lanjut.

Episode baru dalam kehidupannya pun dimulai, saat ia mau mengambil spesialisasi. Berangkat dari sejarah kesehatannya yang kurang baik, ia ingin sekali mengambil spesialisasi olahraga, karena ia merasa hidupnya berubah, karena rajin olahraga. Selain itu, kata Sophia, ia ingin mengambi sesuatu yang ia cintai. Jadi kalau dilakukan seumur hidup, tidak merasa terbebani.

Sebagai dokter kesehatan olahraga, tentu dong, gaya hidupnya tak lepas dari olahraga dan pola makan sehat. Olahraga Sophia, ia lakukan bersama timnya di kliniktiga kali seminggu, berupa cardio, zumba atau circuit training.

Untuk pola makan, sebagai dokter. Ternyata Sophia nggak segitu ketatnya kok, hihihi. Yang penting menurutnya makan teratur dan seimbang dan bergizi. “Yang saya hindari adalah makanan instan, terus terang kalau makanan instan dan fast food sudah jarang banget makan. Mungkin hanya 1 bulan sekali, atau lebih jarang lagi dua bulan sekali. Dan lebih banyak makan makanan bergizi. Perbanyak buah dan sayur. Bukan berarti nggak makan daging, ayam dan ikan, masih sih. Tapi sudah sangat berkurang . Paling seminggu dua sampai tiga kali seminggu. 50% dari makanan kita itu isinya serat. Sekali-kali masih juga kok makan martabak, hahaha.”

Buat mommies yang penasaran, apa sih sebetulnya yang dilakukan Sophia sebagai dokter kesehatan olahraga, kepada para pasiennya. Setelah saya ulik, Sophia membagi tipe pasiennya menjadi dua.

  1. Pasien yang sudah mulai olahraga atau olahraga dengan teratur. Lalu ada masalah, berupa cedera olahraga, atau meningkatkan intensitas waktu saat lari atau sepedaan. Atau mau mencapai target tertentu.
  2. Pasien yang punya keluhan dan bisa diselesaikan dengan latihan, atau olahraga. Misalnya nyeri punggung bawah. Ternyata karena berhubungan dengan posturnya yang buruk. Keluhan itu bisa kami bantu, dengan latihan kekuatan otot dan latihan fisik.

Sophia, juga sosok yang peduli dengan para penyintas kekerasan seksual

Sudahlah cantik, pintar, lalu punya jiwa sosial yang tinggi pula. Adalah kesan saya ngobrol hampir setengah jam dengan perempuan yang juga menjabat sebagai Manajer Klinik gaya hidup dan olaharaga (Medifit), di kawasan Jakarta Pusat.

Berawal 2011 silam, saat dia dengan dua orang temannya berkumpul dan membuat komunitas peduli akan nasib para korban kekerasan seksual. Dilanjutkan dengan menyuarakan seputar isu, sebagian orang yang masih menyepelekan tindakan perkosaan, dan pemahaman tentang kekerasan pada perempuan juga masih sangat rendah,

“Kami mulai bersuara atas nama para penyintas. Setelah apa yang sudah kami lakukan, banyak cerita masuk ke kami. Entah itu bentuknya apresiasi atau berbagi cerita, bahwa mereka pernah mengalami kekerasan. Dari semua cerita yang masuk itu, kami memutuskan untuk memfasilitasi mereka untuk ketemu. Supaya mereka punya wadah untuk cerita dengan nyaman dan aman. Agar para penyintas juga merasa punya teman selama masa pemulihan,” ungkap Sophia.

Akhirnya pada tahun 2013, Sophia bersama rekan-rekannya membuat komunitas lewat Yayasan Lentera Sintas Indonesia. Harapannya agar semua kegiatan yang sudah ia rintis bersama teman-temannya, bisa berkesinambungan.

Sophia juga menuturkan. Kasus yang paling banyak ia tangani adalah kekerasan seksual yang terjadi di masa kecil. Tapi, baru bisa diungkapkan oleh para penyintas, ketika mereka dewasa, bahkan ada korban yang sudah berusia lanjut, baru mempunyai keberanian menumpahkan kegelisahannya selama berpuluh tahun lamanya. Bentuknya ada yang percobaan perkosaan, yang sudah diperkosa atau kekerasan seksual lainnya.

Saat saya tanya, kenapa ya kok para korban sampai bisa menahan cerita bertahun-tahun lamanya? Sophia mengungkapkan data dari hasil suvei yang pernah dilakukan. Dari data itu diketahui, “Karena mareka malu dan takut. Takut disalahkan, takut dikucilkan. Malu dan takut itu sebenarnya akibat dari, mereka melihat, bahwa orang yang menyalahkan para korban masih banyak. Respond masyarakat atau individual masih sering menyoroti korban daripada pelaku. Sehingga ketika hal ini terjadi pada mereka, korban akan  takut dihakimi oleh orang-orang sekitarnya.”

Lalu apa ya, yang bisa kita lakukan jika dalam di posisi kita yang dipercaya menjadi teman curhat penyintas kekerasan seksual. Sophia menuturkan, setidaknya ada tiga cara yang bisa mommies tempuh.

  1. Mendengarkan, dengan sungguh-sungguh
  1. Tidak menghakimi. Seringkali orang mengeluarkan komentar, bukan untuk menyalahkan sih sebetulhya, lebih karena tidak tahu harus merespon apa. Bentuk kalimat respon yang sebaiknya dihindari adalah:

“Kenapa nggak cerita?” sebagian orang mungkin ada yang berpikir ini adalah bentuk respon normal. Tapi kalau dari perspektif korban, kalimat ini sebetulnya tidak nyaman untuk mereka. Karena mereka pikir, bentuk respond\ ini, akan menyalahkan mereka. Padahal mereka tidak bisa langsung cerita, karena masih trauma, rasa malu masih sangat besar.

  1. Tanya, apa yang dapat kita lakukan untuk korban

Sukses terus untuk profesi kamu dan gerakan sosial, Mbak di Yayasan Lentera Sintas Indonesia. Semoga makin banyak teman-teman penyintas kekerasan seksual yang berani berbicara dan merasa dirangkul :)


Post Comment