Mengenal Histeroskopi, Diagnosa Kelainan pada Rahim yang Minim Risiko  - Mommies Daily

Mengenal Histeroskopi, Diagnosa Kelainan pada Rahim yang Minim Risiko

Ada yang pernah dengar tentang histeroskopi? Tindakan bedah yang dilakukan dalam Rahim. Untuk apa, dan kepada siapa bedah ini biasanya dilakukan?

“Tha, teman kakak ada yang lagi berjuang karena kanker Rahim. Doain ya.”

“Tapi sekarang, kondisinya sudah sangat memprihatinkan.”

“Duh, kak, turut berduka cita, ya, kak. Semoga teman kakak dikasih situasi yang terbaik, ya”

Cuplikan pembicaraan dengan kakak saya di atas, berujung pada obrolan seputar betapa mahalnya kesehatan buat siapa saja, khususnya perempuan. Lalu makin meruncing, saat perempuan beranjak dewasa, menikah dan sudah menjadi ibu, akan lebih banyak serangkaian test kesehatan reproduksi perempuan yang sebaiknya dilakukan.

Mengenal Histeroskopi, Diagnosa Kelainan pada Rahim yang Minim Risiko  - Mommies Daily

Seperti apa yang pernah dikemukakan Adisty, dalam artikelnya mengenai tes kesehatan reproduksi perempuan, kata dokter Obgyn langganan Adis, dr. M. Soemanadi SpOG, idealnya, perempuan yang sudah memasuki usia 20 tahun harus rutin melakukan pemeriksaan. Apalagi, buat perempuan yang sudah melakukan hubungan seksual secara rutin. Pemeriksaan yang dimaksud, mencakup: USG payudara, papa smear dan STD (Sexually Transmitter Disease). Dua test terakhir, fokus ke bagian reproduksi perempuan. Karena bagian ini semacam aset perempuan, misalnya saja untuk mendapatkan keturunan.

Adakalanya situasi tidak menguntungkan menimpa seorang perempuan, yang berkaitan dengan organ reproduksi, dan beberapa di antaranya menyerang rahim. Seperti yang dialami teman kakak saya, dalam cuplikan cerita di atas. Jika ada yang dirasa tidak normal pada rahim mommies, coba deh, segera periksakan ke dokter kandungan, untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Menurut dr. M.Y.A. Widyanugraha, SpOG, dari Divisi Fertiltas, Endokrinologi dan Reproduksi Obgyn RSUD dr. Soetomo, atau akrab dengan sapaan dr. Wiwid. Salah satu tindakan diagnosa pada rahim, ada yang dinamakan Histeroskopi, yaitu salah satu tindakan bedah minimal invasif dengan memasukkan alat yang disebut histeroskop ke dalam rongga rahim. Histeroskopi dilakukan untuk membantu diagnosis dengan melakukan evaluasi permukaan rongga rahim atau dapat juga digunakan untuk terapi kelainan pada rahim.

Kapan seseorang harus menjalankan histeroskopi & apakah berisiko?

Lebih lanjut dr. Wiwid menjelaskan Salah satu alasan yang paling sering adalah untuk menemukan penyebab dari perdarahan uterus (rahim) abnormal (PUA). PUA dapat diartikan sebagai kelainan haid baik dalam hal jumlah maupun lamanya. Histeroskopi juga dilakukan pada kondisi sebagai berikut :

  • Polip endometrium atau servik
  • Mioma uteri
  • Biopsi endometrium
  • Adhesi (perlekatan) intrauterin
  • Ablasi endometrium (suatu proses untuk menghancurkan lapisan endometrium, biasanya digunakan untuk pengobatan pada perdarahan uterus yang tidak teratur atau berat)

Metode ini kata dr. Wiwid relatif aman, dengan waktu pemulihan yang cepat. Artinya, hampir semua pasien pulang ke rumah pada hari yang sama setelah operasi dengan tehnik histeroskopi. Tak hanya itu, dari segi estetika tidak ada luka pada perut, sehingga meminimalkan rasa nyeri setelah operasi.

Namun, dr. Wiwid mengingatkan, tetap ada risiko yang mungkin saja dialami pasien, meskipun jarang terjadi. Yaitu tertusuknya servik atau rahim dengan alat histeroskopi, perdarahan atau cairan berlebih yang masuk ke dalam tubuh (water intoxication). Beberapa hari setelah histeroskopi, kadang – kadang muncul keluhan bercak. Hal ini masih dianggap normal, Namun, bila keluhan bercak dan nyeri tetap berlanjut, segera konsultasikan dengan dokter.

Bagaimana proses histeroskopi?

  1. Wiwid menjelaskan ada beberapa tahapan, yang akan dialami pasien sebelum tindakan ini dilakukan, yaitu:
  2. Pasien akan diberikan pengobatan untuk membantu agar lebih rileks, atau pembiusan (bisa bius lokal atau general) untuk memblok nyeri.
  3. Jika pasien diberikan anestesi general, maka akan tertidur selama tindakan. Untuk mempermudah tindakan, dilakukan dilatasi servik lebih dulu.
  4. Setelah itu, alat histeroskop dimasukkan ke dalam rahim. Cairan infus (Normal saline) dialirkan melalui histeroskop ke dalam rongga rahim untuk membantu distensi rongga rahim serta membantu mendapatkan visualisasi yang baik.
  5. Setelah evaluasi permukaan rongga rahim secara visual selesai dikerjakan, beberapa instrumen yang berbeda dapat dimasukkan melalui histeroskop untuk melakukan terapi dari kelainan yang ditemukan.


Post Comment