Single Mom Survival Guide: dr Opy Dyah Paramita SpA – “Membuat prioritas dalam hidup membantu saya kuat menjalani perceraian.”

Bercerai ketika anaknya masih berusia 2 tahun tak lantas membuat Opy terpuruk. 10 tahun kemudian dia membuktikan, bahwa dia mampu membawa terbang anaknya setinggi mungkin walau hanya dengan satu sayap.

Mengenal sosok perempuan satu ini sejak bersama – sama duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama membuat saya pahaaaam banget bagaimana serunya perjalanan hidup single mom beranak satu ini, sejak menikah, bercerai hingga saat ini dia hidup bahagia bersama Shahnaz, anak semata wayangnya.

Bercerai ketika sedang menempuh pendidik dokter spesialis anak, Opy membuktikan bahwa nggak ada yang nggak mungkin dilakukan oleh seorang single mom. Sekarang, menjabat sebagai salah satu Direktur Rumah Sakit di RSUD Jakarta, Opy juga berhasil membuat anaknya masuk ke sekolah favorit di Jakarta, lho! Bagaimana survival guide versi Opy?

Single Mom Survival Guide:  dr Opy Dyah Paramita SpA – “Membuat prioritas dalam hidup membantu saya kuat menjalani perceraian.” - Mommies Daily

1. Moving On Tips…

Ada beberapa hal yang saya lakukan untuk membuat saya mampu menjalani ini semua:
a. Membuat prioritas dalam hidup, di mana nomor satu adalah anak, nomor dua adalah pendidikan dan pekerjaan serta nomor tiga adalah keuarga besar.
b. Menyadari bahwa sebagai manusia, saya pasti punya keterbatasan. Semakin banyak beban yang saya bawa, maka saya semakin tidak bisa berjalan dengan cepat.
c. Memaafkan mantan suami saya.
d. Menjalin hubungan baik dengan mantan mertua. Caranya? Rutin membawa anak saya setiap tahun untuk ke rumah neneknya. Apakah mantan mertua bersikap baik atau tidak, kita tetap wajib menjaga hubungan baik demi anak.
e. Menerima takdir.
f. Mengoreksi diri sendiri, karena bagaimanapun pasti saya juga ada andil hingga perceraian ini terjadi.
g. Mendekatkan diri kepada Tuhan YME
h. Tidak menjelekkan pasangan di depan anak.
i. Mengembalikan semua hal yang tidak bisa saya tangani ke Tuhan YME.
j. Banyak bersyukur dan mengingat kalau masih banyak orang lain lebih menderita daripada saya.
k. Membuka diri dengan teman-teman dan bersosialisasi sebanyak mungkin.

2. Bagaimana kehidupan pasca bercerai?

Well, untuk saya pribadi saya memberikan waktu untuk diri sendiri. Butuh waktu satu tahun untuk saya bisa membuka diri, mulai dari mengumumkan tentang perceraian saya hingga membuka hati untuk orang baru. Melanjutkan hidup berdasarkan prioritas, fokus pada sekolah dan pekerjaan. Dan berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi anak dan membuktikan ke orang-orang kalau saya mampu melakukannya.

Sedangkan untuk Shahnaz, saya sempat membawanya ke psikolog anak saat dia berumur 3 tahun karena saat itu ada kecenderungan dia berlaku eksplosif. Namun saat ini Shahnaz sudah bisa menerima kenyataan, walaupun memang butuh waktu.

3. Bagaimana memanage relationship dengan mantan suami?

a. Setiap Lebaran saya membawa Shahnaz datang ke rumah neneknya untuk silaturahmi.
b. Setiap perkembangan Shahnaz, baik itu saat dia mau ujian, masuk sekolah dll selalu saya informasikan melaui SMS, WA, Messenger di IG atau Facebook.
c. Shahnaz suka menghubungi bapaknya, untuk bertemu atau menginap di rumah Budenya.

4. 3 Kekhawatiran terbesar pasca bercerai dan bagaimana menanganinya?

a. Anak. Dua tahun pertama perceraian adalah masa yang paling berat. Shahnaz selalu menanyakan ayahnya, suka menangis, nggak ngerti kenapa ayahnya pergi. Dalam kondisi seperti ini, saya jadi lebih banyak meluangkan waktu, lebih sering memeluk Shahnaz, menemaninya saat tidur, dan ini kebawa sampai sekarang, kami masih tidur berdua, hahaha. Saya juga meminta keluarga untuk sering-sering menemani Shahnaz dan lebih jeli melihat perubahan perilaku. Kalau ada sesuatu yang terlihat aneh, jangan sungkan mengajak si kecil ke Psikolog. Waktu Shahnaz mendapat terapi bermain untuk mengurangi trauma dan stress.

b. Memenuhi kebutuhah psikis dan jasmani saya. Well, mengingat saya bercerai di usia 27 tahun, jujur saja saya masih membutuhkan seseorang untuk memeluk, menyayangi, memberikan sentuhan serta kebutuhan akan seks, hahaha. Kalau sudah begini, saya perbanyak ibadah saja untuk mengalihkan pikiran.

c. Menghadapi opini dari keluarga besar, karena di keluarga besar saya belum ada yang bercerai. Selain itu saya juga harus pintar menjaga diri karena suka atau tidak, status janda mengundang laki-laki untuk mendekati, mulai dari yang niat baik atau yang sekadar menggoda.

Single Mom Survival Guide:  dr Opy Dyah Paramita SpA – “Membuat prioritas dalam hidup membantu saya kuat menjalani perceraian.” - Mommies Daily

5. 3 Hal yang membuat hidup pasca bercerai akan baik-baik saja

Tuhan Yang Maha Esa, kehadiran anak yang menguatkan saya serta dukungan keluarga. Keluarga saya selalu ada untuk saya.

6. Ada nggak single mom yang menjadi panutan?

Ibunya teman saya. Beliau menjadi single mom karena suaminya meninggal, tidak punya pekerjaan dan harus membesarkan 4 orang anak. Namun, beliau bisa menyekolahkan anak-anaknya dan semua anaknya berhasil secara agama serta karier.

Untuk semua single mom di luar sana, semoga survival guide dari Opy ini bisa menjadi suntikan semangat ya :).


Post Comment