Sudahkah Kebutuhan Zat Besi Si Kecil Tercukupi?

Tahu tidak, kalau sampai sekarang banyak orangtua  yang tidak menyadari kalau kebutuhan zat besi untuk anaknya belum tercukupi? Akibatnya tentu saja membuat anak rentan mengalami anemia. Dan tahukah mommies, kalau anak kekurangan zat besi bisa menimbulkan perilaku makan yang tidak biasa?

Ngomongin masalah anemia, saya jadi ingat zaman hamil dulu. Dokter kandungan saya, sering kali mengingatkan saya untuk menjaga makanan, khususnya makanan yang mengandung zat besi. Ujung-ujungnya tiada hari mengonsumsi makanan seperti ikan, daging merah, ayam, sayur berwarna hijau gelap, kacang-kacangan dan biji-bijian, bahkan saya pun diminta untuk mengonsumsi suplemen sebagai tambahan. Karena cukup paham kalau anemia bisa meningkatkan risiko komplikasi kehamilan, saya pun cukup patuh dengan  semua saran dokter. Ibu mana, sih, yang nggak ingin lahir dengan  kondisi anak sehat?

Masalah anemia ini sebenarnya nggak hanya sering dialami para ibu hamil saja. Anak-anak pun banyak yang mengalami, khususnya usia pra sekolah. Hal ini semakin dipertegas dengan adanya hasil survei kesehatan rumah tangga (SKRT) melaporkan kejadian anemia defisiensi besi sebanyak 48,1% pada kelompok usia balita dan 47,3% pada kelompok usia anak sekolah. Sayangnya, nih, kondisi kekurangan zat besi ini sering tidak disadari orangtua.

kebutuhan zat besi untuk anak

Memang, sebagai negara berkembang, kita nggak bisa menutup mata kalau masih banyak permasalahan gizi yang terjadi di Indonesia, salah satunya kekurangan zat gizi makro maupun gizi mikro seperti anemia. Anemia dapat terjadi karena kurangnya zat besi dalam tubuh sehingga cadangan zat besi untuk pembentukan sel darah merah berkurang yang menyebabkan kadar hemoglobin (Hb) darah kurang dari normal.

Namun karena pada fase awal penyakit, anemia pada anak biasanya tidak menunjukkan gejala, makanya tidak sedikit orangtua yang tidak menyadarinya. Konsultan gizi, Jansen Ongko MSc, RD menjelaskan kalau terus berlanjut atau kadar Hb sangat rendah, kurangnya sel darah merah yang membawa oksigen menyebabkan tubuh kekurangan pasokan oksigen dan organ tubuh tidak berfungsi dengan baik. Kemudian akan bisa menimbulkan berbagai gejala seperti anak menjadi mulai lemas, lelah, lesu, kulit terlihat pucat, kuku jari tangan pucat, sesak napas, berat badan tidak naik optimal bahkan dapat terjadi penurunan berat badan.

Lebih membahayakan lagi, pengarang buku dan juga founder dari Lagizi Health & Nutrition Services ini memaparkan kalau anak juga rentan terkena infeksi karena menurunnya sistem kekebalan tubuh sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi. Selain itu berkurangnya kandungan besi dalam tubuh juga dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan organ tubuh akibat oksigenasi ke jaringan berkurang.

Cuma itu? Jelas tida, defisiensi besi ini juga berdampak buruk pada otak karena dapat menyebabkan transfer oksigen terhambat, kecepatan hantar impuls syaraf terganggu, serta gangguan perilaku dan konsentrasi sehingga anak akan ,mengalami penurunan daya konsentrasi, daya ingat rendah, dan tingkat IQ yang rendah. Akibatnya penurunan prestasi belajar dan kemampuan fisik pada anak.

Anemia pada anak juga dapat menimbulkan prilaku makan yang tidak biasa yang disebut pica seperti mengonsumsi es batu, tepung, tanah, rumput, dan daun-daunan. Kondisi ini biasanya pulih setelah anemia teratasi dan anak tumbuh dewasa.

Mengingat dampat defiseinsi besi pada anak cukup ‘menyeramkan’, Jansen selaku educator gizi mengingatkan para orangtua untuk bisa lebih aware akan kebutuhan zat besi anak. Untuk itulah diperlukan pembiasaan yang harus dikenalkan pada anak sejak dini. Pembiasaan yang dimaksud tentu saja dimulai dengan mengenalkan gaya hidup sehat. Dengan mengonsumsi mengonsumsi makan sehat dan bervariasi. Bahan pangan yang dipilih harus mengandung zat besi.

Seperti yang sudah sempat saya singgung di atas, makanan yang mengandung zat besi paling banyak terkandung dalam kelompok lauk-pauk, seperti hati, daging sapi, telur, dan ikan sebagai sumber protein hewani yang mudah diserap. Kalau sayur, pilih kacang-kacangan, kismis, tahu, dan kacang mete. Dan jangan lupa seimbangkan dengan buah-buahan  seperti apel, jambu, pepaya, belimbing, alpukat, nangka, salak, dan srikaya.

Selain itu, perhatikan juga Vitamin B12 bermanfaat untuk melepaskan folat sehingga dapat membantu pembentukan sel darah merah serta vitamin C yang penting dikonsumsi karena bisa membantu penyerapan zat besi.  Untuk memaksimalkan usaha kita menambah zat  besi, nggak ada salahnya juga kok memberikan minum yang memiliki komposisi zat besi dan zink yang tinggi. Paling tidak, kita perlu mengacu angka kecukupan gizi (AKG), yang menyebutkan kalau  kebutuhan ideal anak usia sekolah adalah zat besi 10 mg dan zink 11,2 mg.

Jadi kebutuhan zat besi anak, sudah terpenuhi atau belum?

 


Post Comment