Film Naura dan Genk Juara yang Ternyata Nggak Perlu Diboikot

Serius, saya sudah nonton film Naura dan Genk Juara. Dan menurut saya, film ini justru layak ditonton semua anak, nggak perlu diboikot apalagi sampai ikutan menandatangani petisi untuk menurunkan film ini. Karena nonsense kalau dibilang film ini dibilang mendiskreditkan umat Islam. Nggak usah lebay, deh!

Tiga hari lalu, saat saya masih riweh dengan drama pagi hari, notifikasi WhatsApp saya bunyi. Setelah dicek, ternyata ada pesan dari teman semasa kuliah dulu yang isinya, “Dis…. Loe udah nonton film Naura belum? Kok, katanya film tersebut melecehkan Islam ya? Di time line FB gue dan beberapa WAG juga nge-share. Masa, sih, Dis?”

Duh, apa lagi ini? Film anak-anak kok, dikaitkan dengan isu agama? Setahu saya, masyarakat  kita itu memang cepet ‘ngebul’ dengan segala sesuatu yang ‘digoreng’ dengan isu agama. Berhubung saat itu belum nonton, saya pun nggak bisa banyak komentar.

“Waduh, gue sih, belum nonton, ya. Tapi apa iya segitunya? Kalaupun penjahatnya digambarkan berewokan, berjenggot, ya, kebetulan saja kali. Untuk memberikan kesan  serem. Mengucap kalimat Allah? Bisa jadi juga sponton. Ah, mikirnya udah negative aja….”

Rasa penasaran saya pun berlanjut. Saya menghubungi beberapa teman yang saya tahu sudah menyaksikan film ini. Ternyata dugaan saya pun benar, bahwa beberapa teman saya yang sudah mengajak anak-anaknya nonton, sama sekali tidak menangkap pesan kalau film Naura dan Genk Juara melecehkan umat muslim.

Film Naura dan Genk Juara-mommiesdaily

Beruntung, kemarin saya sempat datang ke acara jumpa pers, bertemu orang-orang di balik layar film Naura dan Genk Juara . Nggak hanya ada Amalia Prabowo dan Handoko Hendroyono selaku produser, Kak Seto sebagai psikolog serta pemerhati anak juga ikut hadir. Lewat keterangan mereka, saya jadi tahu bahwa jauh sebelum film ini diproduksi, mereka sudah lebih dulu melakukan forum discussion group bersama anak-anak sekolah dasar serta para orangtua.

Tujuannya apa, ya tentu saja untuk mendapatkan insight dari mereka mengenai film anak, termasuk gambaran penjahat di mata anak-anak seperti apa. “Jadi waktu FDG, kami sempat tanya ake anak-anak, gambaran penjahat di mata mereka itu seperti apa? Dan mereka kami minta untuk gambar. Dan hasilnya, penjahat di mata anak-anak itu, ya, yang berewokan. Jadi bukan sama sekali bukan mendiskreditkan umat Islam,” ungkap Amalia Prabowo.

Saya sendiri sangat setuju dengan apa yang dikatakan Kak Seto dalam menanggapi tudingan negative yang dilayangkan film ini. Kita sebagai orangtua memang sangat bertanggung jawab dengan tontonan anak. Di mana kita perlu memberikan pejelasan dan arahan postitif pada anak-anak. Hal ini pun berlaku untuk memberikan pemahaman nilai agama.

“Setiap masalah selalu ada penilaian. Bagaimana kita berikan pandangan ke anak, kasih hal yang positif. Jangan cenderung dicari-cari sesuatu yang cenderung tidak relevan. Muslim tidak selalu yang jenggotan, dan lain-lain. Banyak yang klimis juga Islamnya bagus,” kata Kak Seto.

Lagian, kalau memang anak bertanya kenapa ada orang islam yang jahat, dan jadi pencuri, tugas kita yang memberikan pemahaman bahwa memang di dunia ini memang tidak hanya diisi oleh orang baik saja, dan baik tidaknya seseorang bukan dilihat dari kemasannya, terlebih dari faktor agama, tapi bagaimana mereka bisa bersikap dan bertindak. Lagian, realistis sajalah, memang nggak semua umat Islam itu baik kan?

Sepulang jumpa pers, saya pun langsung memutuskan untuk nonton film Naura dan Genk Juara . Dan benar saja, sepanjang durasi film, saya itu seperti nemu es teler saat jalan-jalan ke gurun pasir! Hahahha, iya, setelah sekian lama akhirnya ada juga film anak-anak yang berkualitas. Yang punya isi, pesan positif yang bisa didapatkan oleh anak-anak. Kalau banyak orang yang bilang film ini menyamakan kualitas Petualangan Sherina. Iya, saya setuju! Meskipun nggak hapal dan tahu semua lirik lagunya Naura, tapi saya sangat menikmati dan ingin ikutan nyanyi.

Jadi sekali lagi, kalau dibilang film ini melecehkan Islam, menistakan agama, di bagian mana? Lah wong sang penjahat yang digambarkan berewokan itu mengucap astagfiruallah saat ia kaget melihat ulah temannya, termasuk saat mereka dapat serangan dari Naura dan teman-temannya. Jadi, salah banget kalau dibilang penjahat ini ngucap takbir dan kalimat Allah berkali-kali. Menurut saya, ini ucapan spontan saja.

Maaf saja, ya…. komentar si ibu yang viral di media social itu justru jauh lebih kasar dengan mencantumkan kata kecebong sipit. Kenapa juga malah jadi menyerang sang sutradara secara personal? Bukankah tugas orangtua yang harus memberikan contoh yang baik buat anak-anaknya? Apakah dengan memberikan cap kecebong sipit ini hal yang baik?  Kalau ini, kurang rasis apa coba?

Intinya, ketika anak menonton film khususnya layar lebar, ya, memang perlu didampingi. Saat anak anak banyak bertanya, kenapa justru tidak diambil sisi postitifnya saja? Bahwa hal tersebut memperlihatkan kalau anak kita memang kritis.

Kalau saya, sih, setelah kemarin nonton filmnya, akhir pekan ini mau ajak anak saya dan keponakan untuk nonton. Soalnya, lewat film ‘Naura & Genk Juara’ justru anak-anak bisa mendapat hal positif  dan motivasi. Mulai dari bagaimana harus mencintai alam, di mana Kipli mengingatkan bahwa mereka nggak bisa diam saja saat melihat satwa dan alam di rusak. “Pinter, tapi hanya untuk pamer piala, itu nggak ada gunanya!”.

Film ini juga sarat pesan betapa pentingnya saling kerja sama, menghargai teman, tidak mau menang sendiri dan mengutamakan ego. Termasuk nggak perlu takut untuk mengapai cita-cita, dan perlunya kita bisa bermanfaat untuk orang lain. Seperti kata Naura  dalam lagunya,  Kita Adalah Juara, tak usah jadi terhebat jika tak ada manfaat, tak usah jadi terkuat jika tak punya sahabat.

Kalau memang masih khawatir anak terpapar konten negative, gimana kalau kita sebagai orangtua yang nonton lebih dulu. Bukankah orangtua sebenarnya adalah lembaga sensor nomor satu? Jadi, kalau memang setelah nonton yang ditangkap justru kebanyakan sisi negatifnya, ya, silakan saja tidak mengajak anak ke bioskop saat akhir pekan. Tapi kalau sebaliknya, pesan yang ditangkap justru hal positif, nggak perlu ragu ajak anak untuk nonton.

Kalau memang mommies tinggal di wilayah Jakarta, Amalia Prabowo dan Handoko Hendroyono selaku produser, mengajak mommies untuk menyaksikan film ini bersama. Langsung saja datang ke Pondok Indah Mall dan Mall Kalibata jam 6 sore untuk membuktikan langsung bagaimana kualitas film ini. Gratis. Ajakan ini merupakan gerakan yang ingin mengajak masyarakat khususnya orangtua untuk menonton film lebih dulu baru memberikan komentar. Nggak mau dong ikut-ikutan nyebar fitnah?

 


Post Comment