4 Penyesuaian Sebagai Single Mother

Menyandang status sebagai single mom, membuat saya belajar melakukan penyesuaian-penyesuaian, yang setelah dicoba, rasanya nggak terlalu sulit, kok :).

Saat menikah dulu, saya nggak pernah berpikir akan bercerai. Melihat mama dan almarhum papa saya yang tetap bersatu walaupun dengan kondisi pernikahan yang nggak terlalu ideal membuat saya memiliki mimpi yang sama, bahwa menikah hanya satu kali dan hanya kematian yang dapat memisahkan.

Belasan tahun kemudian, ternyata mimpi masa kecil saya tidak bisa terwujud. Karena pada akhirnya, pernikahan kami harus berakhir. Marah. Kecewa. Sedih. Takut.

Saya pun menyandang status baru: Janda alias single mom.

Butuh waktu sampai saya pada akhirnya terbiasa dengan status baru ini. Ada hal-hal yang harus berubah dan saya harus melakukan penyesuaian.

4 Penyesuaian Sebagai Single Mother - Mommies Daily

Hal pertama:
Yang biasanya ada pasangan untuk berbagi tanggung jawab menjaga anak untuk sehari-hari, atau berbagi tanggung jawab urusan rumah, sekarang saya handle sendiri. Berhubung hak asuh ada di tangan saya, jadi anak-anak lebih lama tinggal bersama saya dibanding bersama ayahnya.

Kebayang kan, saat dua anak berantem heboh, kalau dulu saya bisa teriak “Yaaaaah anak-anaknya nih” untuk kemudian lanjut ketak-ketik di laptop, sekarang udah nggak bisa. Atau, saat gas di rumah habis atau pemanas air bermasalah. Belum lagi, saat malam hari, mati lampu, nah, jiwa penakut saya udah nggak boleh lagi keluar, karena di depan anak-anak, ya mamanya harus kelihatan berani *__*. .

Hal kedua:
Tidur sendiri, ahahaha. Saya paling nggak suka tidur sendiri, apalagi dengan ukuran tempat tidur yang bisa menampung tiga orang. Jadilah saya cukup rajin melipir ke kamar anak-anak untuk ndusel-ndusel tidur bertiga :D.

Hal ketiga:
Melihat saat ada pasangan suami istri bersama anaknya jalan ramai-ramai di mall, nggak jarang, suka muncul perasaan sedih. Bukan, bukan berarti saya ingin kembali lagi bersama ayahnya anak-anak. Sudah pasti nggak. Yang saya pikirin itu cuma anak-anak. Anak-anak kenapa-kenapa nggak ya, melihat ‘pemandangan’ keluarga normal, sedangkan mereka nggak bisa seperti itu?

So far sih, makin ke sini udah makin tenang kalau melihat wujud nyata dari ‘happy family’ :D. Nikmatin aja, nggak usah dilawan, ahahaha.

Hal keempat:
Menerima pertanyaan-pertanyaan kepo tentang alasan kenapa saya bercerai, dan kemudian lanjut dengan pertanyaan “Memangnya nggak bisa dipertahankan?”

Percayalah, bertahan hingga 13 tahun, walaupun dengan kondisi yang berdarah-darah, sudah pasti mencoba untuk bertahan ada di dalam daftar teratas usaha kami. Tapi ketika bersama ternyata rasanya nggak pernah menyenangkan, satu sama lain sibuk saling menyalahkan dan menyakiti, anak-anak menjadi korban dan dipaksa menyaksikan konflik antara mama dan ayah, rasa-rasanya kok saya egois sekali, memaksakan sesuatu yang sudah terlanjur hancur?!

Jadi, kalau memang tujuan hidup sudah jauh berbeda, kenapa saya harus memaksakan untuk tetap sama namun di sepanjang perjalanan cuma bertengkar?

Saya percaya, nggak semua perceraian akan menciptakan anak-anak bermasalah kelak. Nggak sedikit yang saya lihat, anak-anak dengan orangtua bercerai bahkan lebih berprestasi dan bahagia.

Sekarang, bisa dibilang hidup saya lebih bahagia dengan status single mom. Energi saya nggak habis untuk bertengkar. Anak-anak pun bisa melihat bentuk lain dari hubungan antara mama dan ayahnya, yang ternyata nggak butuh suara teriakan berintonasi tinggi.

Percaya banget dengan tulisan bahwa life is about creating yourself, nggak peduli apapun status yang saya sandang saat ini. Tinggal mau atau tidak saya menerima perubahan dan melakukan penyesuaian ;).


Post Comment