Surya Saputra, Selalu Ingin Memastikan Anaknya Tumbuh di Rumah yang Penuh Cinta

Mengaku sebagai ayah yang over protective, Surya Saputra, suami Cynthia Lamusu ini punya cara tersendiri agar anak kembarnya, Atharva Bimasena Saputra, Ataya Tatjana Aisyah Putri, merasa bahwa mereka selalu tumbuh di dalam keluarga yang penuh cinta.

Ketika saya mendengar begita bahwa pasangan Cynthia Lamusu dan Surya Saputra akan segera mendapatkan momongan, bahkan anak yang dikandung anak kembar, saya ikut bersorak soray! Iya, saya ikut bahagia. Maklum saja, saya termasuk pengagum pasangan yang satu ini. Saya pun mengikuti pemberitaan bagaimana pasangan ini menantikan kehadiran buah hati.

Beruntung, akhir pekan kemarin, di acara Hari Premature Sedunia yang dilangsungkan di RSCM, saya sempat mencuri waktu Surya Saputra, bertanya mengenai perannya sebagai ayah. Dari jawabannya, saya semakin yakin kalau sosoknya merupakan suami yang sangat hands on untuk mengasuh anak kembarnya.

Surya Saputra -mommiesdaily

Mas Surya, ceritain sedikit dong, bagaimana dukungan Mas Surya terhadap Mbak Cynthia khusunya menjelang melahirkan?

Saya tipe orang yang cukup paham, bahwa seorang ibu memang perlu dukungan , perlu  support dari suami. Terutama mental dan psikisnya. Begitu lahiran juga perlu didukung. Saya juga cukup paham, kalau ibu setelah melahirkan bisa mengalami baby blues,  memang peran suami  sangat penting untuk ibu dan anak-anaknya. Jadi saat Cynthia hamil, saya selalu mamaksakan diri untuk selalu bisa dekat dengannya, termasuk saat melahirkan. Saya bilang ke dokter, ‘Pokoknya saya harus di samping Cynthia’. Tujuannya apa, saya ingin memastikan kalau Cynthia tahu kalau saya selalu ada di sampingnya, saya bilang, ‘Terima kasih ya, kamu itu sudah kuat, kamu perempuan hebat kok. Tenang saja saat proses melahirkan…’

Nah, saat anak-anak keluar, dia nangis kan tuh. Dia tanya, itu siapa? Pas saya bilang itu Tatjana, lucu .. cantik banget seperti kamu. Dia nangis lagi, begitu mendengar Bima menangis, dia pun nangis lagi. Jadi saya memang ingin selalu mendukung Cynthia.

Sebagai ayah, stimulasi apa sih, yang sering Mas berikan untuk Tatjana dan Bima?

Bisa macam-macam, kok. Bisa dari bermain, mengenalkan kata-kata, bahkan lewat cara kita berekspresi itu juga cara saya menstimulasi anak-anak. Kalau anak-anak nggak suka, sedang menangis, ya, saya perhatikan, dan tanya kenapa? Kalau marah, ya, saya tanggapi dengan pertanyaan, kenapa, kamu marah ya? Jadi  saat kita memberikan stimulasi dengan anak-anak, mereka pun juga demikian. Kami sama-sama belajar. Memberikan timbal balik.

Ada nggak sih, pola asuh yang diberikan orangtua dulu yang akhirnya ingin diwariskan pada Tatjana dan Bima, khususnya pendidikan dari ayah?

Saya tidak berkesempatan lama mengenal ayah saya, karena ayah saya meninggal saat saya berumur 3 tahun. Jadi ingatan saya terhadap ayah saya memang samar-samar. Tapi, saya banyak mendengar bagaimana ayah mengasuh saya. Tapi kalau ibu, ibu itu orang yang sangat perasa. Contohnya selalu mengajarkan saya untuk sayang binatang, nenek saya pun begitu. Salah satu pesannya yang selalu saya ingat, be gentleman. Dari hal kecil, seperti membukakan pintu untuk perempuan, menjaga perempuan.

Bahkan dulu Cynthia suka bingung, kenapa, sih, kalau ke mall sampai harus membukakan pintu untuknya. ‘Itu kan bukan tugas kamu’, begitu katanya. Ya, saya bilang itu adalah didikan yang diajarkan oleh orangtua. Hal inilah yang ingin saya ajarkan pada anak-anak, khususnya pada Bima. Harus menjaga perempuan, bukan karena perempuan lemah, tapi karena memang perempuan itu harus dijaga dan disayang.

Surya Saputra - Mommiesdaily

Dalam pola asuh, ada pembagian tugas nggak, sih, dengan Mbak Cynthia?

Nggak ada kok, sama aja. Kecuali bagian ganti popok, sih, saya sampai sekarang belum bisa, hahahhaa

Sebagai seorang ayah, apa yang membuat Mas Surya bahagia?

Umh… apa yaaa? Ya pada saat saya bisa melihat anak-anak dan istri saja, itu yang bikin saya bahagia. Apalagi kalau saya bisa melihat mereka senyum dan tertawa, ketika saya bisa memenuhi kebutuhan mereka. Itu saya bahagia sekali.

Sebaliknya, yang membuat sedih atau bahkan merasa bersalah. Pada kondisi seperti apa?

Umh…. saya sempat merasa sedih ketika anak-anak nggak bisa tidur sama saya. Sudah saya nina boboin nggak mau, tapi saat digendong sama Cyntia langsung tidur. Anteng. Di situ yang suka bikin saya sedih, hahahha

Patah hati, ya, Mas?

Hahaha, iya…. Nah hal-hal seperti ini juga selalu saya sharing ke Cytia. Ternyata cara saya menidurkan mereka itu sudah nggak berlaku lagi untuk mereka, kalau dulu saya bisa gendong dan nidurin mereka di bantal, nah ternyata mereka sudah nggak mau lagi. Cuma saya juga punya kelemahan, saya itu kan punggungnya retak, ditiga ruas, jadi nggak bisa gendong lama-lama.

Menjadi orangtua masa kini, apa yang paling bikin khawatir?

Concern saya sebenarnya adalah gempuran internet. Kalau nggak disiasati, nggak awasi dengan baik, bisa jadi masalah. Anak-anak sekarang itu kan dengan mudahnya nonton youtube, sehingga mereka mudah terpapar konten yang tidak sesuai dengan usianya. Termasuk film yang berbau kekerasan. Di rumah saya tidak pernah membiarkan anak-anak nonton acara TV yang ada adegan kekerasannya dan konten seksualnya. Tapi kalau hanya sebatas mencium tidak apa, karena saya sering memperlihatkan ke anak-anak ketika sedang mencium Cynthia. Ini mama papa, kemudian saya mencium pipi Cynthia. Saya ingin anak-anak merasakan mereka tinggal di rumah yang penuh cinta.

Selain itu, saya melihat sekarang ini banyak anak-anak yang justru lebih mengutamakan ngomong dengan bahasa Inggris. Ya, nggak salah, sih, hanya saya memang kurang sreg. Saya masih mengutamakan bahasa Indonesia, tapi Bahasa Inggris tentu saja anak-anak perlu paham, ya kalau bisa beberapa bahasa tentu baik. Tapi kalau untuk berkomunikasi, ya, tetap bahasa Indonesia saja, dulu. ya, mungkin karena saya orangnya ini terlalu cinta Indonesia.

Mas Surya itu, papa seperti apa sih?

Umh, over protective kali, ya. Pertama, perjalanan saya untuk mendapatkan anak-anak itu tidak mudah, setelah 8 tahun menikah, saya baru bisa punya anak. Setelah punya anak pun, kami masih diuji karena anak-anak sempat masuk NICU, setelah keluar dari NICU, ada ujian lagi, terutama untuk Bima. Jadi memang ups and down. Kenapa saya bilang saya orangtua yang cukup over protective, bukan hanya perjalanan saja yang sulit tapi memang anak-anak yang lahir premature itu perlu banyak lebih diperhatikan.

Mas Surya sendiri ada barometer nggak untuk orangtua sukses?

Nggak ada, sih, ya. Menurut saya begini, setiap orangtua itu pasti punya idealisme sendiri dalam mendidik anak-anaknya. Saya dan Cynthia pun bisa dibilang merupakan produk kebaikan-kebaikan orangtua kami, jadi saya rasa apapun yang kita lakukan adalah yang terbaik untuk anak.


Post Comment