SDN Kramat Jati 16 Pagi, Sekolah yang Memberikan Ruang Lebih untuk ABK

Bangunan sekolahnya memang jauh dari kesan megah dan mentereng. Fasilitas pun apa adaanya. Tapi percayalah, kalau ada yang spesial dari SDN Kramat 16 Pagi ini, yaitu bagaimana seluruh lapisan sekolah saling bersinergi, bergandengan tangan membantu anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus.

Anak-anak siswa kelas 6 SD Negeri Kramat Jati 16 tampak sibuk mengerjakan soal latihan dari wali kelasnya. Sesekali riuh rendah suara anak-anak yang berbicara terdengar sangat jelas, sesekali bersenda gurau dengan teman sebangkunya. Sama seperti SD Negeri lainnya, bangku di kelas 6 ini rata-rata diisi oleh dua orang murid.

Namun, di baris depan saya melihat ada dua anak lelaki yang duduk sendirian. Tatapan saya kemudian terpaku pada salah satu anak yang tampak tidak fokus. Matanya kerap berkeliaran, menyapu tiap sudut kelas sambil terus menggerak-gerakan tangannya yang memegang pinsil. Tampak seperti sedang gelisah.

“Dia adalah salah satu siswa ABK kelas 6, nilai akademiknya sebenarnya cukup baik tapi memang masih banyak membutuhkan bantuan. Anak ini mengalami PDD – NOS, salah satu dari 5 gangguan spektrum Autism. Semula duduknya berdua, tapi kemudian kami memutuskan agar dia duduk sendirian saja, sambil belajar mandiri. Kalau duduk berdua, dia selalu bertanya, jadi selalu tergantung dengan temannya, ungkap Dwiyana Supriyanti seakan bisa membaca pikiran saya.

IMG_20171116_142018

Kemarin pagi, saya memang sempat datang ke SD Negeri Kramat Jati 16 dan berbicang dengan Ibu Dwi, begitu saya menyapanya. Ibu Dwi satu-satunya guru pendamping untuk ABK yang ada di SD Negeri Kramat Jati 16. Sebenarnya beberapa bulan lalu saya sempat bertemu dengannya bersama Kepala Sekolah SD Negeri Kramat Jati 16 di sebuah acara yang mengingatkan kita semua bahwa sudah bukan waktunya lagi kita memandang sebelah mata pada anak-anak berkebutuhan khusus.

Biar bagaimana pun sebagai orang dewasa apalagi sudah berstatus orangtua, tugas kitalah yang memberikan pehamanan pada anak-anak, bahwa pada dasarnya kita semua adalah sama. Benar bukan?

SD Negeri Kramat Jati 16 sendiri merupakan salah satu SD Negeri percontohan yang sudah menerapkan system inklusi. Menurut Ibu Dwi, SD Negeri Kramat Jati 16 sudah sejak tahun 2009 sudah menerima ABK, namun baru mendapatkan SK dinas tahun 2012 silam.

“Tapi kemudian, tahun 2016 kemarin baru keluar SK lagi yang menyatakan bahwa semua sekolah negeri  harus menerima ABK. Jadi sebenarnya sudah tidak ada sekolah umum dan sekolah inklusi. Semua sekolah SD Negeri itu, ya, inklusi. Artinya, semua sekolah negeri tidak boleh menolak anak ABK, harus membuka jalur inklusi. Ada ataupun tidak ada guru pendamping seperti saya, tetap harus menerima ABK,” paparnya.

IMG_20171116_141949

Terus terang saja, saya sendiri baru mengetahui bahwa saat ini semua sekolah negeri merupakan sekolah inklusi. Bukan apa-apa, sampai sekarang saya masih mendengar banyak orangtua yang memiliki ABK merasa kesulitan mencari sekolah inklusi. Bahkan tidak jarang pada akhirnya anak dengan kebutuhan khusus tidak mendapatkan tempat di sekolah yang dipilihnya.

Beruntung, ya, saat ini pemerintah semakin membuka matanya dan memberikan kesempatan yang sama untuk ABK.  Walaupun demikan, seperti yang dijelaskan Ibu Dwi, memang saat ini belum semua sekolah memiliki guru pendamping seperti dirinya. Ibu Dwi memaparkan bahwa, seluruh guru terutama Kepala Sekolah tidak segan membantunya. Bahkan, pihak sekolah pun ikut mengajak para orangtua agar terus bergandengan tangan.

Di penghujung tahun 2017 ini,  tercatat  ABK yang sekolah di SD Negeri Kramat Jati 16 ini berjumlah 43 anak dari kelas 1 sampai kelas 6, dengan beragam kondisi. Mulai dari ADHD, autis, tuna daksa, tuna grahita, sampai anak yang memang memiliki keterlambatan dalam belajar. Menurut Ibu Dwi, jumlah Abk yang ada di sana memang over quota. Lantaran banyak orangtua ABK yang mendaftarkan anaknya lewat jalur regular. Sementara, sebenarnya untuk jalur inklusi setiap tahunnya hanya diperuntukan dua orang saja.

Yang memprihantinkan, banyaknya jumlah ABK tidak seimbang dengan SDM di sekolah. Hal inilah yang membuat Ibu Dwi tidak bisa fokus mendapingi seluruh murid ABK. “Memang saat ini saya tidak bisa mendampingi semua anak. Kira-kira hanya 15 anak yang bisa saya dampingi secara khusus, dilihat dari kondisinya yang sudah berat sehingga guru kelas tidak bisa sendiri. Sedangkan yang lain dipegang oleh wali kelasnya, saya hanya ikut mengawasi saja,” ungkapnya.

Lebih lanjut Ibu Dwi menerangkan bahwa murid ABK minimal mendapatkan  2 kali pendampingan dalam seminggu. Interfensi ini dilakukan selama 30 menit. Meskipun Ibu Dwi tidak bisa membantu seluruh anak ABK, bukan berarti mereka ditelantarkan, kok. Soalnya, seluruh lapisan sekolah ikut bersinergi dalam membantu mengembangkan potensi yang dimiliki ABK.

Setiap tahun, khususunya di awal ajaran tahun, pihak sekolah sering kali memberikan sosialiasi lebih dulu kepada orangtua. Menjelaskan apa saja manfaat yang didapatkan anak jika bersekolah di sekolah inklusi. Termasuk bagaimana membantu ABK dalam proses belajar dan mengembangkan potensi dirinya.

Meskipun tidak mudah, namun Ibu Dwi mengaku bahwa dirinya  bersyukur bahwa dari tahun ke tahun, banyak perubahan kearah yang lebih baik yang bisa dirasakan. “Ya, kalau dulu saat kurang sosialiasi, masih ada orangtua yang suka protes kenapa anaknya digabung dengan ABK. Bagaimana kita bisa survive, dengan banyaknya ABK, ya tidak terlepas dari bantuan para orangtua untuk ikut bekerja sama, jadi ada volunteer, jadi mereka juga dilatih, Ya, kan kalau anak ABK, misalnya autis, itu kan juga tidak mudah,” paparnya sambil tersenyum.

Mendengar apa yang diungkapnya Ibu Dwi, saya sudah bisa membayangkan bahwa mendidik anak ABK tidaklah pernah mudah. Yang pasti perlu sumbu sabar yang tidak terbatas. Tidak mengherankan, ya, kalau bagi Bu Dwi dan rekan-rekannya di sekolah, yang paling membahagiakan buat mereka adalah ketika melihat murid ABK bisa mendapatkan progress ke arah yang lebih baik.

Harapan saya, sih, tidak hanya sekolah negeri saja yang menerapkan sistem Inklusi, tapi juga seluruh sekolah swasta. Toh, sekolah Inklusi memang banyak manfaatnya. Namun demikian tentu saja harus diimbangi dengan SDM yang memadai. Sehingga proses belajar lebih maksimal.

Mana amiinnya?

 


Post Comment