5 Hal yang Membuat Anak Tidak Percaya Diri

Jangan banyak mengeluh kalau anak nggak percaya diri, apalagi sampai memarahi mereka. Lebih baik kita cari tahu penyebab anak tidak pd dan fokus membantu proses mengembangkan percaya dirinya. 

Masih ingat nggak beberapa waktu lalu anak saya, Bumi sempat komentar dan merasa kalau dirinya nggak punya kelebihan? Iya, anak-anak memang masih terus menjalani proses mengembangkan rasa percaya dirinya.

5 Hal yang mebuat anak tidak percaya diri-mommies daily

Kalau katanya Anna Surti Ariani, S. Psi.,M.Si. pada dasarnya, setiap anak itu punya potensi kepercayaan diri yang baik. Dan yang perlu kita pahami, kalau proses ini sudah dibentuk pada 3 tahun pertama kehidupannya.

“Memang ada perbedaan tahapan perkembangan di antara bayi dengan anak usia 1 hingga 3 tahun ataupun remaja. Artinya semua anak punya kesempatan yang sama untuk punya rasa percaya diri yang baik, tergantung dari penanganan orangtuanya sendiri,” tegas psikolog anak dan remaja yang lebih sering saya sapa dengan panggilan Mbak Nina Teguh.

Untuk itulah, Mbak Nina mengingatkan kembali kalau kita, sebagai orangtua perlu memberikan stimulasi yang tepat. Jangan sampai melakukan hal yang justru akan membuat anak kehilangan rasa percaya dirinya.

Baca juga: Seni Menjadi Orangtua: Jadilah Tukang Kebun, Bukan Tukang Kayu

Dalam rangka mengembangkan rasa percaya diri pada anak ada beberapa hal yang perlu kita hindari.

1. Membandingkan 

Duluuuuuu…. zaman saya kecil, saya paling kesel kalau ada yang membandingkan saya dengan kedua kakak saya ataupun sepupu perempuan saya. “Kok, kamu wajahnya beda ya sama kakak kamu?”, “Kamu tuh, harusnya bisa dong…. Kaya kakak tuh, pintar.”

Dududududu….kezel!

Karena tahu persis kalau dibandingkan itu nggak enak, saya pun bertekad untuk tidak mengulang sejarah, dengan membandingkan anak saya dengan orang lain. Ingat saja, pada prinsipnya setiap individu itu kan unik, perkembangan dan karakter satu dengan yang lain juga pasti tidaklah sama.

2. Sering menghukum dan memarahi anak.

Tahu, dong, kalau menyakiti anak itu merupakan salah satu bentuk kekerasan? Bahkan, dibandingkan dengan kekerasan fisik, kekerasan verbal ini justru lebih sulit hilangnya. Nah, menurut pakar psikolog, salah satu yang menghambat proses pengembangan rasa percaya diri pada anak dikarenakan orangtua yang kerap memarahi anak.

Ajarkan anak bahwa kesalahannya justru merupakan bagian proses pembelajaran. Misalnya, nih, ketika anak lupa membereskan mainannya, ya terus saja ingatkan dan latih anak terus menerus. Ingat saja, kalau bisa itu karena terbiasa. Nilai anak sekolah jelek? Ya, ajak anak untuk lebih banyak berlatih. Bukan malah ngomel. Lagi pula, di dunia ini siapa sih yang tidak pernah berbuat salah?

3. Banyak menuntut anak

Saya percaya dalam hidup ini semuanya perlu aturan. Bahkan dalam segala aspek. Nah, mengembangkan rasa percaya diri pada anak juga perlu dimulai dengan memberikan batasan yang jelas pada anak. Termasuk konsekuensinya sehingga anak tidak kebablasan. Di sini, orangtua pun perlu realistis dan menurunkan ekspektasinya. Disadari atau tidak, ketika kita terlalu banyak menuntut apalagi tidak realistis dan melihat kemampuan anak, mereka bisa merasa tidak berdaya dan membuat merasa tidak percaya diri.

4. Terlalu memanjakan anak

Anak mau ambil baju sendiri, kita yang ambilkan bajunya. Mau makan, kita suapi terus. Mau mengerjakan tugas, juga terus dibantu. Nah, kapan anak bisa mandirinya dong kalau setiap saat dibantu?

Hal seperti ini tidak hanya menghambat anak untuk belajar mandiri. Tapi sekaligus membuat anak tidak percaya diri. Saya ingat, Mbak Nina mengatakan kalau salah satu kunci penting membangun rasa percaya diri anak adalah memberinya tugas dan kesempatan menyelesaikannya tanpa bantuan. Proses ini tentu saja perlu dilatih sejak usia batita, di mana anak-anak sudah mulai belajar mandiri.

Misalnya, anak ingin mencoba mengambil makanan sendiri, maka ia akan berusaha untuk mengambilnya. Tahu tidak, saat anak batita berhasil bisa melakukan sesuatu secara mandiri, mereka tidak cuma bahagia tapi juga menumbuhkan kepercayaan dirinya.

Baca juga: Ilmu Tega dan Mengapa Kita Tak Boleh Terlalu Sering Mengatakan ‘Hati – Hati ya, Nak!

5. Stress saat hamil

Coba ingat-ingat, bagaimana kondisi Mommies ketika hamil dulu. Lebih banyak happy-nya atau justru lebih cenderung stress?

Mbak Nina Teguh bilang, ketika seorang ibu sedang mengandung kemudian merasa depresi selama fase kehamilan, maka anak yang dikandungnya akan punya peluang untuk merasa lebih depresi. Dengan demikian, untuk membangun tingkat rasa percaya diri pada anak-anak seperti ini memang tidak semudah anak-anak yang dilahirkan oleh ibu yang selama hamil tidak merasa depresi.

Namun, jika sejak hamil kondisi sang ibu sehat, baik fisik dan mental, maka semua anak-anak punya kesempatan yang sama untuk punya rasa PD yang baik. Hal ini semakin menegaskan kalau perempuan hamil memang sebaiknya tidak merasakan stres atau depresi.

Baca juga: Raising a Healthy Kids in Unhealthy World


Post Comment