Saya Hamil & di PHK, Harus Bagaimana?

Terbayang nggak sih, dalam kondisi hamil di PHK?  Jika terpaksa harus berhadapan dengan situasi ini, apa saja yang bisa kita lakukan, ya?

Pilihan untuk turut bekerja guna mendukung finansial keluarga atau dengan alasan lain, seperti aktualisasi diri atau menyalurkan passion mungkin dilakukan oleh banyak mommies. Memiliki peran sebagai ibu dan pekerja membuat mommies harus jeli dalam mengatur waktu maupun tenaga agar semua dapat berjalan seimbang. Ada kalanya, mommies dihadapkan pada situasi yang cukup menantang, seperti bekerja dengan kondisi mengandung.

Saya Hamil & di PHK, Harus Bagaimana? - Mommies Daily

Ada yang kehamilannya diwarnai dengan morning sickness (mual) selama beberapa bulan awal, ada pula yang mengalami peningkatan nafsu makan tanpa kendala. Ada yang meski hamil masih kuat naik turun tangga  4 lantai, namun ada pula yang menjadi mudah lelah atau mengalami kehamilan yang rentan. Ada yang menjadi sangat sensitif dan mudah tersentuh, namuna tidak jarang pula mommies yang tidak mengalami perubahan emosi yang signifikan. Tidak bisa dipungkiri, setiap kehamilan tentu membawa cerita  tersendiri bagi mommies dan diperlukan penyesuaian karena adanya perubahan secara psikis maupun fisiologis. Penyesuaian juga mutlak dilakukan dalam pekerjaan mommies, khususnya terkait dengan pencapaian target maupun kerja sama dalam tim. Dengan kondisi kehamilan, apalagi menjelang kelahiran buah hati, tentu banyak hal yang menjadi pertimbangan dan kebijakan perusahaan.

Setiap perusahaan memiliki value yang berbeda dalam memandang kondisi kehamilan karyawannya. Ada perusahaan yang cukup memerhatikan kondisi karyawan perempuannya ketika mengandung, bahkan hingga memiliki anak dengan memberikan kemudahan perizinan (cuti) maupun tunjangan tertentu, baik untuk mommies, pasangan, dan buah hati. Di sisi lain ada pula perusahaan yang memberikan perlakuan berbeda kepada karyawan perempuan yang sedang mengandung, mulai dari mengurangi loading kerja atau membatasi lingkup pekerjaan, melakukan penyesuaian target kerja, mengondisikan agar tidak nyaman hingga mengundurkan diri, bahkan ada pula perusahaan secara ekstrem, seperti memutuskan hubungan kerja dengan karyawan yang hamil.

Jika ditilik secara peraturan, baik Perundangan Ketenagakerjaan, maupun organisasi Buruh Dunia (ILO), hak-hak tenaga kerja perempuan yang sedang mengandung dilindungi. Perusahaan tidak dapat memaksa mommies untuk mengundurkan diri atau resign karena anda hamil.

Hal ini didasarkan pada Pasal 153 ayat (1) huruf e Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (“UUK”) yang menyatakan, “pengusaha dilarang melakukan pemutusan hubungan kerja dengan alasan pekerja/buruh perempuan hamil, melahirkan, gugur kandungan, atau menyusui bayinya.”

Ketika dihadapkan pada kondisi yang demikian, mommies sedang mengandung dan terancam (sudah) mengalami Pemutusan Hubungan Kerja mommies . Namun demikian, sebagai ibu yang pintar, tentunya mommies dapat melakukan langkah bijak untuk menghadapi hal tersebut dan tetap mempersiapkan kehadiran buah hati.

1. Gali informasi selengkap-lengkapnya

Mommies dapat mencari penjelasan terkait dengan peraturan, maupun alasan PHK yang dilakukan, baik melalui atasan, maupun dengan  bagian pengembangan SDM. Selain itu, secara kekeluargaan dapat ditanyakan kompensasi yang mungkin dapat diberikan sesuai kebijakan terhadap mommies, tentunya dengan mempertimbangkan masa kerja mommies di perusahaan sebelumnya.

2. Cari alternatif pekerjaan

Dalam kondisi mengandung, mungkin bukan hal yang mudah bagi mommies untuk menemukan pekerjaan baru secara cepat. Namun demikian, mommies bisa mencoba menjadi karyawan lepasan atau karyawan paruh waktu sesuai dengan keahlian mommies, tentunya dengan mempertimbangkan keahlian yang dimiliki, misalnya menjadi penulis atau penerjemah. Tidak ada salahnya juga mencoba usaha kecil-kecilan sesuai dengan minat mommies dalam berwirausaha, misalnya berjualan makanan atau menjadi reseller produk. Sisi positifnya, selain lebih leluasa dengan tidak terikat peraturan, mommies juga bisa mengelola waktu sesuai dengan kondisi fisik mommies untuk bekerja maupun beristirahat.

3. Tekuni hobi

Perubahan terjadi yang dialami ketika mommies sudah tidak bekerja adalah adanya waktu luang yang selama ini mommies gunakan untuk bekerja. Waktu luang ini dapat dimanfaatkan untuk menekuni hobi yang sebelumnya sempat terabaikan karena kesibukan selama bekerja, seperti membaca, berkebun, memasak, menulis, dan sebagainya. Mommies juga bisa menekuni hobi baru yang mungkin bisa membantu untuk persiapan kelahiran buah hati seperti menjahit atau merajut.

4. Perencanaan keuangan untuk kelahiran

Selain secara mental, keuangan juga penting untuk dipersiapkan. Jika selama ini sumber keuangan berasal dari mommies dan pasangan, kondisi yang demikian dapat mengubah skenario persiapan dana. Selain menabung untuk kelahiran, mommies dapat juga memanfaatkan fasilitas BPJS mommies dan bayi di kandungan. Mommies juga dapat menyiapkan berbagai alternatif perlengkapan lucu dan unik untuk buah hati, yang perlu dibeli segera dan yang bisa ditunda, serta mencicil pembelian perlengkapan untuk mengalokasikan pengeluaran.

5. Persiapan mental: tetap positif & bahagia

Ingat, setiap kehamilan memiliki ceritanya tersendiri dan mungkin hal tersebut dapat mommies  ceritakan kelak. Tantangan pasti ada, namun bukan berarti hal tersebut menjadi kendala bagi keluarga untuk berbahagia dan tetap positif dalam menyambut kehadiran buah hati. Meski awalnya tidak mudah, namun dengan dukungan orang-orang  terdekat mommies pasti bisa melalui masa-masa sulit dan lebih tenang menanti kehadiran anggota baru di rumah.

Tetap bersyukur, positif, dan bahagia. Percayalah Tuhan pasti akan memberikan rejeki sesuai kebutuhan.

“You are pregnant and you are powerful. You are bold and you are beautiful. Go forward in your boldness, in your beauty and in your contentedness. Trust your body to birth and know that the collective power of women worldwide will be with you.” – Author Unknown

 Ditulis Oleh : Angelina Widiyanti, Tim EXPERD


Post Comment