Para Ayah, Boleh Ya Jangan Katakan Ini Kepada Anak Laki-laki Anda - Mommies Daily

Para Ayah, Boleh Ya Jangan Katakan Ini Kepada Anak Laki-laki Anda

Salah ngomong ke istri dampaknya bisa membuat kalian didiemin berhari-hari atau nggak dikasih jatah :D. Tapi kalau salah ngomong ke anak, efeknya jangka panjangnya bisa lebih serius lho!

Para ayah zaman now sudah mulai paham konsep parenting. Bahwa mengasuh anak itu adalah tanggung jawab berdua, nggak hanya tanggung jawab Ibu atau Ayah. Makanya namanya parenting, bukan mothering atau fathering.

Masalahnya, untuk orangtua yang berasal dari generasi Y seperti saya, yang lahirnya di kisaran tahun 1977 sampai 1994, biasanya kita menjadi orangtua tanpa bekal dan informasi yang cukup. Semua based on feeling. Waktu saya hamil anak pertama dan kedua, nggak ada sih pesan-pesan sponsor dari mama atau mertua. Semua meraba-raba, trial and error.

Lebih beruntung orangtua yang berasal dari generasi Z, generasi yang melek teknologi. Di saat informasi mengalir deras dari gadget dan mulai banyak komunitas parenting yang tumbuh kemudian menjamur. Ada teman seperjuangan dan sependeritaan :D. Namun negatifnya, para orangtua generasi Z terlalu overload dengan informasi dan kesulitan menyaring mana yang kredibel, mana yang sekadar halusinasi.

Nggak heran, ‘kesalahan-kesalahan’ sudah pasti akan selalu hadir selama kita masih menyandang gelar orangtua, alias sampai kita meninggal, kelak.

Dan kali ini, saya mengumpulkan ‘kesalahan’ berupa kalimat-kalimat yang cukup sering diucapkan oleh para Ayah ke anak laki-laki mereka, Niatnya sih baik, ingin membentuk anak laki-laki yang kuat, tegar, respek terhadap perempuan dan sejuta list niat mulia lainnya. Masalahnya, seperti pepatah yang mengatakan “Ucapan itu bisa seperti pedang bermata dua. Melindungi atau membunuh,” maka kalimat-kalimat ini juga bisa menjadi pedang bermata dua….

Para Ayah, Boleh Ya Jangan Katakan Ini Kepada Anak Laki-laki Anda - Mommies Daily

1. Kamu kan cowok, jangan nangis dong!
Boys don’t cry…. Benarkah anak laki-laki tidak boleh menangis? Saat anak laki-laki menangis otomatis mereka dianggap cengeng atau lemah. Karena memang ini budaya yang terbentuk di Indonesia. Bahwa menangis merupakan simbol kelemahan. Padahal, dengan menangis anak belajar untuk mengekspresikan dan mengidentifikasi perasaan. Selama menangis tidak dijadikan ‘senjata’ untuk menghindari tanggung jawab, sah-sah aja kok anak laki-laki menangis. Takutnya, karena terbiasa dilarang menangis, si kecil tumbuh menjadj pribadi yang tidak memahami emosinya sendiri dan menciptakan perilaku negatif.

2. Sebagai laki-laki, kamu harus selalu ngalah sama anak perempuan
No way….. ahahahaha. Menghargai perempuan itu sudah pasti, karena saya juga mengajarkan hal ini kepada dua anak laki-laki saya. Namun bukan berarti setiap saat mereka harus mengalah, terlebih jika anak laki-laki kita berada di posisi yang benar. Didik anak kita untuk bisa menghargai perempuan tanpa harus mengabaikan harga diri mereka sendiri. Kalau apa-apa selalu ngalah, akan ada masanya mereka menjadi mudah untuk ditindas. Mungkin sebaiknya, ajarkan anak laki-laki untuk lebih paham caranya menyampaikan keberatan jika memang mereka benar dan si anak perempuan yang salah.

3. Ayah akan selalu ada untuk kalian
Ini kebohongan yang hakiki, hahahaha. Selama kalian bukan mahluk immortal, jangan pernah mengatakan hal ini! Anak akan beranggapan bahwa orangtua selamanya akan menemani dia dan takutnya membuat si anak menjadi bergantung sepenuhnya pada Anda! Biarkan sesekali anak mencari jalan keluar sendiri untuk masalah yang dihadapinya.

4. Namanya juga anak laki, memang harus bandel
Dan bertahun-tahun kemudian anak laki-laki kita pun tumbuh menjadi pribadi yang luar biasa ‘bandel.” Kenapa bandel harus identik dengan maskulin dan laki-laki? Padahal banyak piliha kata-kata lain yang bisa kita sematkan senada dengan kata laki-laki. Seperti bertanggung jawab, bekerja keras, pemimpin???

5. Anak laki-laki nggak boleh takut
Setipe dengan larangan menangis untuk anak laki-laki, kalimat seperti ini bisa membuat anak laki-laki nggak berani mengungkapkan rasa takutnya kelak dan akhirnya memaksakan diri. Padahal, selama masih dalam batas normal, rasa takut itu manusiawi, kan.


Post Comment