Serunya Jalan-jalan Ke Rumah Contoh

Ditulis oleh: Prameshwari Sugiri

Percaya, nggak? Mengajak anak jalan-jalan ke rumah contoh meski tidak berminat membeli rumah, ternyata banyak manfaatnya.

Meski banyak yang bilang sekarang lagi krisis ekonomi, sepertinya tidak demikian dengan pengusaha properti. Buktinya perumahan-perumahan baru terus bermunculan. Promonya pun mulai dari billboard segeda hoha, spanduk yang melintang di jalan sampai pameran di mal dengan tim marketing yang selalu siap dengan brosurnya.

Nah, saya dan suami termasuk orang yang akan suka-cita menerima brosur-brosur ini -terutama yang mencantumkan tersedia rumah contoh untuk dikunjungi. Karena brosur-brosur inilah yang akan jadi panduan acara jalan-jalan di akhir pekan dengan anak-anak. Kesannya mungkin iseng sekali, tapi ternyata seru dan kami menemukan cukup banyak manfaatnya.

Yang paling pertama adalah sensasi memasuki rumah baru dan asing! Tahu kan, seperti apa antusiasme anak-anak pertama masuk ke kamar hotel? Seperti itu juga antusiasme Kiska (8) dan Dinta (3) setiap masuk ke rumah contoh. Ekspresi berbinar-binar, penuh rasa ingin tahu, memeriksa setiap sudut ruangan. Tapi tentu tidak boleh loncat-loncatan atau memakai toiletnya seperti di hotel.

Bermain ke Rumah Contoh - Mommies Daily

Sambil melihat-lihat, kami akan ajak Dinta belajar tentang konsep ruangan besar dan kecil, lantai atas dan bawah, area depan dan belakang. Sesuai usianya, ia juga belajar tentang aturan di lingkungan baru. Seperti melepas sepatu (bila perlu) dan meletakkannya di tempat sepatu yang tentunya beda dengan rumah kami. Kadang-kadang, ia bisa belajar melompati beragam paving block, atau merasakan tekstur lantai atau wallpaper yang berbeda-beda.

“Mana yang halus dan mana yang kasar? Mana yang licin?” banyak sekali yang bisa ditanyakan dan Dinta sangat senang mencari jawabannya. Dia juga selalu suka belajar menaiki dan menuruni berbagai jenis tangga. “Tangga yang ini lucu, ya! Kalau yang ini susah! Aku harus pegangan ke mana?” begitu katanya. Oke banget kan, untuk melatih keseimbangan, kekuatan maupun keterampilan motoriknya?

Untuk Kiska yang sudah lebih besar, obrolan kami bisa lebih berkembang untuk memancing logika sekaligus memperluas wawasannya. Kami bisa minta ia membandingkan denah di brosur dengan ruangan yang asli, membahas harga rumah, menanyakan pendapatnya tentang penataan perabotan, hingga menjelaskan kenapa perlu ada jendela atau lubang angin di kamar mandi.

Suatu hari, petugas marketKiska juga belajar berinteraksi dengan macam-macam orang yang kami temui.ing mengatakan pada Kiska bahwa rumah yang sedang kami lihat luasnya 8×15 meter. Kiska dengan semangat segera menghitungnya. Haha… belajar matematika, nih! Di waktu lain, Kiska berkata, “Tadi Bapak Kuli-nya cerita kalau dia sudah bekerja sejak remaja buat nyekolahin adik-adiknya. Hebat, ya!” Ah, senangnya ia bisa belajar berempati juga.

Selesai melihat-lihat, biasanya obrolan kami tidak terhenti. Kami akan berbagi opini tentang rumah mana yang paling disukai dan alasannya. “Aku suka yang warnanya biru!” kata Dinta. “Kalau yang itu, kamar kita jauh-jauhan. Lebih baik yang satunya, yang kamar anaknya berdekatan!” timpal Kiska. Dinta berpikir sejenak lalu mengiyakan kakaknya, “Iya deh, yang dekat sama Kakak saja!” Hmm, kayaknya bukan cuma kamar tapi hubungan kami sekeluarga pun tambah dekat berkat acara jalan-jalan ini.

Gimana, tertarik mencoba jalan-jalan ala kami?


Post Comment