Setelah vaksin MR, Sudahkah Anak-anak Diberikan Vaksin HPV?

Yes, salah satu vaksin yang perlu diberikan pada anak usia sekolah adalah vaksin HPV. Sudahkan anak-anak kita mendapatkannya?

Masih ingat nggak beberapa waktu lalu saya sempat menulis soal betapa pentingnya pihak sekolah perlu terlibat dan meminta surat keterangan Imununisasi pada colon siswa siswinya? Ya, biar bagaimana pun sebagai lembaga pendidikan dan rumah kedua bagi anak-anak, sekolah memang perlu terlibat dan ikut ambil bagian melindungi anak-anak.

Saya sendiri sebagai orangtua sangat senang begitu mendengar pemerintah menggalakan dan melakukan kampanye Imuninasi MR yang dilakukan beberapa bulan lalu. Kalau mendengar cerita teman yang sesama orangtua dan membaca berita, gerakan imunisasi massal ini cukup sukses, ya. Setidaknya kita bisa mengambil langkah memutus transmisi penularan virus campak dan rubella.

Tapi bagaimana dengan virus HPV? Seperti yang kita ketahui virus ini menjadi pemicu dan menginfeksi sehingga menyebabkan terjadinya kanker serviks. Di mana kanker ganas ini terjadi di bagian leher rahim wanita, atau daerah di antara vagina dan kantong rahim. Data dari Departemen Kesehatan menunjukkan bahwa kasus kanker serviks merupakan keganasan tertinggi kedua pada wanita di Indonesia setelah kanker payudara.

vaksin HPV-mommiesdaily

Salah satu pencegahan yang paling efektif tentu saja lewat vaksin HPV. Para ahli mengatakan kalau vaksin ini idealnya diberikan pada usia yang masih muda, mereka yang belum melakukan hubungan seksual secara aktif.

Hal ini dipertegas oleh dr Meta Hanindita SpA yang mengatakan bahwa vaksin HPV perlu diberikan apada anak-anak usia sekolah, pada saat seseorang belum sexually active. “Sebenarnya, kalau vaksin baru diberikan setelah aktif melakukan hubungan seksual, bisa saja kan terlambat? Ternyata orang tersebut sudah terinfeksi virus HPV,” ugkapnya.

Untuk itulah, dr. Meta Hanindita SpA mengatakan bahwa idealnya diberikan pada anak usia 10 hingga 13 tahun. Namun untuk dosis vaksinnya tentu saja berbeda dengan orang dewasa. “Cukup 2 kali saja vaksin HPV, tapi kalau sudah di atas 16 tahun memang harus 3 dosisnya,” tambah dr Meta lagi.

Bahkan, seperti yang saya lansir dari website IDAI, berdasarkan penelitian, pemberian vaksin HPV 2 dosis pada usia 10-13 tahun terbukti  membentuk kadar antibodi yang tidak lebih rendah dibandingkan dengan pemberian 3 dosis pada usia 16-18 tahun. Mengingat harga vaksin HPV masih cukup mahal, sebenarnya pemberian 2 dosis merupakan suatu solusi yang efisien.

Mengingat kanker serviks ini menyerang perempuan, saya pun sempat bertanya pada dr Meta Hanindita, bagaimana dengan anak lelaki, apakah tetap vaksin HPV ini tetap dibutuhkan? Ternyata, vaksin HPV ini tidak hanya diperuntukan perempuan saja. Artinya, anak lelaki juga membutuhkannya. Hal ini pun sudah direkomendasikan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC).

“Kalau di luar negeri, yang divaksin itu memang nggak ahanya anak perempuan saja, anak laki-laki juga ikut divaksin. Soalnya tanpa disadari virus HPV ini juga bisa membahayakan anak lelaki karena busa menyebabkan kanker orofaring, dan kanker penis juga. Cuma memang, kodisinya lebih tinggi kanker mulut rahim,” jelas dokter anak yang sudah menelurkan beberapa buku ini.

Mahalnya vaksin HPV juga ditengarai yang membuat vaksin belum banyak diberikan oleh anak lelaki. Oleh karenanya untuk Indonesia sendiri, seperti yang dikatakan dr. Meta, program pemberian vaksin HPV ini masih diperuntukan anak perempuan saja.

Di Indonesia, ada 2 jenis vaksin HPV yaitu bivalen dan tetravalen yang beredar. Bivalen mengandung 2 tipe virus HPV (16 dan 18) yang dapat mencegah kanker leher rahim, sedangkan tetravalen mengandung 4 tipe virus HPV (6,11,16,dan 18) yang dapat mencegah sekaligus kanker leher rahim dan juga kutil kelamin atau genital ward.

Setahu saya, sejak tahun lalu pemerintah lewat Kementerian Kesehatan sudah memutuskan untuk menambahkan agenda vaksinasi HPV pada agenda tahunan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), yang biasa diselenggarakan pada bulan Agustus. Seperti yang saya baca di artikel Kompas, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Koesmedi Priharto menyampaikan, siswi SD yang diberikan vaksin HPV gratis ini akan bertambah pada tahun 2017 yang dimulai dari DKI Jakarta lebih dulu.

Tapi sayangnya, imunisasi ini sepertinya masih belum merata, ya? Setidaknya saya sudah bertanya di beberapa WAG, teman-teman saya mengaku bahwa di sekolah anak-anaknya memang belum ada agenda vaksin HPV. Hanya satu teman saya, Rica, yang menyekolahkan anaknya di SD Katika Jaya X-6 mengatakan kalau vaksin HPV sudah diberikan untuk anak SD kelas 5 dan 6. “Tapi anak gue nggak divaksin karena laki-laki,” ujarnya

Mengingat vaksin ini sangat penting dan harganya juga mahal, saya, sih, termasuk orangtua yang berharap kalau di vaksin ini bisa diberikan pemerintah pada anak-anak sekolah.

 


Post Comment