5 Komentar yang Bikin Kesal Para Ayah

Walau pria cenderung woles, 5 kalimat ini ternyata bisa bikin para ayah kesal bin gedeg.

Hati perempuan memang lebih sensitif, itu sebabnya beberapa perkataan seperti, “Kok anaknya kurus banget, nggak dikasih makan, ya?” bikin telinga para mommies panas, muka merah padam, dan hati tersayat. Dia pikir gampang apa menghadapi anak GTM? Para suami biasanya akan lebih woles. Buat mereka komentar orang-orang luar nggak perlu dipikirin. Ah, masa iya, sih, nggak ada pernyataan-pernyataan yang bikin pak suami, paling tidak, menggerutu di belakang layar? Simak cerita para ayah di bawah ini.

5 Komentar yang Bikin Kesal Para Ayah - Mommies Daily

Kok nggak mirip, ya?

“Harus banget, ya, ngomong begitu? Apa nggak dipikirin perasaannya si anak kalau dengar. Kalau dia sudah lebih besar dan bisa berpikir, bisa-bisa dia juga ikut mempertanyakan. Apa harus ikut mata kuliah tentang genetika, berikut ilmu-ilmu kromosomnya, untuk tahu kalau wajah seorang anak itu bisa aja 100% ikut gen salah satu orangtuanya. Bisa juga nggak mirip ibu bapaknya, tapi lebih mirip nenek kakeknya. Itu pengetahuan umum, lho. Mungkin cuma becanda, tapi kalau tiap ketemu ngomong gitu terus, maksudnya apa? Bukan sahabat atau kerabat dekat pula. Ragu kalau ini anak saya? Nggak perlu kan, saya kenalin ke istri saya, keluarga besar saya, atau keluarga istri saya, untuk bisa tahu anak saya paling mirip dengan siapa?”
Rusman, produser (45 tahun).

Sengaja, nih, ngajak jalan anak tanpa istri? Biar dikira duda, ya?

“Bro, ini anak gue. Darah daging gue. Gue ngajak dia jalan-jalan karena gue sayang anak gue, titik. Niat gue satu, bahagiain anak gue. Lagipula, kalau gue mau ngajak anak-anak jalan tanpa istri, so what? Gue ngajak jalan mereka adalah bagian dari peran gue sebagai ayah. Ada nggak ada istri gue, gue pengen anak gue seneng dan nyaman. Nggak ada, tuh, niat biar dikira duda. Memangnya elo, bro?”
HarHar, entrepreneur (37 tahun)

Baca juga:

6 Strategi dari Ayah Super Sibuk Untuk Tetap Dekat dengan si Kecil

Wah, pantas anaknya dekil, yang jaga bapaknya!

“Ckckck…sungguh sebuah penghinaan. Kayak bapaknya nggak bisa jaga anak yang benar saja. Mengerti, kan, kalau main sama ayahnya memang cenderung lebih banyak menggunakan fisik. Dan buat saya, kotor-kotoran artinya belajar. Saya membebaskan anak-anak mengeksplorasi apa pun. Lagian, siapa Anda, sih, yang nggak setiap hari melihat bentukan anak-anak saya sudah berani ngomong begitu?”
Rama, karyawan swasta (36 tahun)

Kok, anaknya kurus kering, tapi bapaknya semok?

“Anak-anak itu, kan, aktif ya. Biar sudah makan banyak, saking aktifnya, badannya tetap kurus. Tapi saya lebih suka anak saya begini, kok. Sepanjang dokter anaknya bilang baik-baik saja, ya, sudah. Artinya berat badannya ideal. Emang anak situ, kurang gerak?”
Yanto, karyawan swasta (35 tahun)

Cieee…lagi tugas jaga, nih?

“Kok, kesannya punya anak itu sebuah beban pekerjaan, ya? Saya menghabiskan waktu sama anak saya, buat bonding. Dan karena saya sayang sama dia. Bukan karena dikasih tugas sama istri. Saya rela, ikhlas, dan memang saya pengen. Cari kalimat yang lebih enaklah, buat basa-basi.”
Banu, karyawan swasta (30 tahun)

Baca juga:

6 Alasan Mengapa Saya Lebih Baik Setelah Menjadi Bapak

So, next time bertemu para ayah, jangan asal njeplak ya mulutnya, karena ternyata para Ayah juga masih punya hati, hehehe.


Post Comment