5 Hal Kecil yang Bisa Dilakukan Bersama Sebelum Anak Beranjak Remaja

Selagi sempat, selagi mereka masih mau, selagi mereka masih banyak waktu buat kita, yuk, lakukan hal-hal ini.

“Perasaan baru kemarin digendong-gendong dan nempel terus di pinggang kayak bayi koala, sekarang dicium saja sudah risih dan maunya main terus sama teman-temannya.” Familiar dengan ungkapan tersebut? Yes, beberapa teman dengan anak-anak yang beranjak pre-teen atau bahkan remaja, mulai merasakan apa yang saya rasakan. Sering saya dengar, “Duh, kak, kembali bayi lagi aja, deh,” atau, “Ah belum rela kamu gede, nak. Kecil aja dulu, ya.” Semacam dilema ya buibu, hahaha…

Jadi mommies yang baru punya bayi, puas-puasin, deh, ya. Buat yang punya balita yang hobi ngintilin kita kemana-mana, nikmati ajalah, ya. Jangan dipusingin, karena ada waktunya mereka beranjak dewasa dan lepas dari kita (dan kita pun sebenarnya belum rela). Berikut beberapa hal yang sebaiknya kita lakukan selagi mereka ‘masih punya waktu’ buat kita. Yang akan mengisi memori masa kecil mereka dengan kehadiran kita ;)

5 Hal Kecil yang Bisa Dilakukan Bersama Sebelum Anak Beranjak Remaja - Mommies Daily

Balik jadi anak kecil lagi
Maksudnya bukan bertingkah dan berpikir seperti anak-anak, tapi lebih kepada melibatkan diri dalam aktivitas mereka. Misalnya, ketika si bayi cuma bisa merangkak, untuk bermain dengannya, kita juga bisa ikut merangkak. Jika si balita sedang sibuk dengan dunia peri, kita berperan sebagai peri jahatnya lengkap dengan jubah dari sprei dan sapu terbang. Penuhi kenangan masa kecilnya dengan kita sebagai temannya di segala suasana. Dengan begitu, selamanya ia akan merasa kita sebagai temannya dan nggak ragu buat curhat sama kita, walaupun dia punya teman lain di kala dewasa nanti.

Lihat segala sesuatu dari sudut pandang si anak
Dulu saya termasuk galak kalau ngajarin Awan, menjelang UTS atau UAS. Ibu saya sampai sempat protes. Iya, sih, saya bisa lihat, jelang UTS/UAS Awan seperti stres kalau sudah mau belajar. Ujung-ujungnya, ada air mata yang keluar. Kalau bukan saya, ya, dia. Kemudian saya pikir-pikir lagi dan mencoba untuk melihat semuanya dari sudut pandang dia. Seperti anak, kita juga kalau belajar tentunya maunya di suasana yang enak. Ya, kan? Kita juga maunya nggak pakai dimarah-marahin sama orangtua. Betul, nggak? Akhirnya saya ganti strategi, saya lihat metode belajar Awan bagaimana. Rupanya dia tipe anak yang kalau belajar, lebih suka mengerjakan soal-soal daripada didikte. Akhirnya saya bikin soal-soal di buku tulis khusus. Nanti dia kerjakan, kalau ada yang tidak bisa, ditinggalkan dulu, setelah saya periksa baru dia cari jawabannya di buku. Berhasil! Sampai sekarang dia kelas 4 SD, jelang UTS dan UAS, suasana hati aman, damai, sentosa. Yay!

Ngobrol dari hati ke hati
Apa saja. Bicarakan apa saja kepada si kecil. Tentunya dengan porsi sesuai usianya, ya. Bahkan jika memungkinkan, bicarakan kegalauan kita tentang teman kantor yang suka ganggu pekerjaan kita. Atau misalnya, apakah uang di tabungan sebaiknya buat liburan keluarga ke Bandung, atau beli laptop incaran si kecil. Dengan begitu, anak merasa dihargai karena ikut berdiskusi mencari jalan keluarnya. Membiasakan ngobrol dari hati ke hati merupakan cara yang ampuh membangun bonding dengan anak. Mungkin topik obrolan cukup remeh, tapi prosesnya ternyata penting dalam membangun kedekatan kita dengan si kecil.

Sticky notes berisi kata-kata manis
Tuliskan kata-kata berisi penyemangat, ujaran-ujaran manis atau bahkan teka-teki yang jawabannya bisa dia tanya di rumah. Bisa juga ungkapan rasa cinta dan sayang kita untuknya. Lalu tempelkan di tempat-tempat yang sering ia kunjungi atau buka. Notes tersebut bisa ditempel di salah satu halaman buku pelajarannya, di kotak bekal, atau bahkan cermin kamar mandi. Tunjukkan padanya, kita selalu hadir dalam setiap langkahnya, di mana saja.

Ciptakan tradisi keluarga
Sesederhana makan malam bersama setiap akhir pekan, lengkap dengan kakek nenek, atau bikin kue kebangsaan keluarga seperti chocolate chip cookies buatan sendiri, setiap tradisi keluarga pasti punya kenangan manisnya tersendiri. Ini tentu harus konsekuen, ya, kalau mau menjadikan sebuah aktivitas sebagai tradisi keluarga. Aktivitas harus dilakukan rutin, paling tidak sebulan 2-3 kali. Tidak harus rumit atau mewah, yang penting penuh makna. Siapa tahu ia akan menurunkan tradisi ini dengan keluarganya sendiri kelak.


Post Comment