Hati Hati, Anak Jadi Korban dan Pelaku Bullying Karena Sikap Orangtua

Semua orangtua ingin semua anaknya bisa terbuka. Mampu menyuarakan isi hatinya, bahkan bisa melawan jika dibully. Pertanyaannya, sudahkah kita memberi bekal yang cukup? Jangan-jangan sikap kita justru menghambat anak-anak untuk tidak bisa bersuara dan melakukan hal yang positif? 

Dari sekian banyak harapan orangtua, saya yakin salah satunya adalah keinginan agar anaknya untuk bisa bersuara. Speak up. Nggak perlu takut untuk mengutarakan apa yang ia rasakan, apa keinginannya, bahkan nggak perlu takut kalau memang ada yang mem-bully.

Faktanya, kondisi bullying sampai sekarang tidak pernah berkurang. Kecendrungannya justru malah bertambah terus menerus. Data YKAI sejak tahun 2011 hingga 2016, KPAI menemukan sekitar 252 kasus, terdiri dari 122 anak yang jadi korban, dan 131 jadi pelaku.  Sementara tahun 2017, Kementrian  Sosial sudah menerima 976 laporan terkait tindak bullying. Mengetahui informasi tersebut, kok, bikin miris, ya.

Ah, ngomongin masalah bullying, kondisi ini kan sudah aja sejak zaman baheula. Ketika saya masih sekolah dulu, saya pun nyaris jadi korban bullying. Istilahnya dulu, digencet kakak kelas :D  Beruntung, saya mendapat bekal yang cukup dari orangtua, sehingga tahu apa yang perlu saya lakukan dan bagaimana bertindak. Coba bayangkan bagaimana kondisi dan perasaan anak-anak yang jadi korban bullying, tapi nggak bisa melakukan apa-apa? Yang ada bisa stress dan depresi.

Bully- mommiesdaily

Beberapa hari lalu, saya sempat datang ke acara press conference yang diadakan Yupi mengenai campaign mereka yang terbaru, ‘Let’s Speak Up’. Gerakan yang mengajak semua anak-anak khususnya anak-anak yang memasuki fase pra remaja dan remaja untuk bisa lebih bersikap positif dan mengekspresikan dirinya. Nggak perlu ragu dan malu menunjukan kemampuan yang mereka miliki.

Masalahnya, nih, mengajarjan anak untuk bisa punya sikap positif itu kan nggak gampang, ya? Toh, kenyataannya masih banyak kok orangtua yang nggak paham dan membekali anak-anaknya.  Malah tidak sedikit orangtua yang justru membully anaknya sendiri.

Hal ini dipertegas Yasinta Indrianti, Psikolog dari EduPsycho Research Institue, yang mengatakan kalau orangtua tanpa memang bisa membully anaknya sendiri. Dari sini, anak pun akhirnya bisa tumbuh menjadi anak yang senang menindas orang lain, hal ini dilakukan anak karena nggak paham mencari jalan keluar.

Mbak Yasinta memaparkan ada beberapa tindakan yang sering keliru dilakukan orangtua sehingga bisa menumbuhkan perilaku anak sebagai pembully atau sebaliknya, anak yang tidak bisa melawan sehingga jadi korban bullying.

Kesalahan tersebut tentu saja dipicu karena pola asuh yang keliru. “Pola asuh yang otoriter membuat anak enggan untuk menceritakan permasalahan yang dihadapi, tekanan yang mereka rasakan di rumah  akhirnya mereka lampiaskan dengan cara menekan orang lain. Bisa juga mereka justru menjadi rendah diri sehingga rentan menjadi korban bully. Sama juga dengan  pola asuh permisif yang membuat anak merasa boleh melakukan apapun sesuka hatinya, termasuk melakukan bully kepada temannya,” ungkapnya.

Katanya Mbak Yasinta, ternyata sampai sekarang masih banyak kok, orangtua yang seperti ini. Padahal saat kita jadi orangtua otoriter, anak tentu nggak akan merasa nyaman. Jadi males ngobrol sama orangtua. Jadi, jangan harap, deh, anak bisa curhat. Pun kalau jadi orangtua menerapkan pola asuh permisif sehingga kecendrungan anak jadi nggak tahu batasan, risikonya anak bisa tumbuh tidak ‘matang’.

Kesalahan lain yang sering tanpa disadari orangtua adalah sikap membandingkan dengan orang lain. Termasuk dengan saudaranya sendiri. Kondisi ini jelas membuat anak tidak nyaman dan merasa tertekan. Ujung-ujungnya anak tidak bisa ‘bersuara’. Mbak Yasinta juga mengingatkan agar orangtua lebih hati-hati dalam memilih kalimat saat berbincang dengan anaknya.

“Kalimat atau komentar seperti, ‘Kamu tuh bodoh banget, sih, seperti ini saja nggak bisa?’ juga jangan sampai terucap. Kalimat seperti ini sebenarnya sama saja kita mem-bully anak sendiri. Luka yang dirasakan anak jika sudah dibully secara verbal oleh orantuanya juga lebih sulit dihilangkan, lho, ketimbang luka fisik,” ungkap Mbak Yasinta.

Parahnya, jika anak sudah terbiasa mendengar kata-kata kasar seperti itu juga bisa berisko menganggap bahwa mengucapkan kata-kata kasar dan menyakitkan pada oranglain merupakan hal yang lumrah. Kemungkinan lain, anak juga bisa merasa kalau memang dirinya layak dicemooh seperti itu sehingga ia tidak bisa bersuara.

Kebayang nggak jika kondisi ini terjadi atau dialami anak-anak kita? Duh, jangan sampai ya….lebih baik sejak dini anak-anak dilatih untuk memiliki sikap yang postitif. Sesuai dengan campaign Yupi, “Let’s Speak UP!”


Post Comment