10 Kunci ART Awet (Gaji Tinggi Tidak Termasuk)

Ditulis oleh: Prameshwari Sugiri

Ada yang bilang, cari ART lebih susah cari daripada jodoh. Kalaupun sudah dapat, belum tentu bertahan lama pula. Apa dong ya, rahasia supaya ART awet?

Sejak menikah, punya anak, dan tinggal di rumah sendiri, saya baru 3x ganti asisten rumah tangga (ART). ART pertama kami bekerja selama 1 tahun dan berhenti karena menikah. ART kedua kami bekerja selama 6 tahun dan berhenti karena punya anak. Sementara ART ke-3 kini sudah bekerja selama 3 tahun bersama ART ke-4 yang sejak tahun lalu ikut membantu. Kata teman-teman, ini prestasi. Mereka pun kerap bertanya; apa sih, rahasianya?

Untuk saya sendiri, ini tidak pantas disebut prestasi. Soalnya, ART orangtua saya mereka bisa bertahan hingga belasan tahun. Bahkan supir yang hingga saat ini mengantar Ibu saya ke mana-mana sudah 34 tahun bekerja dengan keluarga kami. Tidak heran kalau hubungan kami dengan para asisten sudah seperti keluarga saja.

Kalau kembali lagi soal apa rahasianya? Ya, sebetulnya biasa saja. Saya hanya mengikuti beberapa hal yang biasa orangtua saya lakukan ditambah beberapa hal yang saya dan suami putuskan sendiri. Apa saja? Yang jelas, tidak satu pun di antaranya menyinggung soal besaran gaji. Ini dia:

 10 KUNCI ART AWET  (Gaji Tinggi Tidak Termasuk) - Mommies Daily

1. Temui sebelum mulai bekerja. Namanya juga mencari ‘jodoh’ dan hendak melakukan hubungan kerja. Saat bertemu biasanya kami akan menanyakan beberapa hal meski tidak serupa dengan interview kerja di kantor. Tapi setidaknya, bisa lebih mendapat gambaran tentang latar belakang calon ART, menangkap gerak-gerik, cara menjawab, hingga merasakan chemistry-nya.

2. Tentukan soal hari libur & aturan cuti di awal masa kerja. Saya dan suami memberi libur di setiap akhir pekan yang bisa digunakan ART untuk mengunjungi rumah kerabatnya atau sekadar jalan-jalan. Untuk cuti pulang kampung, kami jelaskan bahwa kami harus cuti kantor setiap kali dia cuti. Jadi semua harus dibicarakan dan tidak boleh dadakan.

3. Buat jobdesk yang jelas agar ART tahu apa-apa saja yang harus dia kerjakan dan bagaimana kami berharap ia mengerjakannya. Untuk membantu ART baru mengingatnya, saya ketik, print dan tempel tugas-tugasnya sesuai dengan tempat. Misalnya di dapur, ruang keluarga, kamar anak, dll.

4. Beri privasi dan kesempatan istirahat dengan menyediakan kamar sendiri. Ketuk pintunya bila hendak masuk. Pernah ART saya cerita, “Majikan yang dulu minta saya tidur seka melamar bertiga, sama Ibu dan anaknya. Wah, saya nggak pernah bisa tidur jadinya. Takut nggak sopan atau kentut.”

5. Beri ruang untuk kesalahan –dan jelaskan kenapa menurut Anda pekerjaannya salah dan bagiamana ia bisa memperbaikinya. Seringkali, kesalahan terjadi karena mereka memang tidak mengerti atau belum pernah mengalaminya. Salah satu ART saya dulu tidak pernah melihat microwave seumur hidupnya dan tidak tahu yang mana yang namanya kain sutera!

6. Gunakan 3 Kata Ajaib. Bilang tolong saat minta diambilkan sesuatu, terima kasih setelah ia melakukannya dan katakan maaf bila memang kita salah. Kami juga selalu menegur serta menyuruh anak-anak minta maaf kalau bersikap tidak sopan atau bicara kasar pada ART yang membantu mereka.

7. Makan yang sama dengan apa yang kita makan di rumah. Ibu saya terbiasa memisahkan lebih dulu lauk untuk para asisten agar mereka tidak mendapat makanan sisa. Kalau kita lagi makan steak atau bikin acara BBQ-an? Ya nggak usah segitunya, sih. Tapi nggak ada salahnya kan, sesekali mereka mencoba juga? Tinggal diatur saja porsinya.

8. Bayar gaji tepat waktu dan pastikan tanggalnya. Di kantor juga kita bete kan kalau gaji telat ditransfer atau nggak konsisten? Untuk mencegah lupa, Ibu saya menandai kalender dinding di kamarnya. Kalau saya ya, pakai reminder di hp saja.

9. Duduk bersama dan biarkan ia pilih sendiri makanan di buku menu saat di restoran. Bila canggung, kami tinggal mengatur posisi tempat duduknya –meski tetap di meja yang sama. Di beberapa restoran yang menunya sulit dipahami, saya biasa membantu dengan tetap memberi pilihan, “Kamu mau nasi goreng, ayam tepung atau sup tahu?” Mudah, kan?

10. Rayakan ulang tahunnya! Tidak perlu mewah, yang penting ia tahu kita peduli dan mencatatnya. Panggilkan tukang bakso misalnya. Saja juga pernah membeli satu (iya cuma satu) buah donat yang diberi lilin kecil untuk pengasuh anak-anak. Tidak disangka, ia sangat senang dan sambil berkaca-kaca bilang, “Terima kasih Bu, ini pertama kali saya ulang tahun pakai tiup lilin!”


Post Comment