Membingkai Indonesia, Lewat Buku “Menggapai Mentari”

Ketika 18 anak usia 10-12 tahun, mencoba mendeskripsikan keberagaman Indonesia, lewat buah pikiran yang dituangan ke dalam cerita polos mereka. Penasaran seperti apa jadinya?

“Isi buku ini secara keseluruhan adalah tentang rakyat.” – Maman Suherman, Penulis & Penggiat Literasi

Membingkai Indonesia, Lewat Buku “Menggapai Mentari” - Mommies Daily

Tutur Kang Maman saat hendak pamit dalam peluncuran buku Menggapai Mentari, 28 Oktober lalu di bilangan Jakarta Selatan. Kang Maman, sempat berkaca-kaca saat menuturukan kekagumannya dengan kemampuan 18 anak dari SD Mentari Intercultural School Jakarta.

Memang benar adanya. Buku Menggapai Mentari, menurut hemat saya, mencoba membingkai potret kehidupan rakyat Indonesia. Beberapa waktu lalu, masih segar di ingatan kita, suhu politik dan kehidupan beragama di Indonesia sempat memanas. Isu-isu sensitif semacam ini, hampir saja menggoyahkan kebhinekaan kita. Adik-adik dari sekolah Mentari, jeli menangkap berbagai isu tadi, dituangkan dalam bentuk cerita. Tentu, dengan gaya bahasa dan konsep pemikiran mereka yang masih orisinil.

Apa yang mommies bayangkan jika 18 murid SD, mengeluarkan kemampuannya menulis tentang keberagaman Indonesia? KEREN! Itu kata pertama yang keluar dari saya. Dari judul cerita masing-masing anak, sudah menggelitik untuk dibaca.

Sherazade Nurul Amira Prasetyo, dengan “Menjelajahi Pancasila di Sekolah.” Shera becerita, kalau memahami Pancasila ternyata nggak sulit, lho. Ia mencontohkan, dari berbagai kejadian di sekolahnya. Sudah bisa “membingkai” apa sih fungsi dan makna Pancasila?

Berikutnya ada “Satu Hektar Harapan,” karya Allegra Freya Berlinawan. Berkisah tentang galaunya petani karet, ketika lahannya ingin dibeli oleh pengusaha kaya raya. Di tengah keresahannya, ada seseorang yang tak diduga, menyelamatkan lahan warisan keluarga bapak ini.

Cerita lainnya dengan judulnya bikin saya lapar :D, adalah “Soto Anak Bangsa”, datang dari Ralfie Nafirash Parsha Wibowo. Ini anak kok kepikiran aja ya, bikin judul seperti ini, hihihii. Jadi mommies, Ralfie menggambarkan soto sebagai tokoh yang punya jiwa nasionalisme tinggi. Peduli sama nasib bangsa, dan ingin berbuat sesuatu, supaya negaranya nggak terpecah belah. Apa yang soto lakukan untuk menjaga persatuan bangsanya? Silakan baca selengkapnya di buku Menggapai Mentari, ya mommies.

Buku Menggapai Mentari, bukan karya pertama dari SD Mentari Intercultural School Jakarta (MISJ). Sebelumnya tercatat, “Cerita Kita Dunia Kita,” “Pelangi Lima”, “Menabur Bintang.” Semua berawal tahun 2013, seorang guru Bahasa Indonesia Bapak J Proboantoro, mempunya ide membukukan hasil tulisan anak-anak, supaya ada jejaknya, tak hilang begitu saja.

Hal lain yang menarik dari buku ini, menurut saya, setiap cerita punya warna halaman berbeda dan diselipkan ilustrasi gambar yang disesuaikan dengan isi cerita penulis. Jadi, buku ini cocok banget dibaca siapa saja. Baik dewasa apalagi anak-anak, nggak membosankan, dan disetiap halamannya, terselip pesan moral yang disampaikan dengan sederhana, namun sangat bermakna.

Tertarik punya? Mommies bisa beli di toko buku besar seperti Gramedia, dan Kinokuniya. Dengan Rp 75 ribu, si kecil sudah bisa mendapatkan pengalaman baca yang kaya dengan nilai kebangsaan, namun disajikan sesuai dengan karakter anak-anak. Atau juga mau dijadikan hadiah? Bisa juga, kok :)

Baca juga:

Direktori Perpustakaan Anak

Book Review : Asiknya Membaca Buku WHY Series

PiBo: Surganya Orangtua Mencari Buku Bacaan Anak yang Berkualitas


Post Comment