Membangun Kebiasaan dengan Rutinitas yang Baik dalam Keluarga

Ada salah satu quote yang saya suka dari Aristotle yang bilang, ”We are what we repeatedly do. Excellence, than is not an act but a habit”. Saya sangat setuju kalau kita  ingin megubah sesuatu ke arah yang lebih baik, memang harus dimulai melakukan kebiasaan dengan rutinitas baik lebih dulu.

“Ayo, tugas di sekolahnya sudah dikerjain belum? Jangan ditunda-tunda, nanti kamu malah males.”

“Sudah sholat belum? Waktunya sudah mau habis, lho. Jangan ditunda-tunda,”

“Sebelum ngantuk, ayo sikat gigi dulu. Kalau sudah ngantuk, nanti malah nggak sikat gigi.”

“Buang sampah jangan sembarangan, cari tempat sampahnya. Kalau nggak ada, simpan di dalam plastik saja dulu.”

“Ayo biasakan, kalau sudah rutin dilakukan nanti juga akan terbiasa.”

Zaman saya masih jadi anak sekolahan, kalimat di atas ini sering banget mampir di telinga saya. Kalimat yang nggak pernah capek diucapkan mama saya ini memang terus nempel di ingatan. Bahkan, sampai saya sudah jadi ibu-ibu seperti sekarang.

Yang jelas, kalimat di atas justru sering saya ucapkan pada anak saya, Bumi. Sekarang saya jadi tambah yakin, kalau kebiasaan-kebiasaan yang baik ini memang harus dibiasakan sejak dini. Dalam hal ini faktor pendidikan jadi hal penting yang memengaruhi perilaku tersebut, terutama yang berasal dari keluarga. Ibaratnya, nih, kalau sudah terbiasa melakukan sejak kecil jadi sudah ‘mendarah daging’. Bisa karena memang sudah terbiasa melakukannya.

membangun kebiasaan dengan rutinitas yang baik dalam keluarga

Charles Duhigg dalam bukunya The Power of Habit, menuliskan kalau kebiasaan menjadi kunci yang bisa memicu perubahan di aspek-aspek dalam kehidupan ini.  Artinya, kebiasaan yang kita lakukan bisa jadi pondasi dari terbentuknya kebiasaan baik lain.

Tanpa disadari memang ada beberapa kebiasaan sederhana yang bisa mengubah hidup kita jadi lebih baik, dan ini tentu saja perlu ditularkan pada anak-anak. Bukankah kita memang yang berperan jadi mentor untuk anak-anak? Children see, children do.

Hal ini pun juga diyakini Listerine untuk megajak keluarga Indonesia untuk memulai rutinitas yang baik sejak dini. Mulai saja dengan hal-hal sederhana lebih dulu. Misalnya melatih anak untuk hidup dengan pola hidup sehat.

Bagaimana pentingnya mengonsumsi makanan dengan kandungan vitamin yang baik, termasuk dengan melakukan aktivitas olahraga yang rutin. Mau mengajak anak makan junk food? Kalau saya, sih, boleh saja asal tidak kebablasan. Ya, cheating sebulan sekali nggak ‘dosa’ bukan? Hahahaha

Termasuk jangan lupa, ajarkan anak untuk melakukan kebiasaan rutin menyikat gigi. Sayangnya, nih, fakta di Indonesia mengenai kesehatan gigi masih cukup memprihatinkan, karena berdasarkan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), penyakit gigi dan mulut menempati peringkat ke-6 sebagai penyakit yang paling banyak dikeluhkan oleh masyarakat Indonesia. Tingginya tingkat penderita penyakit gigi dan mulut ini berbanding lurus dengan rendahnya jumlah masyarakat yang merawat gigi dan mulutnya sesuai anjuran medis.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan hanya 2,3% masyarakat Indonesia yang menyikat gigi sesuai anjuran dokter gigi yaitu setelah makan dan sebelum tidur. Selain itu, masih sangat sedikit masyarakat yang menyadari pentingnya menggunakan mouthwash setelah menyikat gigi. Padahal  penting banget, lho!

Menyedihkan bukan?

Makanya, belakangan ini PT Johnson & Johnson Indonesia melalui produk Listerine melakukan sebuah gerakan yang mengajak masyarakat Indonesia, khususnya kaum ibu yang memiliki peran sentral dalam merawat keluarga, untuk lebih aktif mendorong seluruh anggota keluarganya agar lebih peduli terhadap kebersihan serta kesehatan gigi dan mulut.

ANAK SIKAT GIGI

Salah satunya lewat kebiasaan menggunakan obat kumur karena menyikat gigi saja tidak cukup. Supaya lebih maksimal, untuk memastikan sisa kotoran benar-benar bersih, setelah menyikat gigi perlu dilanjutkan dengan dental floss (benang gigi) dan obat kumur. Soalnya, saat kita menyikat gigi hanya menghilangkan 30-53 persen dari kotoran gigi.

Devy Yheanne, Country Leader of Communications & Public Affairs, PT Johnson & Johnson Indonesia menjelaskan kalau kotoran terus dibiarkan tentu saja akan menimbulkan masalah dalam kesehatan gigi. Mulai dari seperti penumpukan plak, radang gusi (gingivitis) serta nafas tak sedap.

Kabar baiknya, saat ini Listerine mouthwash sudah mengeluarkan varian baru yaitu varian Zero (non alcohol) sudah dapat digunakan bagi anak di atas usia 6 tahun. Saat acara dengan bincang media, saya pun sempat bertanya bagaimana jika obat kumur ini tanpa sengaja tertelan oleh anak-anak. Bahaya nggak, sih? Menurut Devy Yheanne, jika memang hanya tertekan sedikit tentu saja tidak mebahayakan tubuh. Hal yang berbeda jika memang obat kumur sengaja diminum dalam jumlah yang banyak.

Dan rasanya hal ini nggak mungkin dilakukan anak-anak, ya? Sengaja menelan dalam jumlah yang banyak. Lah wong, baru kumur sebentar saja sudah nggak tahan. Kalau kata anak saya, “Selain agak pedes, mulut aku jadi agak keset, deh, Bu!”

Hahahaha….

Tapi itu dulu, sih, sekarang setelah Listerine mengeluarkan varian terbarunya, Green Tea memiliki rasa yang lebih ringan dengan kandungan 0,05% fluoride, anak saya lebih nyaman saat berkumur dan dapat memberikan perlindungan efektif terhadap lapisan enamel gigi. Produk terbaru, varian Zero ini, after  taste sepet di mulut nggak terasa lagi karena rasanya jauh lebih ‘ringan’. Harapannya, sih, 4 minyak esensial  yang terdapat di dalamnya bisa efektif mampu mengurangi bakteri plak untuk memberikan nafas segar dan membersihkan permukaan gigi.

Oh, ya, ketika berbicara soal membangun kebiasaan yang baik dalam keluarga, saya juga sangat percaya kalau faktor kedisiplinan dan konsisten itu memiliki peran yang besar. Supaya berhasil menanamkan kebiasaan baik, seluruh anggota keluarga perlu melakukan bersama-sama secara disiplin. Setuju, dong?

 

 

 

 

 

 


Post Comment