Lupakan Super Mom, Saatnya Healthy Mom

Lupakan predikat supermom (because nobody’s perfect). Ada hal lain yang lebih penting untuk dikejar, yakni healthy mom terutama dalam empat hal ini!

“Duh, pingin deh, ikut komunitas yoga di weekend. Tapi, harus antar anak ke tempat les. Dia nggak mau diantar ayah. Harus diantar ibunya. Mana bisa libur kalau kayak begini?”

“Sekarang anakku susah banget dibilangin. Habis, biasa dimanja sih, sama neneknya. Serba salah!”

Pernah menjadi wanita karier dan kini menjadi ibu rumah tangga, membuat saya akrab dengan curhatan Mommies dari dua ‘kubu’ tersebut. Mana yang lebih enak? Dua-duanya sama berat. Hanya bentuk tantangannya saja yang berbeda. Menjadi ibu harus piawai juggling mengurus banyak hal sekaligus.

Bicara tentang healthy mom, Secara garis besar –baik ibu bekerja maupun ibu rumah tangga—ada 4 aspek ‘sehat’ yang harus diraih oleh seorang ibu.

Lupakan Super Mom, Saatnya Healthy Mom  - Mommies Daily

EMOSI
Sehat dari sisi emosi ini tentunya berbeda antara ibu bekerja dan ibu rumah tangga. Saat saya menjadi working mom, sumber stres saya adalah pekerjaan, kemacetan, deadline, asisten rumah tangga hingga relasi dengan teman kantor. Setelah saya menjadi ibu rumah tangga, berkutat dengan urusan domestik yang tak pernah habis adalah sumber stres saya. Belum lagi, menghadapi anak 24/7 dengan segala printilan dan kerewelannya.

Menurut survei dari American Psychological Association (APA) 2010, wanita lebih cenderung melaporkan gejala stres dibandingkan pria. Stres memang nggak bisa dihindari. Tapi, ada banyak cara kok untuk mengatasi stres dan mengelolanya dengan sehat. “Bagaimana seorang ibu mengelola stres, sering menjadi panutan bagi anggota keluarga lainnya,” begitu menurut psikolog APA, Lynn Bufka, PhD.

Nah, demi menjaga kestabilan emosi, kita nggak bisa bergantung sama orang lain! Mau itu suami atau anak. Justru, kestabilan emosi mereka yang bergantung pada kita. Kalau kita stabil dan happy, mereka juga akan happy, dan sebaliknya. Makanya, saya lari ke yoga. Bagi saya, yoga adalah me time.

FISIK
Anak-anak adalah hal yang paling penting dalam hidup saya. Saya mati-matian berusaha menjadi ‘supermom’, walaupun itu harus membuat saya kurang tidur, sering begadang di rumah (karena selalu buru-buru pulang kantor demi anak), dan merelakan sedikit waktu libur untuk bermain dengan anak. Dalam proses tersebut, saya pernah mengalami drop secara fisik. Badan jadi mudah sakit. Ujung-ujungnya, anak dan rumah malah enggak keurus.

Setelah melewati masa sering sakit-sakitan, saya baru menyadari pentingnya mengurus diri sendiri. Sehat itu nomor satu, yang lain bisa dikejar kalau kita sehat. Sekarang saya tak lagi merasa bersalah pada anak (atau suami) ketika harus memprioritaskan waktu untuk olahraga. Bukan, bukan cuma demi berat badan tetap ideal (itu mah bonus), tetapi demi mengusir penyakit langganan. It feels so good to be healthy!

FINANSIAL
Nah, momok yang satu ini mungkin lebih banyak membayangi para ibu rumah tangga (kelas menengah pas-pasan) seperti saya. Begitu saya melepas pekerjaan kantoran, salah satu sumber income tetap menjadi hilang. Saya sering mendapat pertanyaan dari teman, “Lebih enak mana, kerja atau di rumah?” Lebih enak di rumah dan uang masuk terus, dong. Betul, kan?

Sejak dulu, saya percaya, wanita harus berdaya dan independen secara finansial. Sebab, kita tidak pernah tahu jika nantinya terjadi hal-hal di luar perkiraan kita. Memang, tidak semua orang punya ‘kemewahan’ untuk menghasilkan uang tanpa perlu bekerja kantoran, seperti membuka bisnis rumahan atau menjadi freelancer. Tetapi, hal ini bisa dimulai dengan melek finansial. Belajar tentang perencanaan keuangan, investasi, juga hak-hak finansial istri dan perlunya dana darurat (terutama kalau terjadi apa-apa pada suami).

HUBUNGAN SOSIAL
Seorang ibu –tanpa terkecuali- memerlukan support group. Sharing dengan sesama ibu adalah salah satu cara merilis stres. Dengan kata lain, jadi ibu itu harus gaul dan eksis.

Salah satu hal yang saya rasakan berat setelah resign dari kantor adalah kehilangan teman rumpi, curhat, dan gosip. Semua itu biasa saya temukan dari teman kerja, relasi kantor, teman sekolah yang bisa sewaktu-waktu saya ajak ketemuan untuk makan siang atau hang out after hour. Facebook dan Whatsapp Group tak bisa menggantikan serunya rumpi tatap muka dengan teman gaul.

Sekarang, saya harus merintis dari nol pertemanan baru yang bisa sedekat teman kantor dulu. Membuka pergaulan dengan sesama ibu penjemput anak di sekolah, ibu-ibu di lingkungan RT rumah, dan teman komunitas yoga, olahraga yang baru saya tekuni.

Jadi, mungkin sekarang waktunya kita menggeser kalimat supermom menjadi healthy mom!


Post Comment