Anak Tumbuh Lebih Tangguh dengan Adversity Quotient

Ditulis oleh: Lariza Puteri

Menciptakan anak yang tangguh tidak semudah mengajari anak untuk menerima kekalahan.”

Mendengar penjelasan dokter dalam sebuah forum ngobrol santai membuat saya berpikir lebih jauh. Kala itu, dokter sharing tentang banyak hal yang bisa terjadi pada proses pemberian makan pada anak. Saya mengangguk berkali-kali, karena sangat setuju dengan apa yang ia katanya. Dalam proses makan, yang belajar tak hanya anak, tapi juga orangtua. Dalam proses berkenalan dengan makan, anak belajar untuk mengunyah makanan yang makin lama teksturnya bertambah keras.

Anak Tumbuh Lebih Tangguh dengan Adversity Quotient - Mommies Daily

Saat ia berusaha mengunyah, ternyata anak juga berusaha untuk menggerakkan hampir semua bagian mulutnya, dari lidah, rahang sampai bibir (yang seringkali terlihat lebih monyong, hihi). Saat itu juga, ibu belajar untuk memberikan kesempatan pada anak untuk berusaha. Sayangnya, kata dokter, masih banyak ibu yang tak membiarkan anaknya kesusahan mengunyah daging. Saat terlihat anak kesulitan, sontak ibu mengambil sikap, “Udah, deh, makan yang halus-halus, saja!” dan makanan di piring anak pun berganti menjadi makanan lunak.

Urusan makan bisa dikatakan masalah yang sepele, tapi nyatanya banyak kemampuan yang dikembangkan di situ. Dari proses makan yang sederhana itu juga, anak mulai dikenalkan dengan ketangguhan. Dan makna kalimat barusan ternyata cukup dalam dan berpengaruh terhadap proses tumbuh kembang anak yang cukup panjang. Soal ketangguhan ini, saya pun ngobrol panjang lebar dengan psikolog Saskhya Aulia Prima, M.Psi., Psikolog dari TigaGenerasi.

Perbincangan panjang saya tentang anak tangguh ini kemudian mengenalkan saya pada istilah Adversity Quotient. Menurut penjelasan Saskhya, Adversity Quotient adalah kemampuan anak untuk bangkit lagi setelah menghadapi masalah. Dulu, kita mengenal IQ atau kecerdasan intelektual anak dan EQ yang mengukur kemampuan anak menguasai emosinya sendiri maupun hubungan dengan orang lain. Nah, AQ atau Adversity Quotient ini melengkapinya.

Kemampuan AQ ini ternyata sangat penting bagi anak. Simpelnya begini, saat anak terbiasa ditolong orang di sekitarnya dan tak berusaha sendiri untuk menghadapi masalahnya atau bangkit lagi dari masalahnya, maka anak pun akan berpikiran, “ Ah, santai, ada Mama atau Papa yang bisa beresin,” atau “Ah tidak apa kalau tidak ngunyah makanan sampai halus, nanti juga dikasih susu dan sama kenyangnya.” Anak pun menjadi terbiasa dengan ‘kemudahan-kemudahan’. Ia jadi tak kenal istilah tantangan. Padahal, menurut Saskhya, bila kemampuan AQ dimiliki anak, perkembangan yang anak dapatkan lebih jauh dari sekarang, baik dari segi sosial maupun emosi.

Lalu bagaimana mengajarkan kemampuan AQ pada anak? Mudah saja, buat anak merasa tertantang dan biarkan ia menyelesaikannya sendiri. Misalnya, saat anak sedang belajar berguling pada usia 2 bulan, yang akan berlanjut pada belajar tengkurap. Ada orangtua yang gemas melihat usaha anaknya miring-miring tapi tak kunjung tengkurap, dan akhirnya orangtua pun selalu membantu anak terkurap. Selalu seperti itu, hingga datanglah keluhan dari orangtua, “Kok, anakku belum bisa tengkurap sendiri, ya?” Begitu juga saat anak belajar berjalan. Bantuan selalu datang dari orangtua, dengan alasan takut anaknya jatuh. “Pada dasarnya membantu tidak apa-apa dilakukan, tapi hanya pada kadar yang cukup, jangan berlebihan,” jelas Saskhya. Dari proses jatuh dan usaha anak berdiri sendiri itulah, anak mulai belajar kemampuan AQ.

Yang jelas, kemampuan AQ bisa diajarkan pada anak sedini mungkin, sejak anak belajar berguling atau saat perkembangan motorik bayi mulai berkembang. Dengan kemampuan AQ, diharapkan anak bisa mengusai dirinya saat terjadi masalah. Jadi, down-nya sebentar saja, tak sampai membuat anak stres atau menangis hingga beberapa hari. Anak dengan kemampuan AQ akan lebih cepat bangkit kembali. Catatannya, jangan cuma bangkit kembali namun juga mengusahakan yang lebih baik lagi.

Sepertinya gampang-gampang susah, ya, Moms. Menurut Saskhya lagi, kendala terbesar dalam mengajarkan kemampuan AQ ini pada anak justru pada orangtuanya sendiri, terutama orangtua yang ga tegaan. Kendala lainnya adalah kurangnya sensitifitas orangtua dalam menilai takaran tantangan yang pas untuk anak. Sebab, bila tantangan terlalu besar, di luar kemampuan anak, bisa-bisa, anak justru jadi melempem.

Kembali pada proses belajar makan tadi. Menurut saya, ini juga jadi ‘ajang’ latihan bagi anak untuk mengenal kemampuan AQ. Meskipun anak terlihat kesulitan mengunyah, namun bila tekstur makanan sudah sesuai dengan usianya, percayalah bahwa ia bisa mengunyahnya dan berikan kesempatan padanya untuk berusaha dengan baik dan terus mengulangnya, hingga ia menikmati makanannya. Jangan buru-buru berjalan mundur dan kembali memberikan makanan lunak, ya.


Post Comment