Mendapatkan Kekerasan Finansial dalam Perkawinan, Ini yang Harus Mommies Lakukan

Ditulis oleh Prita Hapsari Ghozie, SE, Mcom, GCertFP,CFP®, QWP – Chief Financial Planner ZAP Finance.

Menyambung artikel yang lalu, setelah Mommies mengetahui jenis-jenis kekerasan finansial dalam keluarga, apakah yang dapat Mommies lakukan?

Perlu Mommies sadari, seringkali pelaku maupun korban tidak menyadari kalau hal ini adalah suatu bentuk kekerasan juga dalam kehidupan rumah tangga, sehingga menganggap kalau hal ini adalah hal biasa yang tidak perlu dipermasalahkan.

Apalagi beberapa adat serta kebiasaan budaya kita, sangat melarang serta tabu dalam membicarakan keuangan untuk dibahas dengan orang lain. Padahal. Kekerasan finansial adalah bentuk kekerasan juga dalam rumah tangga, yang biasanya berujung pada kekerasan verbal dan psikis yang justru merupakan jenis kekerasan yang lebih buruk daripada kekerasan fisik.

Apabila Mommies mengalami hal-hal seperti di atas, apakah yang bisa Mommies lakukan?

kekerasan finansial-mommiesdaily

Ada 3 hal yang bisa jadikan Mommies pertimbangkan untuk memperbaiki situasi ini:

  1. Mencoba bicara terlebih dahulu pada suami mengenai hal ini.

Pernikahan awalnya pasti didasari oleh rasa cinta dan kasih sayang, namun dengan kesulitan finansial yang mungkin dialami suami, cinta itu terlupakan. Penting bagi kita sebagai istri untuk mengingatkan kalau apa yang dilakukan oleh suami ini adalah salah, dan ingatkan juga tentang cinta serta komitmen yang pernah Mommies buat di awal pernikahan sehingga bisa menyelamatkan kondisi ini

  1. Apabila tidak bisa, mintalah bantuan orang lain seperti keluarga atau orangtua.

Seorang laki-laki yang mengalami kesulitan finansial akan mengalami fase depresi yang kemudian akan dilontarkan ke orang terdekatnya yaitu istri dan anak-anaknya. Kekerasan verbal dan finansial yang dilontarkan bisa jadi merupakan perwujud-an dari permintaan pertolongan yang tertutupi oleh rasa marah. Oleh sebab itu penting bagi Mommies untuk memberi dukungan dengan meminta bantuan kepada orangtua agar bisa menghadapi hal ini bersama-sama. Dengan demikian suami akan merasa terlindungi juga dan keluarga bisa membantu mencarikan jalan keluar terbaik untuk kepentingan bersama.

  1. Apabila hal ini masih menemui jalan buntu, dan suami malah tidak merasa telah melakukan kesalahan dan kekerasan finansial seperti ini, baiknya konsultasikan pada professional seperti psikolog atau psikiater.

Bantuan pihak ketiga yang bukan anggota keluarga bisa dianggap sebagai pihak netral yang bisa memberikan masukan ke berbagai pihak. Dan untuk itu, Mommies bisa berkonsultasi pada psikiater atau psikolog apabila masalah ini sudah berlanjut lebih dalam, terlebih karena suami juga mengalami fase depresi yang menyebabkannya melakukan tindak kekerasan.

Perceraian bukanlah jalan keluar yang baik. Ada banyak berbagai cara yang bisa Mommies lakukan, salah satunya dengan berkonsultasi pada ahli keuangan yang mungkin bisa memberikan masukan lain yang membuka jalan keluar.

Kebahagiaan memang tidak bisa diukur dengan uang, tapi jangan sampai masalah keuangan justru yang merengut kebahagiaan Mommies sekeluarga. Live a beautiful live!

Prita Hapsari Ghozie adalah seorang perencana keuangan independen, penulis buku laris “Cantik, Gaya, & Tetap Kaya” serta “Make It Happen,” pembicara, dosen dan ibu dari 2 orang anak. Sebagai Founder dan Chief Financial Planner di ZAP Finance – sebuah konsultan perencanaan keuangan independen di Indonesia. Berpengalaman lebih dari 8 tahun sebagai perencana keuangan dan didukung latar belakang edukasi di bidang keuangan, Prita memiliki kompetensi untuk memberikan saran dan rekomendasi dalam hal keuangan.


Post Comment