Dampak Parental Alienation Syndrome Pada Anak

Parental Alienation Syndrome nggak hanya terjadi dalam keluarga bercerai, dan dampaknya pada anak tidak kalah berat dengan anak yang menjadi korban konflik ekstrem lainnya, seperti penculikan.

Perceraian tidak selalu berakhir memilukan. Terkadang, perpisahan dengan pasangan adalah awal dari sebuah lembaran baru yang lebih menjanjikan. Namun, bagaimana dampaknya buat anak? Seorang teman pernah bercerita, perceraiannya dengan seorang pria asing membuatnya terpisah dari anak tunggalnya. Mantan suami membawa anaknya, lalu mereka menghilang tanpa kabar. Teman kesulitan untuk melacak keberadaan anaknya, bahkan ketika ia memproses kasus tersebut, hukum negara suami seolah ikut melawannya.

Di sisi lain, ada pula teman baik saya yang mengasuh anak sebagai single Mom. Semua baik-baik saja, hingga ketika anaknya tumbuh remaja, mulai menampakkan banyak masalah. Dari rendahnya kepercayaan diri, depresi, masalah akademik, hingga kecenderungan untuk bunuh diri. Dengan berbagai cara, teman saya mencoba menghubungi ayah si anak. Akan tetapi, sang mantan terkesan acuh dan lepas tanggung jawab.

Jika dulu, pada era saya masih remaja (ya beberapa dekade silamlah), hampir setiap ada remaja yang bermasalah, dikatakan berasal dari keluarga broken home. Broken home pun kerap menjadi kambing hitam. Belakangan, rasanya istilah broken home tidak lagi tepat untuk merujuk pada ‘keluarga yang tak sempurna’. Istilah lebih tepatnya adalah dysfunctional family. Keluarga yang tidak stabil, yang tidak selalu karena sebab perceraian.

Dalam keluarga yang mengalami dysfunctional family (ketika hubungan kedua orangtua tidak sehat), jamak terjadi parental alienation syndrome, anak yang dikucilkan dari kasih sayang kedua orangtua.

Sindrom semacam ini bisa dilakukan oleh siapapun, dan seringkali orang yang melakukannya tidak menyadarinya. Anak korban perceraian, jika keduaorang tuanya menjaga hubungan baik dan memberi akses terhadap mantan dan saling berkomitmen untuk mengasuh anak, anak akan terhindar dari parental alienation syndrome. Sebaliknya, pasangan yang tetap bersama, akan tetapi hubungannya tidak sehat, dan salah satu pihak mem-brainwash anak untuk membenci pihak lain, anak rentan mengalami parental alienation syndrome.

Berikut ini 6 hal yang perlu kita tahu tentang parental alienation syndrome dan bagaimana dampaknya ke anak.

Dampak Parental Alienation Syndrome Pada Anak - Mommies Daily

1#. Bisa dimulai dari hal sepele, misalnya, ketika si Mama sedang kesal, lalu ia mengungkapkan kekesalannya pada anak dengan mengatakan, “Ayahmu itu memang selalu begitu, nggak pernah pengertian!”; “Ini gara-gaya Ayahmu, nih!”; “ Intinya, ungkapan yang menjelek-jelekkan salah satu pihak. Menurut sebuah artikel di Psychology Today, pada dasarnya, kebencian bukanlah emosi yang datang secara alami pada seorang anak. Kebencian itu diajarkan.

2#. Banyak orangtua yang bercerai kemudian tanpa sadar atau sengaja membalikkan anak mereka untuk melawan dan membenci mantan. Bahkan, melarang bertemu. Perlakuan semacam ini kurang lebih sama dengan bentuk mental dan emotional abuse terhadap anak. Sebab, meski kedua orangtua terpisah, anak tetap membutuhkan sosok kedua orang tuanya.

3#. Anak-anak yang mengalami proses keterasingan seringkali tidak sadar akan dampaknya. Mereka hanya merasakan konsekuensinya, seperti meyakini pandangan yang ditanamkan oleh ayah atau ibunya bahwa salah satu orang tuanya “jahat”, “egois”, “bodoh”, “berbahaya”, dan sebagainya.

4#. Proses menjelek-jelekkan salah satu orangtua pada anak juga bisa memiliki dampak jangka panjang. Anak menjadi kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari salah satu orangtua, yang mereka butuhkan seiring mereka bertumbuh, dan semakin kompleksnya permasalahan yang akan mereka hadapi. Efek lainnya, semua kenangan akan sebuah hubungan yang baik dengan ayah atau ibunya menjadi hancur karena proses tersebut.

5#. Anak-anak yang mengalami parental alienation syndrome dampaknya tidak kalah berat dengan anak yang menjadi korban konflik ekstrem lainnya, seperti anak-anak korban penculikan, anak di daerah konflik, yang mengidentifikasi diri dengan penyiksa mereka untuk menghindari rasa sakit dan memelihara hubungan dengan mereka, betapapun kasarnya hubungan tersebut.

6#. Menurut psikolog asal Inggris, Ludwig.F. Lowenstein Ph.D, ada beberapa gejala yang umum terjadi akibat dampak dari proses pengucilan, di antaranya: anak menyimpan kemarahan, agresif dan cenderung nakal, kehilangan kepercayaan diri, ketakutan berlebihan, fobia, depresi dan tendensi bunuh diri, gangguan tidur, gangguan pola makan, masalah akademik, penyalahgunaan obat terlarang, perilaku merusak diri, perilaku obsessive compulsive, serangan panik, masalah dalam hubungan sosial, dan maslaah kesehatan mental lainnya.

Mungkin, sudah saatnya kita mengecek bagaimana hubungan kita dengan pasangan, karena suka atau tidak, itu memberikan dampak besar kepada tumbuh kembang anak-anak kita :).


Post Comment