Belajar Jatuh Cinta Setiap Hari

Hal sederhana yang perlu dilakukan pada pasangan, tapi sayangnya sering kali diabaikan. Belajar jatuh cinta setiap hari.

“Kalau cari suami itu yang bener-bener sayang sama kamu. Supaya bisa bikin kamu jatuh cinta setiap hari.” Jauh sebelum nikah, nyokap pernah bilang kaya gini ke saya.

Ya, meskipun nggak sama persis, plek ketiplek, tapi kira-kira begini kalimatnya. Menurut nyokap, hal ini memang penting dalam sebuah hubungan pasangan suami istri. Dan katanya lagi, kalau dari awal kita yang ngejar-ngejar, alias kegatelan duluan (eh, ini sih, istilah saya aja, ya, bukan kata nyokap), takutnya pak suami bisa aja jadi nyebelin.

Bener nggak, nih, teori nyokap? Enggak tahu, juga, sih. Tapi yang jelas, saya setuju kalau suami istri itu perlu (banget) untuk bisa jatuh cinta setiap hari. Sayangnya hal ini nggak segampil mau pesen makanan di GoFood. *halah… jatuh cinta kok disamain sama beli makanan*

belajar untuk jatuh cinta setiap hari

Bukan apa-apa, kenyataannya, perasaan sayang dan cinta itu emang bisa ngilang gitu aja. Nggak tahu perginya ke mana. Entah berapa kali saya medengar atau baca cerita soal salah satu pasangan yang tiba-tiba aja ngerasa kalau dia udah nggak sayang sama pasangannya. Sudah nikah belasan tahun, tahu-tahu bilang, “Kok, aku merasa sudah nggak cinta lagi, ya, sama kamu?” Ujung-ujungnya apa? Cari pelarian, deh. Selingkuh. Atau malah nikah lagi? Mungkin saja.

Seorang temen dekat ada yang pernah bilang ke saya, “Elo sih, tenang aja, Dis…. Paling Doni selingkuhnya main games. Jadi selama dia loe bebasin dia main games, amanlah.”

Hahahhaa, gila. Enak banget dong, kalau bener kaya gitu? Tapi memang selama ini saya dan suami sama-sama sepakat untuk memberikan ruang untuk menjalankan hobi masing-masing. Misal, suami bilang mau beli PS terbaru, ya, kalau memang ada uangnya, nggak mengacaukan cashflow uang belanja dan kebutuhan keluarga, ya, silakan saja. Sesekali mau karaoke atau jalan bareng sama teman-temannya? Ya, monggo saja. Suami pun memberikan kebebasan yang sama.

Tapi kalau sudah ngomongin masalah selingkuh, itu sih lain soal. Menurut psikolog keluarga yang sering saja ajak tukar pikiran, pemicunya perselingkuhan itu beragam. Tapi memang, intinya suami istri itu perlu sama-sama menjaga. Menjaga hatinya, menjaga sikapnya.

Eh, ngomongin ginian kok, seakan-akan saya ekspert banget, ya? Nggaklah. Boro-boro, deh. Nyokap saja aja masih sering ingetin kalau sebagai istri harusnya jangan terlalu cuek sama suami (baca : kalau suami pulang kerja, seringnya sudah saya tinggal tidur. Jadi kalau suami lapar, ya urus makanan sendiri). Nggak cuma nyokap saja, suami juga sering ingetin untuk ini dan itu.

Tapiiiii…. justru dari sini saya bersyukur. Suami masih mau ngomong. Kasih tahu apa yang dia harapkan. Nggak bikin saya kebablasan dan lupa diri, hahahaa. Lagian, prinsipnya dalam rumah tangga komunikasi emang penting sih. Kalau nggak diomongin, mana juga bisa tauh? Eiyk, kan bukan cenayang. Nggak punya kemampuan untuk baca pikiran orang :D

Alhamdulillah memasuki usia pernikahan yang ke-9, jalannya memang masih lempeng-lempeng saja. Aman sentosa… tapi bukan berarti juga mulus, lho, ya. Sama-sama masih perlu belajar. Belajar dari pengalaman pribadi, orang terdekat seperti orang tua sendiri, dan kakak gue, plus banyak tanya sama yang ekspert seperti psikolog keluarga. Syukurnya, karena saya kerja sebagai jurnalis, akses untuk bertanya ke orang-orang yang seperti psikolog keluarga memang jadi lebih mudah.

Beberapa hari lalu, Fia, Managing Mommies Daily, sempat posting sebuah quote di Instagramnya. Tulisannya begini:

Most people get married believing a myth that marriage is a beautiful box full of all the things thet have longed for; companionships, intimacy, friendship, etc. The truth is that marriage at the start is a empty box. You must put something in before you can take out. There is no love in marriage. Love is in people, and people put love in marriage. There is no romance in marriage You have to infuse it into your marriage a couple must learn the art and form the habit of giving, serving, praising, of keeping the box full. If you take out more than you put in, the box will be empty.

Menurut saya analoginya memang benar,  sih. Kalau mau mempertahankan pernikahan, memang akan berpulang ke diri kita dan pasangan sendiri. Fokusnya ya, ke situ. Masalahnya, dalam perjalanan semua orang itu bisa berubah. Cinta juga bisa berubah. Bisa hilang begitu saja kalau memang nggak dipelihara.

Ada nasihat populer yang sering dikatakan konselor pernikahan, “Is not to take your partner for granted”. Artinya apa? We have to try not to take each other for granted. Kadang kalau usia pernikahannya sudah cukup lama, ya macam kaya gue ini, ada kalanya kepikiran, “Ah, dia udah tahu gue lah seperti apa….”

Pikiran yang kaya gini yang akhirnya bikin keenakkan, merasa nyaman, yang bikin kita lupa untuk melakukan sesuatu, bahwa masih banyak hal kecil yang perlu kita investasikan. Jangan sampai lupa kalau rasa sayang dalam pernikahan itu tetap perlu diperlihatkan. Lewat sikap dan kata-kata, bagaimana kita kasih tetep dukungan, memberikan apresiasi. Memberikan compliment each other juga dan show appreciation pada pasangan itu penting banget, sih. Bahkan untuk hal kecil seperti bilang terima kasih.

“Makasih, ya, sudah mau kasih izin aku buat pulang malam karena tadi jalan dulu sama temen-temen,”

“Makasih, ya, sudah mau bantu bikinin Bumi sarapan pagi,”

“Makasih, ya, sudah beliin aku tas baru,” *ups, kalau kalimat yang terakhir, sih jadi #kode buat suami :))

Eh tapi bener, sih… selama hal kecil kaya gini dilakukan dan diperlihatkan suami, saya happy banget!  Percaya, deh, hal-hal kaya gini bisa numbuhin intimacy. Kalau kata psikolog keluarga, intimacy itu wajib ada dalam hubungan pernikahan. Malah kalau bisa, waktu berantem pun juga ada intimacy. 

Sering kali saya curhat ke suami, suka merasa nggak PD dengan kemampuan sendiri. Ngerasa tulisan kaku kaya manekin di mall, ngerasa kalau kerjaan  hanya jalan di tempat, ngerasa kurang ini dan itu. Intinya ada kalanya ngerasa krisis percaya diri. Tapi yang selalu dilakukan suami itu nggak cuma ngedengerin curhatan istrinya aja, tapi sekaligus kasih dukungan dan ngeyakinin kalau sebenernya saya mampu dan nggak seburuk yang saya pikirkan.

Selama menikah hampir 9 tahun, saya tahu persis kalau sama pasangan itu perlu saling mendukung. Apalagi kalau dukungan tersebut memang untuk kemajuan bersama. Umh, sebenernya masih banyak alasan, sih, kenapa saya harus bisa belajar untuk jatuh cinta setiap hari ke suami. Tapi berhubung rada privacy, jadi nggak  usahalah pakai ditulis segala. Lagipula kalau kebanyakan dan dibaca sama pak suami , dia bisa GR setengah mati :D yang jelas, saya berusaha untuk belajar untuk jatuh cinta setiap hari pada orang yang sama. Suami.


Post Comment