Kalau Ini Hari Terakhir Saya, Apa yang Mau Dilakukan?

Mari berandai-andai sejenak, jika hari ini merupakan kesempatan kita untuk hidup, apa yang akan kita inginkan? Menghabiskan waktu untuk jalan-jalan, menikmati keindahan dunia? Memilih hal sederhana seperti tertawa dan dipeluk orang-orang tersayang? Atau hanya mau fokus beribadah? Apapun keinginannya, Rumah Rachel Indonesia mengingatkan kita semua akan pentingnya asuhan dan layanan paliatif di Indonesia lebih meningkat.

Akhir pekan kemarin siapa yang sempat jalan-jalan atau sekadar mampir ke Cilandak Town Square? Kalau ke sana, pasti sempat melihat ada beberapa The Living Walls raksasa di area atriumnya. Instalasi living walls yang berbentuk papan tinggi berbentuk kubus ini memang sengaja dibuat untuk mengajak masyarakat untuk menuliskan apa yang mereka ingin lakukan saat hari terakhir dalam hidupnya.

Saya sendiri datang setelah mendapatkan undangan dari Nutrifood yang mendukung acara yang digagas Rumah Rachel Indonesia. Hampir sepanjang acara, hati saya dibikin mellow. Nggak sanggup ngebanyagin bagaimana rasanya jika hari itu tiba. Kebetulan, hari itu anak saya ikutan juga. Seperti biasa, banyak pertanyaan yang diajukan kalau sedang ngintilin ibunya kerja.

“Ibu, maksudnya hari terakhir saya itu gimana?”

“Ya, maksudnya kalau kesempatan kita hidup cuma sampai hari ini, mau ngapain?”

“Ooooh…..kalau ibu mau ngapain?”

“Banyak, sih…. bisa berdoa, sholat, ngaji…. Dan yang pasti mau ngabisin waktu sama Mas Bumi, bapak, dan keluarga yang ibu sayang.”

“Kayanya aku juga sama, deh, mau kaya begitu juga. Kita hidup emang nggak tahu sampai kapan, ya, bu?

“Iya, kan itu rahasia Allah. Cuma Allah yang tahu kita hidup sampai kapan,”

Hati saya mencelos. Baru ngobrol begini saja, air mata saya sudah mau tumpah. Bagaimana kalau beneran terjadi? Seperti orangtua yang harus mendampingi anaknya yang sedang sakit keras, yang harapan hidupnya mungkin sudah sangat tipis?

WhatsApp Image 2017-10-17 at 10.49.37

Yang jelas, acara ini semakin membuka mata saya, bahwa setiap menit, setiap detik dan hembusan tarikan napas memang sangat berharga. Dan di luar sana, ada banyak keluarga yang mungkin punya cobaan hidup yang sangat berat, banyak orangtua dan anak-anak yang hidup dengan penyakit berat, yang mungkin tidak punya hari esok, untuk itu mereka tentu saja butuh dukungan emosional dan empati dari lingkungan masyarakat.

Acara ini sendiri digagas oleh Yayasan Rumah Rachel dalam rangka merayakan Hari Asuhan  Paliatif Anak Sedunia yang jatuh pada tanggal 13 Oktober. Yayasan Rumah Rachel ini sendiri merupakan pelopor layanan asuhan paliatif di Indonesia. Menyediakan pelayanan  dan pendampingan  untuk anak-anak yang hidup dengan penyakit kanker, dan HIV/AIDS dari keluarga prasejahtera di daerah Jakarta dan sekitarnya.

Sebenarnya apa, sih, layanan asuhan  paliatif ini?

Asuhan paliatif merupakan  suatu spesialisasi ilmu medis bagi orang-orang yang hidup dengan penyakit berat, termasuk keluarganya. Tipe perawatan yang tidak hanya menekankan pada gejala fisik saja, tetapi perawatan ini juga fokus terhadap aspek-aspek emosional, psikososial dan ekonomis, serta spiritual untuk memenuhi kebutuhan akan perbaikan kualitas hidup seorang pasien.

Dengan adanya asuhan ini, harapannya mereka bisa mengatasi nyeri dan gejala termasuk mendapat dukungan emosional  sehingga dapat menikmati waktu yang berkualitas di akhir hidupnya. Di Indonesia sendiri, anak-anak yang hidup dengan penyakit berat jumlahnya hampir  700.000 ribu. Sayangnya yang mendapatkan asuhan paliatif masih segelintir orang saja, tidak lebih dari 1% *sad*

Dokter spesialis onkologi anak, dr Edi Setiawan Tehuteru, salah satu nara sumber yan hadir saat itu mengatakan bahwa layanan asuhan ini sangat dibutuhkan agar pasien agar punya kualitas hidup yang baik. Apalagi pada dasarnya semua orang, terutama anak-anak memang idealnya tidak perlu merasa menderita dan kesakitan di akhir hidupnya.

“Ada penyakit seperti kanker yang diobati seperti apapun ternyata tidak respon. Sudah dikemo tidak respon, artinya nggak bisa sembuh. Kita bisa melakukan paliatif. Yang diajari di paliatif ada dua komponen, menyiapkan pasien diakhir hidup dan manajemen gejala yang timbul. Paling banyak gejala yang timbul pada kanker itu nyeri. Termasuk di anak-anak. Kita bertugas dan menyiapkan mereka, anak-anak meninggal dengan cara bermartabat. Kita kasih obat nyeri untuk menghilangkan rasa nyerinya. Ini dilakukan supaya mereka bisa tetap makan dan minum dengan baik, nggak teriak karena sakit,” paparnya.

Namun, dokter Spesialis Onkologi Anak dari RS Kanker Dharmais ini juga mengingatkan agar masyarakat tidak salah persepsi dan mengira jika anak-anaknya dikatakan membutuhkan layanan asuhan paliatif, maka sudah ketuk palu kalau sudah tidak bisa disembuhkan. Soalnya,  asuhan paliatif tidak hanya menangani pasien di akhir kehidupannya tapi juga pasien dalam proses pengobatan untuk sembuh. Kalau sudah sehat, ya, sudah tidak butuh layanan paliatif lagi.

“Paliatif itu kesannya berhubungan dengan anak-anak di akhir masa hidupnya tapi definisi sebenarnya dimulai sejak pasien di diagnosis dan paliatif sudah berperan. Perawat sedang melakukan visit, peran paliatif masuk di situ. Kalau sudah sembuh, ya, tidak perlu layanan paliatif lagi,” terangnya.

Nggak mengherankan jika layanan asuhan paliatif seharusnya sudah ada di seluruh Rumah Sakit bahkan Puskesmas. Kenyataanya, baru ada beberapa Rumah Sakit di 6 ibukota besar yang memilikinya seperti RS Hasan Sadikin Bandung, RSCM, RSK Dharmais, RSU Dr Soetomo Surabaya, RS Sanglah Bali, RS Dr Wahidin Sudirohusodo Makassar dan RSUP Dr Sardjito Yogyakarta.

Oh, ya, kalau mommies tertarik untuk jadi sukarelawan di Yayasan Rumah Rachel, bisa lho. Kita hanya perlu daftar dan melakukan pelatihan lebih dulu. Terus terang saja saya sangat tertarik, tapi memang perlu belajar menguatkan mental dulu. Jangan sampai saat mau mendampingi anak-anak, malah mewek duluan.


Post Comment