Bijak Mengubah Kebiasaan Buruk Si Kecil

Karena dari hal yang kecil, bisa mengubah hal yang besar di dalam hidup ini. 

Ada satu quote dari Mother Teresa yang jadi favorit saya. Kalimatnya begini, “Small things done with great love change the world”.

Saya sendiri sangat percaya kalau ingin melakukan perubahan, memang harus dimulai dari hal kecil lebih dulu. Hal ini pun berlaku dalam pola asuh. Ingin sikap anak lebih ‘manis’? Nggak gampang menyerah, termasuk bisa menjalankan pola hidup sehat? Ya, mulai saja dari hal-hal kecil lebih dulu. Tanpa disadari, dampaknya juga nanti akan terasa, kok.

bijak mengubah kebiasaan buruk si kecil- mommiesdaily

Konsisten

Sepanjang sejarah jadi orangtua, hampir 7 tahun, saya paham betul untuk konsisten pada anak itu nggak gampang. Kadang, ada situasi yang bikin saya jadi ‘lemah’, ujung-ujungnya malah mengalah pada anak. Jadi nggak konsisten dengan apa yang sudah kami sepakat bersama. Padahal sikap ini jelas salah, anak justru bisa bingung dan mambaca apa yang membuat orangtuanya lemah. Lebih parah anak malah akan menganggap kalau kesepakatan yang sudah dibuat memang gampang untuk dilanggar. Akibatnya, anak jadi nggak paham aturan dan bisa mudah melanggar aturan.

Mulai dengan kebiasaan kecil

Kata orang bijak, tak ada yang nggak mungkin di dunia ini kalau kita memiliki kemauan dan bisa melakukan yang terbaik. Syaratnya, memang perlu dilakukan dari hal kecil lebih dulu. Sebagai contoh, semua orangtua tentu ingin anaknya hidup sehat, nggak gampang sakit. Untuk itu orangtua tentu saja perlu membiasakannya sejak kecil. Mulai dari kebiasaan minum air putih, sikat gigi setidaknya dua kali sehari, makan makanan  bergizi dan menjauhi junk food, termasuk bagaimana anak tahu cara cuci tangan dengan sabun (CTPS) yang dianjurkan. Bahkan WHO (World Health Organization) pun membuat panduan cara cuci tangan yang memenuhi standar kesehatan dengan memaksimalkan area tangan yang dibersihkan.

bijak mengubah kebiasaan buruk si kecil1- mommiesdaily

Oh, ya, sudah tahu belum kalau 15 Oktober ini merupakan Global Handwashing Day? Lifebuoy, sebagai brand sabun kesehatan keluarga yang terus berkomitmen untuk mendukung dan mengedukasi masyarakat untuk terus melakukan hidup sehat, kali ini mengajak kita ikut dalam gerakan kampanye #TepukSehatIndonesia. Mommies bisa cek laman ini untuk keterangan lebih lanjut, ya.

Peran orangtua di sini tentu saja sangat penting. Berdasarkan survei yang dilakukan Lifebuoy, terbukti kalau 92% ibu menerapkan kebiasaan perilaku hidup bersih dan sehat, yaitu dengan mandi secara teratur dan cuci tangan pakai sabun. Terbukti kalau ibu punya peran penting sebagai pelopor penerapan hidup sehat. Jadi kalau anak masih malas-malasan cuci tangan, jangan pernah berhenti untuk mengingatkan untuk melakukan cuci tangan.

Bahkan Kementerian Kesehatan sudah mengatakan kalau dengan melakukan perilaku sederhana, cuci tangan pakai sabun (CTPS) sebenarnya sudah dapat mengurangi risiko tertular penyakit-penyakit tersebut. Data WHO menunjukkan, perilaku CTPS mampu mengurangi angka kejadian Diare sebanyak 45 %. Tapi, dukungan orangtua tentu saja nggak akan cukup. Kalau semakin banyak pihak yang terlibat, seperti pihak sekolah, tentu efeknya akan lebih maksimal lagi. Biar gimana pun, kebiasaan ini memang perlu dilakukan di mana saja bukan? Hal ini pun berlaku untuk kebiasaan baik yang lainnya.

Tidak bereaksi berlebihan

Pernah kesel nggak melihat anak lari-larian kemudian menabrak sesuatu bahkan hingga merusak barang di rumah? Atau, saat sedang jalan-jalan anak merengek minta dibelikan mainan?

Dulu, sih, saya suka ikutan greget-an. Kesel lihat polah anak yang seperti ini. Bahkan, kadang emosi jadi tersulut, hahhahaa…. Tapi itu dulu, kok. Lambat laun saya belajar kalau baiknya kita memang nggak perlu memberikan reaksi berlebihan. Menurut Ed Christophersen, Ph.D ., psikolog di Rumah Sakit Anak, di Kansas City, salah satu kesalahan yang kerap dilakukan orangtua adalah sering kali menanggapi perilaku buruk secara berlebihan.