Indonesia Masih Gawat Darurat Stunting, Kenapa?

Oleh : dr Meta Hanindita SpA.

Have i told you, Indonesia ada di peringkat kelima di DUNIA sebagai negara dengan pemilik angka stunting terbesar? Biasanya, sih, kalau dapat peringkat atas kita perlu bangga ya, tapi kalau yang peringkat untuk ini? Duh!

Prevention is better than cure

Begitu ungkapan yang sering saya dengar. Dalam hal stunting, ungkapan ini pun berlaku! Kalau seorang anak sudah mengalami stunting, maka sifatnya irreversible atau tidak dapat diperbaiki. Padahal, seperti yang sudah sering saya dibahas dalam blog pribadi saya, bahwa stunting bukan hanya sekadar membuat anak jadi lebih pendek dari potensinya kelak, tapi juga dapat memengaruhi banyak hal.

Banyak penelitian yang menunjukkan anak stunting berhubungan dengan rendahnya prestasi pendidikan, menurunnya lama pendidikan, dan rendahnya pendapatan saat anak tersebut dewasa dibandingkan dengan yang tidak stunting. Anak stunting memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk tumbuh menjadi dewasa yang kurang berpendidikan, miskin, kurang sehat dan lebih rentan terhadap penyakit tidak menular. Maka itu, angka stunting di suatu negara dapat dijadikan prediktor buruknya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) karena dapat menurunkan produktivitas suatu bangsa di masa yang akan datang.

Riset Kesehatan Dasar 2013 mencatat ada 37.2 persen anak stunting di Indonesia. Ini meningkat dari tahun 2010 (35.6%). Artinya, pertumbuhan tak maksimal dengan segala risiko di masa depan ini dialami sekitar 8,9 juta anak Indonesia, atau 1 dari 3 anak Indonesia!

stunting pada anak-mommiesdaily

Memang sih, Indonesia masih berada di bawah posisi India, Tiongkok, Nigeria dan Pakistan dalam angka stunting di dunia. Tapi kalau dibandingkan dengan negara-negara tersebut, kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia lebih melimpah ruah lho! Ironis ya.

Kapan stunting ini mulai terjadi?

Stunting dapat terjadi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK),  sejak janin mulai dalam kandungan hingga berusia 2 tahun. 1000 HPK ini disebut juga sebagai window of opportunity, masa paling sensitif untuk pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama pada intervensi berupa nutrisi dan stimulasi. Jika ingin mencegah stunting, mulailah dari sini.

  1. Sejak sebelum hamil, setidaknya 3 bulan sebelumnya, mulailah konsumsi asam folat dan zat besi. Jika ibu terlalu kurus atau terlalu gemuk, idealkan dulu berat badannya.
  2. Ibu hamil perlu mendapatkan makanan dengan gizi berimbang, dan tetap mengkonsumsi suplemen mikronutrien seperti zat besi dan asam folat. Jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan, cuci tangan sebelum makan.
  3. Berikan ASI eksklusif sampai 6 bulan, kemudian berikan MPASI setelah 6 bulan dengan melanjutkan ASI. Berikan MPASI yang cukup jumlah dan kualitasnya.
  4. Selalu pantau pertumbuhan balita di posyandu. Ini penting untuk mendeteksi dini jika memang ada gangguan pertumbuhan. Deteksi dini = intervensi dini.
  5. Menjaga kesehatan lingkungan.

Pemerintah sendiri sudah menyepakati adanya intervensi spesifik nutrisi untuk mencegah stunting:

– Promosi ASI dan MPASI yang bergizi

– Pemberian tablet zat besi/asam folat/multivitamin untuk ibu hamil dan menyusui

– Pemberian zat mikronutrien untuk anak (seperti zat besi)

– Pemberian obat cacing pada anak

– Pemberian suplemen vitamin A pada anak

– Penanganan anak dengan gizi buruk

– Fortifikasi makanan dengan zat mikronutrien

– Pencegahan dan pengobatan malaria bagi ibu, bayi dan anak

Programnya sih sudah oke ya? Sayang, pada kenyataannya, tidak semua orang mengerti betul mengenai ini. Dan yang saya bingungkan, biasanya yang ogah mengikuti program pemerintah seperti ini justru mereka dari kalangan menengah ke atas. Memang tak semua sih, tapi jumlahnya meningkat akhir-akhir ini. Apakah ini karena pengaruh social media? Wallahualam. Tapi ini sungguhan, lho!

Ada banyak ibu hamil yang diet no carbs (tanpa karbohidrat, kalaupun ada sedikit sekali) yang “katanya” bertujuan supaya berat badan tak naik banyak saat hamil dan agar kelak anak lahir langsung berotot. Eh, gimana ini maksudnya??? Perlu dingat, jumlah karbohidrat yang direkomendasikan untuk ibu hamil sekitar 175 gram perhari. FYI, 100 gram nasi putih mengandung sekitar 28-30 gram karbohidrat.

Ada lagi yang ogah meminum suplemen yang diberikan dokter saat hamil dengan alasan “Lebih baik mendapat zat besi dan folat dari sumber alamiah saja deh, dari makanan, daripada minum suplemen ini itu”. Ya boleh saja sih, ibu hamil membutuhkan sekitar 27 mg zat besi perharinya.

Sebagai contoh, bayam deh ya. 28 gram bayam mengandung 1 mg zat besi, jadi agar kebutuhan zat besi ibu hamil tercukupi, setiap harinya ia harus makan 3/4 kg bayam. Atau contoh lain, daging sapi deh. 28 gram daging sapi mengandung 0.8 mg zat besi, sehingga untuk mencukupi kebutuhannya, ibu hamil harus mengonsumsi sekitar 1 kg daging sapi setiap harinya. Sanggup nggak? Ya boleh saja, sih, kalau sanggup :D

Saya juga sering menemukan kasus stunting berkaitan dengan pemberian MPASI yang tidak benar. Yang paling sering deh, karena kebutuhan makro dan mikronutriennya tak tercukupi dari MPASI. Yang tak kalah sering, sebetulnya kebutuhannya tercukupi, tapi berat badan tak juga naik karena ada infeksi.

Kalau infeksinya memberikan gejala yang jelas, biasanya aman karena pasti akan langsung diperiksakan dan diobati hingga sembuh. Namun jika infeksi ini tak jelas seperti misalnya silent ISK atau TBC (yang seringkali pada anak gejalanya hanya berat tak naik-naik), kekurangan gizi dapat terjadi lebih berkepanjangan.

Di sini saya hanya ingin memberikan satu pesan. Meskipun pesan ini sudah sering sih diutarakan, tapi karena menurut saya ini penting banget jadi nggak masalah ya kalau diulang lagi? Jadi, jangan bosan-bosan untuk membawa anak ke posyandu/puskesmas/dokter untuk diukur panjang/tinggi dan berat badannya, supaya jika memang ada sedikit kelainan bisa segera dicari penyebabnya dan diatasi.

Jika ada masalah makan, segeralah berkonsultasi dengan dokter. Bukan sekadar meminta vitamin penambah nafsu makan yaa, tapi agar dicari betul apa kira-kira penyebabnya. Usahakan semaksimal mungkin agar dapat IMD, lalu memberikan ASI eksklusif dan MPASI yang bernutrisi seimbang.

Sebetulnya masih banyak yang ingin saya bahas sampai detail, seperti apa hubungannya cuci tangan sama stunting? Atau seperti apa, sih MPASI yang bernutrisi seimbang itu? Tapi sayangnya, saya butuh space yang lebih besar dari sekadar blog. Nanti saya tuangkan dalam bukunya saja ya kalau nggak malas. Saya janji deh, kalau jadi bukunya, harganya akan benar-benar terjangkau. Tapi ya itu, sekali lagi…. kalau engga malas, hahahaha.

 

 

*Tulisan serupa sudah ditulis dalam blog www.metahanindita.com


Post Comment