Alasan Seorang Ibu Harus Berani, Mengejar Mimpi yang Sempat Terpendam

Karena ibu yang berhasil mewujudkan passion-nya, berdampak signifikan untuk diri dan keluarganya.

Sebut saja Dina. Kawan lama saya yang bercerita tentang bagaimana ia harus memendam passion-nya di dunia fotografi karena kesibukannya sebagai ibu dan istri. Padahal dulu, sering bepergian luar kota hingga mancanegara karena berkaitan dengan pekerjaan sebagai fotografer lepas.

passionImage: www.theodysseyonline.com

Selang beberapa tahun, saat anak lanangnya sudah duduk di bangku SD, Dina sudah bisa melanggengkan kembali minat memotretnya. Sehari-hari, sebetulnya saya masih melihat karya Dina terpajang manis di akun instagramnya, sebatas mengasah skill-nya, bukan bertindak sebagai fotografer profesional. Namun, sekarang ketika merasa ada cukup waktu, ia kembali bergeliat. Menerima orderan foto produk hingga wedding. Saya turut senang, dan tersenyum melihatnya.

Apa yang dilakukan Dina, mungkin juga dialami oleh jutaan ibu lainnya di luar sana *uuumm, termasuk saya, sih :D. Merasa waktunya sudah tersita cukup banyak, untuk mengurus keluarga. Belum lagi rasa bersalah yang sering mampir. Membuat ibu rela memendam sejenak passion-nya di bidang tertentu.

Keadaan ini tak jauh berbeda dengan hasil survei Sunlight, yang menyatakan “7 dari 10 wanita akui kesibukan sehari-hari yang menyita waktu bisa jadi hambatan untuk mengejar mimpi terpendamnya.” Dilatar belakangi keadaan ini, Sunlight lewat kampanye “Ibu Bersinar Sunlight, mengajak para ibu untuk mewujudkan passion dan potensi yang mereka miliki. Jika selama ini alasannya terlalu sibuk urusan keluarga, coba mommies cari-cari lagi celah waktunya. Nggak lama kok, hanya 15 menit sehari meluangkan waktu. Asalkan konsisten dilakukan. Ternyata hal-hal kecil yang kita lakukan secara konsisten, setiap hari. Itu seperti mengisi setetes demi setetes bakat kita, pada satu masa kita akan menemukan, kita menjadi expert di bidang tertentu. Tanpa guilty feeling, self esteem jadi bagus, kontribusinya bagus, apalagi kalau ada benefit ekonomi. Seluruh keluarga ikut merasakannya. Aktualisasi diri juga tercapai.” Ujar Ratih Ibrahim, Psikolog Anak dan Keluarga.

Dimulai dari mana? Mungkin itu pertanyaan awal yang ada di benak mommies. Takut kalau suami nggak setuju kita memulai kegiatan baru. Kata Mbak Ratih, mommies coba dulu kasih proposal ke pasangan, jelaskan kepada dia, apa sih, yang akan kita lakukan, terkait dengan mimpi kita ini. 

“Pasangan, itu akan ayem kalau terbukti bahwa yang kita lakukan baik, dan kita tetap setia sama dia. Kita tetap setia dengan komitmen kita bersama keluarga. Itu dia akan tenang sendiri. Misalnya di awal, pasangan menantang kita, tenang saja. Karena kita sendiri, harus betul-betul yakin, yang kita lakukan itu dasarnya adalah untuk kebaikan. Bukan untuk egois,” papar Mbak Ratih lebih lanjut.

Saya setuju dengan Mbak Ratih, kenapa perempuan itu perlu eksplorasi. Nggak apa-apa banget mencoba hal-hal baru, kata Mbak Ratih. Kalau di tengah jalan nggak cocok, itu berarti bukan passion kita. Yang penting hal-hal yang baik, ya, mommies, bukan hal yang merugikan apalagi merusak.

Sebetulnya menurut saya tinggal dikenali, karena sesungguhnya menurut Mbak Ratih, passion itu sudah ada di dalam diri masing-masing orang. Passion yang memberi semangat dan energi positif.

Tapi, biasanya nih, mommies ada perasaan bersalah pas menghabiskan waktu untuk passion kita itu. Ayooo, ngaku aja deh, ahahaha. Nah ternyata, dengan kita menjadi lebih efisien, di waktu-waktu tertentu, ini membuat kita mempunyai waktu lebih yang kita bisa investasi di situ. Jadi bisa meminimalkan perasaan bersalah tadi.

Alasan Seorang Ibu Harus Berani, Mengejar Mimpi yang Sempat Terpendam - Mommies Daily

Misalnya, di salah satu pekerjaan rumah, seperti mencuci piring yang sering kali numpuk lemak, minyak dan teman-temannya ini. Mesti dicari caranya, supaya menghilangkan semua noda bandel tadi di piring dengan cepat! Pertolongan pertama saya di rumah, udah paling benar pakai Sunlight. Cuci piring dan seabreg perlengkapan masak, jadi lebih cepat. Imbasnya, #sayasempat meluangkan waktu, setidaknya 15 menit perhari untuk investasi waktu menggali potensi diri saya. Kalau, saya sekarang lagi senang berkebun, hihihi.

Pesan untuk para pak suami, yuk dukung istri-istri tercinta untuk kembali mewujudkan impian lama pasangan. “Kalau mendukung perempuan, kontribusinya bukan hanya untuk dirinya tapi bisa sampai untuk keluarga dan negara. Berawal dari anak-anak yang kita didik, yang berasal dari rahim perempuan. Dan itu bisa berawal dari ibu-ibu yang bahagia, yang bisa menggali passion-nya,” ujar Ratih lagi.

Kalau mommies, apa passion yang terpendam cukup lama dan ingin kembali dihidupkan?


Post Comment