Bedanya Bayi Tabung dan Inseminasi Buatan - Mommies Daily

Bedanya Bayi Tabung dan Inseminasi Buatan

Ditulis oleh: Lariza Puteri

Karena masih suka ada yang menganggap ini adalah teknologi yang sama, padahal sebenarnya sangat berbeda, lho!

Dua tahun lalu, kantor tempat saya bekerja cukup heboh dengan seorang karyawan yang kemudian memutuskan untuk melakukan inseminasi. Kehebohan yang terjadi sebetulnya ke arah yang lebih baik. Sebab, ia memutuskan untuk tak lagi merokok (teman saya laki-laki), hanya mengonsumsi makanan yang sehat saja (artinya no more MSG alias no snack ringan yang rasanya istimewa itu :D), lebih banyak olahraga dan rajin bolak balik ke dokter. Kami, sih, mendukung 100%, terlebih karena setelah 5 tahun pernikahan, ia dan istri belum juga mendapat kesempatan untuk hamil.

Saya sempat bertanya, “Kenapa nggak langsung bayi tabung aja?” Jawabnya, karena bayi tabung lebih mahal, hihi. Masuk akal, sebab biaya bayi tabung bisa mencapai 80 juta, meskipun ada juga harga lebih murah. Selain itu, inseminasi juga dianggap lebih alami dibandingkan bayi tabung. Perbedaan lain antara bayi tabung dan inseminasi saya tanyakan pada dr. Ade Permana, SpOG.

Bedanya Bayi Tabung dan Inseminasi Buatan - Mommies Daily

Proses

Dalam prosesnya, inseminasi dilakukan dengan cara memasukkan sperma yang telah disiapkan ke dalam rahim menggunakan kateter. Dengan inseminasi akan membantu memperpendek jalan sperma untuk bertemu dengan sel telur. Sebelum dilakukan transfer sperma ke dalam rahim, akan dilakukan dulu preparasi sperma atau sering disebut dengan washing. Sperma dibersihkan dari air mani dan dipilih sperma dengan kualitas terbaik. Setelah dibantu masuk, sperma akan jalan sendiri ke sel telur hingga pembuahan terjadi secara alami.

Sedangkan pada bayi tabung, prosesnya lebih kompleks. Mulai dari proses stimulasi ovariumnya dengan dosis yang lebih tinggi, kemudian panen sel telur. Selanjutnya akan dilakukan kultur embrio dan langkah terakhirnya, embrio dengan kualitas baik akan ditransfer ke dalam rahim. Jadi, sampai di rahim sudah dalam bentuk embrio. Biasanya dalam proses bayi tabung, pembuahannya akan berlangsung 2-3 hari baru kemudian dimasukkan ke dalam rahim.

Syarat

Untuk dilakukan inseminasi, sebaiknya jumlah sperma lebih dari 5 juta/cc, atau setelah preparasi didapatkan jumlah sperma yang baik lebih dari 1juta/cc. Pengambilan sperma biasanya tergantung pada waktu ovulasi, agar bisa langsung ditanamkan ke dalam rahim. Nah, untuk mendapatkan sperma yang baik ini, dr. Ade menyarankan untuk menjalani pola hidup sehat, istirahat yang cukup dan mengonsumsi makanan seimbang. Bahkan bila perlu, bisa minum antioksidan untuk mencegah radikal bebas. Mengingat kiya hidup di Jakarta gudangnya radikal bebas.

Kalau pada bayi tabung, syarat mutlaknya adalah harus didapat sperma dari suami. Pengambilan sperma ini tak tergantung pada siklus ovulasi, namun siklus ovulasi akan tetap diperiksa agar dokter dapat mengambil sel telur matang untuk bisa dibuahi. Syarat lain yang diperlukan untuk memutuskan bayi tabung adalah jika saluran tuba istri tertutup dan jika jumlah sperma pria sangat sedikit, di bawah 1 juta/cc. Namun, menurut dr. Ade, terkadang bila sperma jumlahnya kurang dari 5juta/cc pun sudah disarankan untuk bayi tabung.

Lamanya proses

Inseminasi lebih cepat yaitu satu hari. Tapi untuk persiapan, dibutuhkan waktu mulai dari awal siklus haid istri, sebab dokter akan melakukan stimulasi ovarium lebih dulu untuk mendapatkan jumlah dan kpualitas sel telur yang baik. Sedangkan pada bayi tabung, dibutuhkan waktu satu siklus haid istri.

Tingkat keberhasilan

Bila dibandingkan antara inseminasi dan bayi tabung, menurut dr. Ade, bayi tabung memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi. Untuk tingkat keberhasilan inseminasi sangat tergantung pada masalah kesuburan dan usia pasangan.

Dokter Ade juga mengatakan banyak faktor yang menjadi pertimbangan kapan pasangan disarankan untuk inseminasi maupun bayi tabung. Jika melalui pemeriksaan diketahui jumlah sperma kurang dari normal, dan saluran tuba baik maka pasangan akan disarankan untuk inseminasi. Namun, bila jumlah sperma sangat sedikit, saluran tuba tertutup, dan usia wanita sudah mendekati 35 tahun maka akan disarankan untuk langsung mengikuti program bayi tabung.


Post Comment