Anakku Mendapat Tekanan dari Keluarga Sendiri, Harus Bagaimana?

Saat anak kita mendapatkan tekanan dari keluarga sendiri, berupa dituntut untuk bersikap sempurna. Di sisi lain, si kecil masih ada di tataran usia yang eksplorasi banyak hal. Bagaimana kita sebagai orangtua harus bersikap?

Suatu hari, ada seorang teman yang curhat tentang anaknya yang akhir-akhir ini sedang mendapatkan perlakuan kurang nyaman dari keluarga sendiri. Si kecil yang masih berusia batita, dituntut untuk (selalu) menjadi contoh yang baik untuk saudara sepupunya yang hanya terpaut satu tahun lebih muda.

Anakku Mendapat Tekanan dari Keluarga Sendiri, Harus Bagaimana? - Mommies Daily

Padahal dari segi usia, mommies juga tahu sendiri, kan. Anak usia di bawah 5 tahun lagi senang-senangnya eksplorasi. Ditambah, kalau anak laki-laki jauh lebih lincah dari anak perempuan.

Di suatu keadaan, sebut saja Galang, mendapatkan tekanan yang bertubi-tubi dari lingkungannya, karena ia sedang bermain lompat-lompatan dari kursi yang jaraknya pendek ke ubin.

Sejujurnya teman saya ini bingung, bagaimana harus bersikap. Karena yang ia hadapi dari segi usia, juga lebih tua dari dirinya. Mencoba menjawab keresahan teman saya ini, akhirnya saya mencoba mengulik informasi dari Mbak Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Psikolog Anak dan Keluarga.

Menurutnya, fokusnya ke anaknya saja, misalnya dia lagi lompat-lompat, dan ada yang bilang: “Galang jangan lompat-lompatan, dong.  Nanti adik-adik jadi niru.” Nah, kita sebagai orangtua bisa bilang “Oh iya, ini Galang lagi kasih contoh lompat yang aman. Nanti habis ini Galang akan duduk kok.” Atau “Nanti sebentar lagi Galang juga duduk, kok, kan mau makan.” “Seolah-olah kita ngomongnya ke Galang saja, nggak ngomong ke orang rumah yang sedang menuntut sesuatu dari Galang. Tapi sebenarnya kita sedang mentralisir keadaan,” jelas Mbak Vera.

Ya ngerti sih, kalau saya memposisikan di posisi teman saya, yang ada juga gemas. Rasanya kok “gerah”, anak sendiri dituntut ini dan itu, padahal ya masih kecil juga kan. Kecuali usianya terpaut jauh, yang satu anak balita, yang satu SD atau SMP.

Tapi kalau mau dikonfortir juga agak sulit kata Mbak Vera. “Karena setiap orang punya pemikiran yang beda-beda. Dan akan habis waktu dan energi, nanti yang ada malah debat kusir. Mending fokus sama anak, lambat laun, mereka akan lihat sendiri. Ternyata anaknya baik-baik saja kok.  Oh ternyata, benar kok caranya dia. Jadi fokus aja ke anaknya, selama kita yakin, apa yang kita lakukan benar,” papar Mbak Vera lebih lanjut.

Fokus ke anak juga punya tujuan lain, supaya mommies nggak tambah masalah dengan pihak lain keluarga lainnya. Nambah, kepusingan aja kan, nantinya kalau reaksi kita malah makin melebar nggak karuan.

Pesan lain dari Mbak Vera, yang saya garis bawahi untuk teman saya ini, “Sesekali sebagai orangtua kita butuh lho, pakai kaca mata kuda dan earphone!”. Artinya, selama kita yakin, dengan apa yang kita lakukan baik ke anak kita. Nggak peduli deh dengan apa omongan orang lain. Karena orang lain nggak tahu, apa yang kita hadapi, dan kita lalui, atau kenapa anak kita biarkan melakukan sesuatu.

Supaya ada azas adil, untuk kedua belah pihak. Mbak Vera juga menambahkan, jika anak kita sudah di luar batas perilaku normal, harus mendapatkan invervensi dari orangtua.

Kapan anak harus kita intervensi?

Ada masa-masanya sebagai orangtua, kita wajib intervensi ke anak.  “Catatannya ketika tindakan anak berisiko menyakiti dirinya sendiri , orang lain atau merusak sesuatu. Jadi kalau kita lihat perilakunya memungkinkan salah satu dari tiga hal itu terjadi, kita harus intervensi.” Kalau tindakan si kecil yang di bawah lima tahun membahayakan, kita sebagai orangtua langsung bergerak saja, kata Mbak Vera. Apalagi anak di bawah lima tahun nggak mempan dengan bahasa verbal.

Lain hal kalau anak kita sudah besar. Karena sudah bisa diajak komunikasi, tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Misalnya Mbak Vera mencontohkan, kalau ada Tante A mau main ke rumah, atau sebaliknya. Kita bisa bilang ke anak:

“Kan nanti ada Tante A akan datang, nanti bawa anak-anaknya. Nah, nanti kakak kasih contoh yaa. Gimana caranya rapihin mainan.”

Namun angle-nya dia sebagai kakak, dengan begitu, dari segi psikisi dia akan melakukannya tanpa tekanan. Melainkan dengan rasa bangga, karena telah diberi tanggung jawab.

Yaaa, kasus-kasus model seperti ini, pasti ada ya mommies. Harus berani kita hadapai, namanya juga interaksi dengan keluarga besar. Ada laaah, itu masanya ada gesekan. Tinggal bagaimana kita mempersiapkan mental sebagai orangtua, tutup Mbak Vera :)


2 Comments - Write a Comment

Post Comment