Raising a Healthy Kids in Unhealthy World

Urusan drama politik berbau SARA yang seakan tak pernah berujung, penembakan masal di sana sini, sebagian orang yang makin mudah saling menghakimi, dan kegilaan lainnya di sekitar kita. Sebagai orangtua apa yang bisa kita perbuat, supaya kecil tumbuh dengan wajar  dan sehat di tengah “kegilaan” yang tak bisa kita kontrol 100%?

Di tengah meeting editorial, Fia, Managing Editor, Mommies Daily mengungkapkan kegelisahannya tentang situasi di sekitar kita, yang menurutnya makin nggak sehat. Ini nggak terbatas kesehatan fisik saja. Cakupannya lebih luas. Fokus Fia, lebih kepada, bagaimana membesarkan anak di tengah situasi yang makin menggila. Beberapa contohnya sudah saya singgung di atas.

Raising a Healthy Kids in Unhealthy World - Mommies Daily

Contoh kasus yang baru saja terjadi, penembakan yang terjadi di Las vegas baru-baru ini. Adisty, sempat menulis di artikel Menjawab Pertanyaan Anak Tentang Tragedi Las Vegas, di akhir artikel yang kepincut dengan pernyataan dari Mbak Vera Itabiliana, Psikolog Anak, “Orangtua perlu kasih penjelasan ke anak-anak kalau masih banyak orang baik di dunia ini dan dia harus jadi salah satunya.” Yap? Dunia boleh saja makin “menggila”, tapi mari jadi bagian yang tetap adem.

Saya dan Mbak Adis, yang dengar juga jadi mikir, sih. Apa yang bisa kita bekali sebagai orangtua. Bukan yang muluk-muluk, kok. Sesuai kapasitas sebagai orangtua, yang pingin anaknya tumbuh jadi anak yang dapat memanusiakan manusia dan punya karakter yang kuat.

1. Biarkan anak berani bersuara

“Kalau kita ada di pihak yang benar, kenapa harus takut?” Kalimat dari papa, yang sampai sekarang terus terngiang-ngiang di kepala saya. Dan nyatanya, ada dampak yang saya rasakan sekarang. Saya jadi pribadi yang nggak takut untuk menyerukan pendapat, kalau memang itu dirasa tidak sesuai dengan kata hati saya. Contoh, di sekeliling saya, adalah Nadila Dara, sosok anak millennial di kantor Female Daily Network. Ia berani bersuara tentang sikon politik beberapa waktu lalu. Sifat kritis yang sensitive dengan lingkungan sekitar, nantinya bisa membuat si kecil, jadi pribadi yang punya karakter yang kuat. Nggak, “Iya, iya saja,”, tapi punya sikap!

2. Berhenti memberikan label

Saya miris jika masih ada orang yang entengnya bilang ke anak, “Ini anak nakal banget, deh, susah diatur!.” Lihat-lihat dulu, dong, usia anaknya berapa? Dan hati-hati, lho, ucapan adalah doa! Misalnya, kalau si anak masih di bawah 5 tahun, ya memang sedang masa-masanya eksplorasi. Jika ini terus dilakukan, sama saja kita memberikan label buruk kepada anak, padahal bukan maksud si kecil menjadi pribadi yang demikian. Ingat, mommies, “Children see, children do.”

3. Nobody’s prefect!

Sudahlah, tak usah stress kalau sesekali anak menyantap makanan siap saji, main kotor, atau hujan-hujanan.  Mau segimana pun kita melindungi anak, dia selalu punya caranya sendiri, melanggengkan keinginannya, betul nggak? Hahaha. Baik kita orangtua, atau anak, bukan makhluk tanpa cela. Dengan bersikap agak “longgar” seperti ini, mommies jadi meminimalkan stress, saat melihat, mendengar atau membaca kejadian di luar sana, yang bertentangan dengan nilai-nilai keluarga kita.

4. Jangan sibuk saling menyalahkan

Menurut hemat saya, ini bisa tercermin saat antara kita dan pasangan terjadi konflik. Alih-alih mencari solusi dengan cara yang bijak, malah sibuk menyalahkan, dan di depan anak pula berantemnya *__*. Ngerinya mind set anak akan terbangun “Ooh, jadi gini ya, cara menyelesaikan masalah? Dengan sibuk saling menyalahkan.” Pun, jika anak melakukan kesalahan, jangan lantas menghakimi. Tanya dulu, (misalnya), “Kak, coba tolong cerita ke Bunda, kenapa ini minumannya bisa jatuh?.”

5. Kesehatan emosi anak juga penting!

Fia, punya kebiasaan membawa anak-anaknya ke psikolog anak, dengan atau tanpa masalah. Ia memperlakukan kesehatan psikis anak-anaknya, sama penting seperti kesehatan fisik. Ini sih, yang menurut saya belum familiar di kalangan keluarga Indonesia. Seperti yang pernah saya paparkan di artikel Sudah Yakin Jiwa Anda dan Keluarga Sehat?

Menurut dr. Nova Riyanti Yusuf SpKJ ada 3 indikator dari standar WHO seseorang bisa dikatakan memiliki jiwa yang sehat:

  1. Sehat fisik, termasuk memiliki perasaan sehat dan bisa merasa bahagia.
  2. Bisa menerima kelebihan dan kekurangan orang lain, juga menerima kelebihan dan kekurangan dirinya sendiri.
  3. Dan yang terakhir sanggup berkompetisi dengan orang lain, sekaligus kuat menghadapi tantangan hidup.

Segitu pentingnya, kan, kesehatan jiwa anak. Soalnya pengaruhnya juga akan sampai dia besar. Apalagi poin ketiga yang disinggung dr. Nova. Zaman sekarang, apa kabarnya kalau anak nggak sanggup berkompetisi, dan kuat menghadapi tantangan hidup? Hmmm, nak! mudah-mudahan bekal kami cukup ya, buat kalian berani dan percaya diri berhadapan dengan dunia yang nantinya, kami juga tidak bisa prediksi akan seperti apa. 

Mungkin mommies punya versi lainnya? Silakan utarakan pendapat mommies, ya :) 


Post Comment