Ketika Ibu Harus Tugas Luar Kota

Ditulis oleh: Ficky Yusrini

Saat dapat tugas keluar kota untuk urusan pekerjaan, bagaimana trik agar anak nggak rewel dan rumah juga beres selama ditinggal? Saya punya triknya!

Sebagai ibu bekerja, meninggalkan anak seharian untuk ke kantor saja sudah jadi sebuah tantangan yang berat untuk saya. Ditambah ketika saya harus keluar kota selama beberapa hari. Situasinya nggak segampang ritual pergi ke kantor.

Pertama kali saya meninggalkan anak untuk tugas adalah saat Pilar berusia 8 bulan untuk business trip selama 8 hari ke luar negeri. ASI sedang deras-derasnya, dan anak sedang nempel-nempelnya. Duh, pengalaman terberat yang pernah saya alami. Mungkin yang usia anaknya berbeda dengan Pi juga ada tantangan tersendiri ya!

Selain harus menyiapkan support system pada orang terdekat, saya juga menyiapkan Pi untuk meminimalkan efek shock, yang mengakibatkan ia cranky dan rewel. Apa saja yang perlu dilakukan?

Ketika Ibu Harus Tugas Luar Kota  - Mommies Daily

Kabari anak tentang waktu kepergian tugas
Balita dan anak-anak prasekolah belum mengerti konsep waktu. Mereka belum bisa membedakan antara tiga hari atau seminggu. Menurut psikolog Stephanie Mihalas, Ph.D, anak-cenderung cemas ketika tahu orangtua akan bepergian meninggalkannya, jadi pemberitahuan menjelang hari H akan mengurangi kekhawatirannya. Coba beritahu mereka tiga sampai empat hari sebelumnya.

Beritahu tentang aktivitas Anda di luar kota
Sebagian orang mungkin berpikir, “Ah, cuma anak kecil. Tahu apa, sih.” Dulu, ketika saya mengajak anak saya yang masih batita berdiskusi tentang pekerjaan saya, nenek saya yang sedang berkunjung sempat menertawakan apa yang saya lakukan. Tapi, saya sendiri percaya, anak sejatinya adalah makhluk yang cerdas. Mungkin informasi yang kita berikan tidak perlu detail sampai urusan event atau klien, cukup tentang suasana kota yang akan didatangi dan berapa lama kita harus pergi. Tunjukkan lokasi kota tujuan kita di peta atau foto-foto kota tersebut, agar anak bisa punya gambaran, akan lebih baik.

Jaga rutinitas
Buat rutinitas anak senormal mungkin. Jika anak dititipkan pada baby sitter atau kerabat, beritahu jadwal rutin anak, dari mulai bangun tidur, makan, mandi, sampai jam tidurnya. Usahakan tidak ada hal yang di luar kebiasaan.

Tinggalkan benda kesayangan ibu (atau ayah)
Berikan anak benda kesayangan yang bisa mengingatkannya pada kita selama pergi. Bisa T-shirt, daster, atau buku kesayangan mommies. Selain menjadi obat penawar kangen, benda tersebut bisa mengurangi kecemasan pada anak. Saya juga membawa baju anak dalam koper. Yang berat saat berjauhan bukan cuma anak, tapi juga ibunya. Percayalah, orangtua juga butuh penawar sangat kangen berat pada anak.

Berpamitan
Pergi diam-diam tanpa sepengetahuan anak, hanya akan membuat perpisahan menjadi lebih berat. Ada baiknya berpamitan dengan cara yang menyenangkan. Memeluk dan mencium anak, lalu katakan, “Ibu sayang kamu. Sampai ketemu lagi ya.” Lalu berangkat. Kalau ibunya santai dan tenang, anak juga akan kebawa tenang.

Berkomunikasi selama pergi
Usahakan beri waktu khusus untuk berkomunikasi dengan anak setiap harinya. Anak bisa mendengar suara kita dan berbincang dengan kita, akan membuatnya senang. Untuk hal-hal yang remeh, percayakan saja pada orang kepercayaan di rumah. Tidak perlu Anda mengontrol segala hal situasi di rumah dari jauh.

Waktu khusus setelah pulang
Setelah perjalanan jauh dan padatnya jadwal kesibukan di luar kota, wajar jika sampai rumah kita ingin buru-buru istirahat. Tapi, begitu melihat ibunya pulang, yang ada anak langsung ngerecokin dan mengajak main. Hindari menolak ajakan anak, karena bisa membuatnya kecewa. Luangkan waktu khusus untuk anak, setidaknya 15-20 menit, untuk memeluk, mencium, dan mendengarkan aktivitas anak selama Anda pergi.


Post Comment