Asiknya Tinggal di Desa

Ditulis oleh: Dona Kamal (dongengdonat.blogspot.co.id)

Tinggal di daerah pinggiran alias desa ternyata banyak banget hal yang bisa kami syukuri. Saya sih nggak minder tinggal di desa :D.

Tahun ini alhamdulillah akhirnya saya dan suami memutuskan untuk menjadikan Kabupaten Bandung Barat sebagai basecamp alias tempat tinggal keluarga kami. Awalnya sih pengen jadi warganya Pak Ridwan Kamil, walikota Bandung yang kece itu, tapi pertimbangan harga properti untuk lokasi di pusat kota dan kemacetan parah di beberapa titik kota Bandung yang sering terjadi saat jam-jam sibuk membuat kami memutuskan untuk membeli rumah di daerah yang agak minggir.

Secara administratif, rumah kami masuk ke dalam wilayah Kabupaten Bandung Barat. Walaupun nggak terletak di Kota Bandung, tapi alhamdulillah juga nggak terlalu terpencil sih walaupun di desa. Jalan raya di depan kompleks pun sudah dilalui angkutan umum, sudah ada Indomaret dan Alfamart persis di depan gerbang kompleks, penjual makanan kaki lima pun ramai. Klinik dokter umum dan sekolah bertebaran di sepanjang jalan menuju kompleks, rumah sakit pun dapat ditempuh dengan 15 menit berkendara. Sementara untuk menuju Kota Bandung, dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih 30 menit dengan kendaraan, itu sudah dalam kondisi jalan ramai loh. Kalo sepi dan ngebut bahkan bisa 15-20 menit.

Overall, walaupun nggak jadi terdaftar sebagai warganya Kang Emil, kami bersyukur banget deh bisa tinggal di desa yang nggak terlalu jauh dari kota ini. Kenapa?

Asiknya Tinggal di Desa - Mommies Daily

1. Udara di lingkungan rumah masih minim polusi

Karena tinggal di pedesaaan yang terletak di dataran tinggi, alhamdulillah kami masih bisa menikmati rindangnya pepohonan di sekitar komplek. Udaranya pun masih sejuk. Temperatur udara yang ala ala pegunungan (karena memang desanya di gunung) membuat kami irit listrik karena nggak perlu AC. Bahkan kalo musim hujan, kami masih sempat merasakan kabut, loh!

2. Masih bisa menikmati sawah dan kebun

Sebagai orang yang dari kecil hingga dewasa tinggal di kota, saya agak-agak excited kalo liat sawah atau kebun. Nah, di sekitar komplek perumahan kami bertebaran kebun, mulai dari kebun brokoli, jagung, cabai, labu siam, pisang, selada, sampai kebun bunga mawar. Aahh, so sweet banget kan! Bahkan di jalan masuk ke komplek ada sawah terbentang luas bagai permadani di kaki langiiitt…. :p Lingkungan seperti ini membuat saya bersyukur sekali karena anak kami, Gendra (4y), dapat melihat langsung dan belajar tentang berbagai macam pohon buah dan sayur. Beda dengan saya dulu yang hanya bisa melihat dan belajar lewat gambar.

3. Masih bisa menemukan binatang-binatang yang sudah jarang ditemukan di perkotaan

Asiknya Tinggal di Desa - Mommies Daily

Sudah pernah bertemu dengan kunang-kunang, belalang sembah, katak pohon, atau siput yang nggak bercangkang? Gendra sudah pernah, yeay!! Dan semua binatang itu ia lihat saat kami mengeksplore lingkungan di sekitar kompleks. Sebagian binatang-binatang yang sebelumnya hanya bisa ia lihat lewat gambar di buku, akhirnya bisa bertemu langsung tanpa harus pergi jauh dari rumah. Kami bahkan masih bisa melihat tupai dan monyet liar bergelantungan di pohon besar di kebun sebelah kompleks. Seru!

Selain ketiga hal itu, tetangga yang baik, tim security kompleks yang mumpuni, dan tentu saja tukang sayur yang available setiap hari (emak-emak banget hahaha!) menjadi hal lain yang harus disyukuri dari lingkungan tempat tinggal kami di desa ini. So, tinggal di desa, why not!


Post Comment