Baim, Sosok Ayah yang Selalu Punya Cara Membangun Kedekatan dengan Keluarganya

Saya jatuh cinta dengan pasangan ini. Pasangan suami istri yang selalu terlihat selalu hangat, entah saat kami bertemu di sebuah acara press conference, atau sekadar melihatnya di layar kaca. Mereka adalah Baim dan Artika Sari Devi. Kali ini saya pun punya kesempatan untuk ngobrol dengan ayah dua gadis cantik Sarah Ebiela Ibrahim  dan Dayana Zoelie Ibrahim.

Beberapa tahun lalu, saya sudah sempat menulis mengenai sosok ayah bernama lengkap Ibrahim Imran, atau yang lebih dikenal dengan sapaan Baim. Terus terang saja, saya adalah salah satu fansnya :D

Hampir setiap hari saya melihat postingnya di Instagram. Dari sana saya bisa menilai kalau Mas Baim merupakan sosok ayah dan suami yang hangat. Punya gambaran, bagaimana dirinya memperlakukan istri dan kedua puterinya.

Baim _ mommiesdaily

Nggak percaya? Langsung saja deh, stalking @baimguitar , hahaha. Kalau saya sih, jadi penasarannya sebenarnya bagaimana sih cara Mas Baim membangun kedekatan dengan kedua anaknya dan tentu saja dengan istrinya, Mbak Artika Sari Devi.

Beruntung, di tengah kesibukannya sebagai musisi dan ayah rumah tangga, mengantar jemput anaknya, saya sempat berbincang dengannya. Ya, meskipun hanya lewat sambungan telepon, tapi toh, saya tetap bisa mendapatkan insights menarik.

Di awal perbincangan, pria yang sempat menjadi vokalis Ada Band dan membentuk band The Dance Company ini bercerita kalau tengah disibukkan dengan promo single album solonya. Berikut kutipan obrolan kami,

Hai, Mas Baim, ceritain sedikit dong lagi sibuk apa aja sekarang ini?

Kesibukan masih sama, main band sebagai musisi dan jadi seorang ayah. Hampir setiap hari antar jemput anak ke sekolah.

Ceritain dong soal single ‘You Were There’ nya…

Itu lanjutan sebagai musisi, jadi ini adalah solo album Baim, baru rilis 24 Agustus kemarin, sebelum rilis album memang sampai sekarang lagi promo single pertamanya ke TV dan radio. Sebenernya single ini menceritakan hubungan ke pasangan, ke pacar atau istri. Intinya sih ke pasangan, tapi saya memang ingin mengubahnya saja ke arah hubungan seorang ayah dan anak. Mood saya mungkin lagi ke sana, lebih ke parenting, kepikiran konsep apa yang paling pas dengan lagu dan musiknya dengan pianonya. Ceritanya dan idenya dari Artika, mungkin karena istri saya ini senang nonton drama Korea kali, ya. Memang cerita yang digambarkan terlihat sedih, tapi saya berharap banyak pelajaran yang bisa diambil dari video tersebut. Sudah liat videonya belum, Mbak?

Sudah, dong, Mas. Sama seperti banyak komentar yang ditulis di Instagram Mas Baim, buat saya cerita dalam video klipnya memang ‘ngena’ banget, sih. Bikin mellow dan sepertinya related dengan kehidupan orangtua.

Ya, makanya kalau memang kita sekarang masih punya kesempatan bisa ketemu dengan orangtua, ibu bapak masih ada, ya dimanfaatkan sebaik-baiknya. Karena saya bapak, makanya ceritanya seperti itu. Begitu pun sebaliknya, sebagai orangtua kita memang harus memanfaatkan waktu yang ada buat anak dan keluarga.

Kalau Mas Baim sendiri cara untuk bonding dengan anak-anak, seperti apa?

Waktu saya di rumah itu kan sebenarnya bisa 24 jam, tapi kalau memang ada kerjaan, bisa 3 haru atau seminggu nggak pulang-pulang, seseuai dengan lagu yang dulu. Tapi sebisa mungkin, saya sudah jadwalkan waktu dengan anak, ya seperti makan obat saja harus sesuai jadwal. Kalau anter itu harus sama ayah,  dan jemput sekolah kalau memang bisa, juga saya lakukan. Jadwal musik itu kan biasanya sore dan malam, jadi sisa di luar itu memang harus saya manfaatkan untuk bisa bersama anak-anak.

Menjadi ayah masa kini, apa yang dirasakan sebagai tantangan paling besar?

Ayah masa kini ya? Ya kalau saya lihat dan bandingkan dengan ayah zaman dulu sebenarnya yang paling berat itu bagaimana kita mengantisipasi teknologi, jangan sampai menjadikan teknologi sebagai musuh juga , sih. Kadang saya melihat banyak orangtua yang memberikan gadgetnya untuk anak-anaknya dari pada menghabiskan waktu bersama anak, dengan berbagai  alasan seperti sibuk. Tapi buat saya, sebisa mungkin ya kalau memang ada waktu bersama-sama, dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Kalau di rumah menerapkan rules untuk menggunakan gadget nggak, Mas?

Kalau akhir pekan, saat Zoey sedang mau lihat boneka yang lagi in biasaynya lihat dari you tube. Sebenarnya saya juga memanfatatkan teknologi untuk bonding juga ke anak, kok. Bantu anaka kerjain PR juga bisa lewat internet. Ya, paling mentok sampai di situ. Kalau memang yang lain, paling memang hanya akhir pekan saja. Itu pun masih dalam pengawasan dan atas izin lebih dulu. Jadi saya dan Artika tahu apa yang sedang mereka lihat. Saya takut kalau umur segini ini kemudian melihat pop up yang isinya kontenya bukan untuk usia anak-anak. Itu kan bahaya.

Bagaimana dengan kekhawatiran sebagai ayah daru dari dua anak perempuan.

Mungkin sama seperti orangtua lainnya, kekhawatiran itu akan sama apalagi yang punya anak perempuan. Saya takut soal pergaulan saja, sih, makanya kita harus tahu siapa temennya bagaimana pergaulan anak-anak. Bukan karena merasa paling benar, tapi kan memang harus diawasi. Mengenali temen-temannya.

Dalam pola asuh, pondasi apa sih yang selalu Mas perhatikan dalam mendidik anak?

Untuk ahlak dan segala macemnya sama memang lebih banyak menyerahkannya ke istri saya, saya anggap dia lebih mengerti  dan mengajarkan anak di area itu. Istri saya memang punya nilai lebih di ruang itu. Untuk membina akhlak dan agama memang kita nomer satukan. Contohnya, bagaimana anak-anak memang harus sopan dengan orang tua yang ada di sekelilingnya. Pendidikan budi pekerti itu memang sangat penting buat kami. Sebelum dia ingin dihormati orang lain, anak-anak harus bisa belajar bagaimana menghormati orang lain lebih dulu.

Di kacamata Mas Baim, ada nggak sih, barometer orangtua sukses seperti apa?

Wah, untuk formula orangtua sukses itu sebenernya saya nggak tahu seperti apa. Dari pertanyaan Mbak ajukan itu kan juga mengerah pada formula menjadi orangtua seperti apa, basicly kalau saya memang pada dasarnya belajardari orantua sendiri. Bagiamana hubungan kita dulu dengan orangtua memang saya lihat sangat berpengaruh. Sejauh ini, menurut saya jika ketika anak-anak sudah besar tapi masih sayang dan hormat dengan orangtuanya, itu sudah salah satu tanda orangtua sukses.

IMG_20170929_083614

Mas Baim, sendiri sosok ayah seperti apa sih?

Umh apa ya… ya maunya bisa dilihat sama anak bukan bapak yang galak, sebisa mungkin bisa dekat dengan anaknya. Jadi saat anak dengan ayahnya bukan malah merasa takut, tapi lebih segan saja. Jadi mereka bisa terbuka dengan saya.

Oh ya banyak yang bilang kalau setelah ada anak, semakin usia pernikahan bertambah justru hubungan dengan istri jadi terlupakan. Bagaimana pandangan Mas Baim?

Saya sih nggak lihat melihat kondisi itu ya, justru saya lebih merasa lebih dekat dengan istri. Sejak awal kita kan sudah punya komitmen, dan memang tujuan kita sama,  bagaimana untuk mengasuh dan membesarkan anak sama-sama. Jadi memang harus bisa menjalannya bersama. Memang perlu banyak hal-hal yang kita lakukan bersama, bagaimana istri memperlakukan suami, dan sebaliknya, bagaimana suami memperlakukan istri. Jadi memang nggak boleh melupakan hal-hal yang sering kami lakukan saat zaman pacaran.

Contohnya hal seperti apa, sih, Mas?

Terutama dalam berbahasa sih, ya. Bagaimana kita berkomunikasi. Kata orang saat pacaran banyak yang cara ngomongnya halus, sementara saat menikah tidak. Buat kami nggak seperti itu. Buat kita harus sama. Bahkan ucapan sayang itu masih perlu diterapkan. Selain itu saya selalu berusaha untuk membuat istri saya senang dan tertawa.

Dengan membuat guyonan seperti di Instagam Mas Baim ya?

Hahahaa… buat saya humor itu memang penting dalam pernikahan, jangan terlalu serius. Serius itu perlu tapi ya hanya untuk hal-hal yang memang perlu diseriuskan saja, kalau selebihnya nggak usahlah. Tujuan saya itu punya social media, selain memang ingin memberikan informasi kalau memang follower-nya banyak, kemudian bisa terhibur dengan postingan saya, ya itu juga bagus. Kenapa nggak?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Post Comment